Soerau Batoe di Hilir Kamis, Jan 15 2009 

Semendjak berdirinja soerau ini, soedah kira2 45 tahoen, entah apa2 jang mendjadikan halangannja tiadalah koendjoeng soedah2nja; sepandjang chabar boekan sedikit oeang boeat pengerdjakan soerau itoe soedah berbilang riboe roepiah; tapi pekerdjaannja tidak djoega sempornanja; boleh di kata setiap2 tahoen orang2 jang maoe bekerdja mehiraukan dan meichtiarkannja djoega, sebagai pada tahoen dahoeloe dengan ichtiar dan soesah pajah ankoe Hadji Abdul Chalik toeankoe Imam mendjalankan lijst peminta derma boeat pengganti hatap Idjoek dengan hatap zink karena soerau itoe banjak botjor dan tiris hatapnja, jang mana segala pekajoean seperti kasau, lahe, paran dan lain2 soedah lapoe’2: maka sekarang berkat oesahanja ankoe Datoe’ Bagindo Kajo pensioen, telah soeka poela memboeat soesah dan pajah pada diri baliau beichtiar mentjari akal serta memboeat banjak ketje’ [propaganda] dengan isi negeri berija2 hendak malepoh dinding soerau itoe karena beliau ada merasa maloe besar benar melihat jang sedemikian itoe sebab soedah berbilang poeloeh tahoen poela soerau itoe ta’ soedah2nja; setelah semoefakat dengan densanak2 beliau ninik mamak panghoeloe nan doea poeloeh ampat berpergianlah beliau kian kemari disekoeliling negeri dalam daerah Soematra Barat ini; itoepoen dapatlah oeang derma banjak sedikitnja boeat pengerdjakan pekerdjaan itoe, soenggoehpoen pada nan djaoeh2 jang ta’ sanggoep beliau koendjoengi sebagai katanah2 sebarang laoet adalah poela soerat beliau lajangkan akan ganti badan diri beliau moga2 tergerak poela hati segala sanak soedara jang djaoeh2 itoe mengirim oeang derma itoe, akan tetapi sampai pada dewasa ini beloemlah ada kiriman jang dari djaoeh2 perantawan itoe (jang ta’ dapat beroending dengan beliau) barangkali aga’nja segala ankoe2 itoe hendak menantikan pekerdjaan itoe dimoelai, dan djika soedah terdengar oleh beliau jang merantau itoe bahasa pekerdjaan malepoh itoe soedah dimoelai tentoelah aga’nja dengan segala soeka dan rela poela beliau2 mengirim dermanja; sekalipoen ta’ sampai soerat2 lijst itoe, kepada beliau2 karena kebanjakan djoega orang2 jang merantau aga’ djaoeh itoe berfikir hendak mendengar dan melihatkan pekerdjaan itoe telah dimoelai baroelah berkira2 hendak mengirim sedekahnja banjak sedikitnja maka berdoalah kami jang pendoedoek dikampoeng kita moedah-moedahan digerakan toehan hati segala sanak soedara dan ankoe-ankoe jang tinggal dirantau itoe soeka apalah kiranja hati ankoe-ankoe mengirimi soepaja semporna pekerdjaan soerau itoe karena soedah maloe benar rasanja kita kepada orang-orang jang berkoeliling, jang soerau itoe ta’koendjoeng soedah2nja djoega.

Maka sekarang pekerdjaan malepoh itoe soedah di lansoengkan dan hampir selasai hanjalah sedikit lagi jang bahagian disebelah loear jang beloem semporna akan tetapi oleh karena oeang derma tiada tjoekoep boeat pengganti pintoe2, djandela2 dan peloteng soerau itoe, lain tiada harapan kami menadahkan tangan arah kelangit mendoakan soepaja tergerak hati ankoe2 dan sanak soedara akan soedi memberi dermaboeat penjampaikan maksoed kami itoe seboleh2nja disegirakan poela pekerdjaan ini hendaknja karena djika dilihat dari koear djaoeh benarnja timpangnja sebab dinding soedah bersih dan netjis akan tetapi segala pintoe-pintoe dan djandela2nja soedah lapoek dari itoelah pengharapan kami pada ankoe-ankoe djoea soepaja semporna pekerdjaan orang-orang toea kita dahoeloe itoe sebagai meoelas goendjai jang orang-orang toea kita dahoeloe itoe telah rantangkan; sebab itoe berharap benarlah kami atas rahim dan pemoerahnja segala ankoe-ankoe dan segala sanak soedara memberi derma pelansoengkan pekerdjaan jang terseboet demikianlah kami poehoenkan.

Salam daripada kami

Pehoeni kampoeng

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen ke VI/No.2/Januari 1921

Pendidikan Gadis & Budjang Rabu, Jan 7 2009 

Pendidikan Gadis & Budjang
(KG 50 th yg lalu)

Gadis2 sampai umur kira2 13-14 tahun, hidup bebas dan leluasa dalam segala tindakan dan perdjalananja. Tidak ada jang menghalangi buat mengikutkan ibunja pergi kepasar Bukittinggi, atau pergi ke keperalatan2 dikampung. Sesudah melewati usia itu, sampailah saatnja buat di “kurung”, bukan dengan pengertian ditahan dirumah tutup, tapi menurut adat, tidak dibiarkan lagi kian kemari, dan harus tetap dirawat dirumah sadja. Sedjak waktu itu, pakaianpun dirobah pula. Pakaian bebe’ biasa sekarang diganti dengan baju kurung, satu matjam pakaian tidak ada bangunnja, seperti karung terlepas dengan dua lengan dan berlobang diatas, tempat meloloskan kepala. Bahkan kain badju itu, sekasar2nja. Kain sarungpun dipilih pula jg kasar. Pakaian dilengkapi dengan satu selendang kasar, atau kain tudung kepala. Dilarang keras menggunakan bahan kain halus, seperti sutera, satin dll. Djuga memakai kain sarung halus batik, tidak diperbolehkan. Begitulah nasip sigadis2 itu sehari2an, terpupuk didapur, dan hampir tidak mempunjai waktu peristirahatan. Waktu jang agak tersenggang sedikit, harus digunakan buat mendjahit menjudji, menjulam, kadang2 sampai larut malam dengan penerangan lampu, jang sangat kurang. Tidak heran pulalah kita melihat, bahwa antara mereka banjak jang dihinggapi oleh penjakit mata.

Tidak boleh meninggalkan rumah, dan tak boleh pula kepasar Bukittinggi, atau mengundjungi mamak sudara diperantauan. Betul tidak ditahan dirumah tutup, tetapi keadaan banjak sekali merupakan itu. Sekali2 pergi ke rumah peralatan, tidak sebagai tamu tetapi hanja buat berkubur didapur sadja, atau bersembunji menolong disatu kamar sipangkal dengan pekerdjaan pendjahitan atau hias mehiasi dan sebagainja. Melihat pemuda2 hanja dari djarak jang djauh sekali, dan bertemu muka hanja diperbolehkan dengan pemuda serumah atau sepesukuan sadja.

Peladjaran sekolah hampir tidak ada. Satu2 jang beruntung dapat menempuh sekolah batu atau sekolah rakjat, tapi hal ini adalah sangat luar biasa sekali dan hanja diperoleh oleh anak2 jang bersama2 dalam perantauan dengan orang tuanja dikota2. Jang lainnja dapat djugalah sedikit2 beladjar dirumah bersama saudara2nja, sehingga dapat terhindar dari golongan buta huruf. Sebaliknja peladjaran agama dan mengadji disurau, hampir dilakukan oleh semua gadis2.

Hasaban keras berkurung itu jang kadang2 rupanja tidak mereka rasakan atau atjuhkan, barulah akan berachir pada waktu akan dikawinkan. Segala larangan selama waktu berkurung itu sekarang diperbolehkan melanggarnja, terutama terhadap pakaian. Keluarlah sekarang badju kurung dengan model jang lebih bagus dan terbikin dari bahan beludru, sutera dan matjam2 kain jang halus2, dan keluar pulalah kain sarung batik Pekalongan halus jang selama ini hanjalah merupakan simpanan dilemari sadja. Keluar djuga perhiasan mas, intan dan lain2 berlomba2 memperlihatkan rupanja seakan-akan melepaskan dendam dari hasaban selama berkurung dulu itu. Dalam tiap peralatan kelihatanlah mereka sekarang. Berdjalan keluar kampung dan kundjungan kepada sanak saudara diperantauan pun boleh dilakukan dengan bebas tanpa ada jang menghalangi atau mengkritik, malahan kadang2 pula mereka sendiri terpaksa merantau, mengikutkan suami ketempat kerdjanja.

Terhadap sibudjang segala rintangan itu tidak ada. Mereka dari ketjil sampai dewasa bebas dari larangan2 itu. Djuga terhadap pakaian ia lebih daripada si gadis. Larangan seperi badju kurung dan jang serupa itu sama sekali tidak ada. Sesudah menanggalkan badju monjet digantilah dengan tjelana pendek, badju tjina dan kupiah. Agak besar sedikit lagi diganti pula dengan tjelana pandjang dari bahan jang sama pula, tetapi kini diperlengkapi dengan kain sarung batik kasar. Lama kelamaan kain batik kasar itu diganti pula dengan kain pelekat jang kemudian kadang2 ditukar dengan kain bugis. Djuga tjelana kadang2 dibuat dari bahan kain batik kasar. Umumnja sepatu tidak dipakai. Hanja bagi anak sekolah batu sepatu itu diwadjibkan. Djuga dalam perhelatan dan keramaian sering pula pemuda2 kelihatan bersepatu.

Setelah kawin kelihatan pula perbedaan dari bahan pakaian, dari jang kasar mendjadi jang halus, dan kupiahpun diganti dengan destar saluk. Dengan memandang pakaian seseorang dapatlah dikirakan berapa lama ia telah kawin.

Sementara itu, si budjang dari ketjilnja disuruh masuk sekolah. Sesudah tamat dari sekolah rendah diictiarkan pula buat melandjutkan peladjaran itu disekolah jang lebih tinggi. Orang tua tidak segan pula mengirimkan anak2nja kapulau Djawa atau bila perlu kebenua lain. Karena semua peladjaran diluar kampung selalu memakan ongkos jang banjak, jang kadang2 tidak terpikul oleh orang tuanja, maka ditjarilah sekolah jang tidak berongkos terutama sekolah radja di Bukittinggi dan sekolah dokter djawa di Betawi. Kedua sekolah ini tidak sedikit djua memberatkan orang tuanja, malahan kadang kadang dikelas jang tinggi murid2 itu sudah sanggup pula memperlengkapi dirinja dengan pakaian dan wang sekolahnja sendiri dengan uang jang diberi pemerintah. Sekali2 bagi orang jang agak berada, dapatlah mereka mengirim anaknja kesekolah jang memakan ongkos banjak seperti H.B.S atau K.W.S. Untunglah sekolah2 ini hanja memakan waktu 3-5 tahun sadja dan sesudah mendapat surat idjazah dengan mudah sekarang dapat memulangkan segala ongkos2 jang dikeluarkan dulu dalam waktu jang tak terlampau lama. Buat meringankan orang tuanja, maka jang sudah bekerdja sekarang itu sanggup pula memadjukan adik2 dan kemenakannja.

Beginilah tjara jang selalu dilakukan oleh putera Kotogadang jang mengakibatkan berlipatgandanja djumlah warga negeri jang berpendidikan tinggi. Mudah2an seterusnja begitu djugalah hendaknja.

dikutip dari naskah R. M. Wazar; “Kotogadang dan Tjerita2 Pendek”

Sumber: Tjanang Tahun V/No.23/Mart-April 1968

Kemarau Senin, Des 22 2008 

Sedjak dari permoelaan Poeasa jang baroe laloe bolehlah dikatakan selaloe sadja panas, hanjalah jang ada memberi bekas hoedjan jang lebat sekali sadja kira2 sepakan atau 8 hari Poeasa sesoedah itoe hanjalah hoedjan2 ketjil sadja tiadalah menggadangkan ajer oleh karena itoe banjaklah rasanja roesak padi orang jang sebelah ka Koto Hilalang Pahambatan dan sebahagian poela sawah negeri kita K.G. jaitoe sawah dari Sikaboe keatas maka akan hal itoe mendoakanlah kita soepaja djanganlah berbahaja hendaknja segala padi2 itoe lain tiada tersebab dari kekoerangan ajer.

Maka akan hal ini amatlah soesah hati sekalian isi negeri karena segala petani tiada dapat toeroen kesawah sebabnja tiada berajer ditengah2 sawah itoe hanjalah kelihatan roempoen2 djerami jang kering sadja, sedangkan roempoet-roempoetan tiadalah jang toemboeh melainkan sebagai ditengah djalan raja sadja dan djika kita mealih pemandangan arah ka Boekit kepanasan tiadalah oebahnja sebagai kita melihat kegoenoeng2 atau rimba2 jang soedah di bakar (di paroen) karena segala roempoet-roempoetan jang ketjil2 itoe soedah mendjadi sirah sebab tiada didatangi hoedjan, apalagi melihat Bandar ajer Katjik ta’ oebahnja sebagai melihat djalan gedang jang baroe ditaboeri pasir atau kerekel, didalam hal ini tentoe ankoe2 jang merantau soedah meingat dan mendatangkan pertanjaan didalam hati bagaimanakah perasajan indoek2 sanak soedara dan anak kemanakannja laki2 perampoean pendoedoek K.G. akan meambil ajer minoem, boeat mandi dan boeat mentjoetji, maka akan hal ini ta’dapatlah kami enerangkan segala hal bermasing2 itoe, melainkan toehan Allah Soebhanawata’ala sadja jang mengatahoeinja, ta’ goenalah ditjeritakan djoega disini; hanjalah dengan sedapat2 akan pergi mendjapoet ajer jang bekal diminoem ka moenggoe kabatang ajer djalan ka tempat dan kebatang ajer di Ngarai dan demikian djoega boeat mandi dan menjasah, melihat segala indoek-indoek pergi mendjapoet ajer itoe berbondong2 memikoel parian mendjendjeng ember dan tjerek, ta’ berhinggakan siang malam tidak soeninja, sebagai orang pergi ka pakan.

Maka akan hal ini sangatlah menaroeh takoet dan ngeri sekaliannja, meingat kalau2 ada nan chilaf dari pada bahaja api; maka ingatan ini mendjadikan soesah hingga setiap-tiap malam tiadalah soeni dari pada roenda boeat mendjagai segala hal itoe serta bermoehoen kepada toehan soepaja terdjaoehlah hendaknja dari pada jang mengerikan itoe.

Maka didalam bersoesah fikiran ini terdengarlah chabar berita jang bahsa pada awal tahoen 1923 pekerdjaan mengerdjakan melaloekan ajer dari lereng Goenoeng Singgalang dekat negeri Koto Toeo telah akan dilansoengkan oleh Gouvernement jaitoe ajer itoe akan dibawa penambah ajer di Kota Boekit Tinggi; melaoei negeri Koto Toeo, Kota Gedang teroes ke Ngarai; chabarnja ajer ini boleh diambil oleh kedoea boeah negeri jang terseboet dengan bajaran jang enteng kepada Gouvernement; segala hal ajer itoe (waterleiding) soedah djoega di perkatakan katika rapat Studiefonds Kota Gedang di boelan hari raja jang baroe laloe dengan pedoeka toean Asisstent Resident Loeak Agam, beliau ada menerangkan dimoeka kerapatan bahasa pekerdjaan itoe maoe di segerakan dan di kerdjakan oleh Gemeente Boekit Tinggi, tentoelah anak negeri di sini boleh meambil ajer itoe dengan bajaran jang seentengnja kira2 7 cent didalam 1 M3.

Maka mendengar jang pekerdjaan itoe telah akan disegerakan itoe, sekalian isi negeri mendengar dengan berhati girang, oentoeng2 tjepat selesainja pekerdjaan itoe karena ta’ tertanggoeng soesahnja mentjari dan mendjepoet ajer itoe.

Dan lagi karena waktoe sekarang didalam moesim panas teringat oleh pemerintah dan panghoeloe2 isi negeri serta panghoeloe kepala akan membersihkan atau membetoelkan bandar2 sawah sebab biasa djoega selama panas akan hoedjan poela; maka bermoefakatlah ninik mamak panghoeloe-panghoeloe akan mengerdjakan bandar-bandar itoe 2-3 kali didalam sepakan akan dikerdjakan oleh seisi negeri pendoedoek kampoeng serta di atoerkan bekerdjanja dengan dibahagi2 didalam satoe2 loeroesan bandar2 itoe sekira2 10-15 elo seseorang, itoepoen segala pendoedoek kampoeng adalah menerima bahagian itoe dengan segala senang hati sadja tiadalah jang mengatakan keberatan; karena segala marikaitoe mengatahoei dan mengerti benar, sebab di lihat dengan mata kepalanja sendiri jang kesoesahan mendapat ajer djika toeroen kasawah kaloe2 bandar2 tiada dibetoelkan lebih dahoeloe, dari itoelah segala marikaitoe bekerdja atau meambil bahagianja bermasing2; dan djoega ankoe2 pembatja tentoe mengatahaoei jang anak negeri kita kebanjakan tiada pandai beerdja tanah dan ada jang memikirkan dari pada bekerdja mehabiskan tempo separo atau satoe hari didalam bahagian itoe, maka segala toekang amas jang sedang didalam pekerdjaan, dengan seala soeka dan rela meoepahkan jang bahagiannja kepada kawan2nja atau kepada siapa jang soeka mengerdjakan.

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen VII/No.8/Augustus 1922

THE CAMPAN OF KOTTO-GODONG Kamis, Des 11 2008 

At Fort de Koch I alighted at the house of the resident of the Agamer territory, Colonel Van der Hardt, a distinguished officer, who had been engaged in all the wars of sumatra, from 1830 to 1849, and was the first to advance with his regiment into Battaker country as far as the entrance to the valley of Silidong , by the great toba.* I had already become acquainted with this gentlement in Batavia, and he had also accompanied me to Padang. He overwhelmed me with polite attentions of every kind, and immediately made a party to show me what was best worth seeing in the neighborhood, the rich and beautiful campan, Kotto-Godong; which is the most elegant and opulent that I have ever seen, either in Sumatra, Java, or any of the Dutch East Indian possessions.

The style of building in the houses is curios and original: they are of wood, painted in bright colors, and very much longer than they are broad; and each end runs together into a peak, which rises above the central part, so as to give them more the appearance in two or three slopes, each slope being provided with two peaks, and looking very much like a Turkish saddle. The front and side walls are decorated, often quite covered, with finely ang elaborately carved arabesques. The houses stand upon piles; but these are invisible, being covered with bamboos or boards, and the whole effect is very peculiar and pretty.

The interior of these ornamental-looking houses consists of one large apartment, which takes in the whole length and three quarters of the breadth of the house; and at the extremity of it is a small raised compartment that looks as if it had been added after the house was built, which is furnished with mats, carpets, cushions, etc., and is intended as a place of honor for the most distinguished woman present. The back of the house is divided into little rooms for fires and sleeping-places, but which are pitch dark, as the back wall of the house has no windows. Opposite every house stands a miniature one, carved and painted in the same style, which serves for preservation of the store of rice. In each of these houses there only lives a single famly, and not, as among the Dyaks, a whole tribe.

As the Rajah of the campan* had been informed beforehand of our coming, we found him and his family in their richest dresses. The sarangs of the ladies were of heavy silk, richly and elegantly embroidered with gold, and they showed us some that had cost as much as 500 rupees. Their jackets were of blue, red, or green silk, with gold borders; their headkerchiefs so heavy with gold, that they were not tied to, but merely laid on, the head. Some of these cost as much as six guineas apiece. The women weave their sarangs and headkerchiefs themselves; but the velvet, of course, they buy. The Rajah’s ladies wore round their wrists finely-wrought gold bracelets, and on the little finger of the left hand some rings. Many had this finger decorated in still more striking style, namely, by a golden nail two inches long, which is fastened on like a ring, and is admired as a sign of wealth and do-nothingness.

The malay chief priest came in grand state to pay his respects, and certainly he did astonish us with his finery. He wore a long robe of rose-colored silk, and over it another of white gauze, trimmed with three broad flounces. The sleeves were also full trimmed with lace. To complete this costume, which any European lady might have gone to a ball in, this reverend personage had a man’s white waistcoat and a belt, in which were stuck some superb weapons. He also had on a white turban, and over it a large lace vail that fell down and half covered him. Altogether, I never saw such an absurd-looking fellow; and when the lace vail was thrown back, and a young and beardless face appeered, I should certainly, had he not been announced as the high priest, have had considerable doubt whether we had before us a lady or a gentleman.

Besides the house of the Rajah, we visited some where we found the women and the girls occupied with skillful gold-weaving; and then we went to a goldsmith’s, who had really produced some beautiful things, and, to our great astonishment, merely with the help of a small anvil, some hammers, nails, and other trifles. His entire stock of tools could be put into a little box, and carried under his arm; so that, in case of need, he could set up his work-shop any where.

* Every campan in the Ducth settlements has its own Rajah, who receives a small salary and undertakes that the community under his rule shall observe the laws and fullfill the orders of the government.

Source: Ida Pfeiffer. 1856. A Lady’s Second Journey Round the World, New York, Harper & Brothers Publishers, pg 139-141

Jahja Datoek Kajo dan ‘Pemberontakan Bahasa Indonesia’ di Volksraad Kamis, Des 11 2008 

jahja-dt-kajo(1 Agustus 1874 – 9 November 1942)

Pria berkumis melintang itu terpilih menjadi anggota Volksraad mewakili masyarakat Minangkabau selama dua periode (1927-1931 & 1935-1939). Sejak dilantik menjadi anggota Dewan Rakyat itu, Jahja Datoek Kajo (JDK), demikian nama pria itu, telah mengubah sebuah tradisi di salah satu majelis tinggi kolonial itu: ia konsisten menggunakan Bahasa Indonesia (pada waktu itu disebut juga Bahasa Melayu) dalam setiap pidatonya, suatu tindakan yang sebelumnya tabu dilakukan di Volksraad.

JDK—lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, tanggal 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir (ayah) dan Bani (ibu)—adalah salah satu dari delapan wakil masyarakat Minangkabau yang pernah duduk di Volksraad. Ia telah menjabat berbagai posisi dalam jajaran administrasi BB (Binnenlandsch Bestuur) kolonial Belanda di Sumatera Barat sebelum diangkat menjadi anggota Volksraad di Batavia pada bulan Juni 1927 menggantikan Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo.

JDK adalah seorang yang sangat kritis. Sebelum pindah ke Volksraad ia sudah sering bermasalah dengan pejabat-pejabat kolonial Belanda di Sumatera Barat, antara lain dengan Gubernur Whitlau. Ada dua hal yang sering dikritiknya: diskriminasi terhadap pegawai (ambtenar) bumiputra di jajaran BB dan berbagai perlakuan tak manusiawi Rezim Kolonial Belanda (juga melalui kaki tangan pribuminya) terhadap rakyat Minangkabau.

Kekritisan JDK tidak mengendor selama ia berada di Volksraad. Hal itu dapat disimak dalam teks-teks pidatonya yang disalin kembali oleh Azizah Etek dkk. dalam Kelah Sang Demang: Jahja Datoek Kajo; Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939 (Yogyakarta: LKiS, 2008).

Selama menjabat anggota Volksraad JDK banyak memperjuangkan kepentingan rakyat Minangkabau. “Oleh karena saja lahir dan berasal dari Minangkabau tentoelah tidak akan dimoengkiri, kalau lebih dahoeloe saja akan membitjarakan kepentingan di Alam Minangkabau”, katanya dalam pidato pertamanya di Volksraad tanggal 16 Juni 1927—pelajaran yang bagus untuk anggota DPR(D) kita sekarang.

Tetapi ketetapan hati JDK berbahasa Indonesia dalam sidang-sidang resmi Volksraad telah menjadi salah satu tonggak sejarah yang amat berarti dalam peningkatan martabat Bahasa Indonesia dalam pandangan masyarakat kolonial Hindia Belanda pada waktu itu yang pada gilirannya ikut menentukan jalan sejarah Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi negara Indonesia dan bahasa nasional bangsa Indonesia di kemudian hari.

Mengawali pidatonya di Volksraad tanggal 22 Juni 1927, JDK berucap: “Harap Berbahasa Melajoe” dan “Sekiranya diantara toean2 ada jang menjerikati [mengomentari] pembitjaraan saja, dengan hormat saja minta, soepaja dilakoekan dengan bahasa Melajoe”.

Dalam pidatonya yang lain tanggal 21 Oktober 1927, JDK dengan tegas berucap: “Berbahsa Melajoelah! [S]eandainja ada diantara toean-toean jang […] tidak setoejoe dengan pembitjaraan saja ini saja harap toean toean soedi menegornja dalam bahasa Melajoe.”

JDK menganut paham bahwa bahasa menunjukkan bangsa, seperti terefleksi dalam kutipan pidatonya di Volksraad pada 30 Juni 1928: “Pembitjaraan saja didalam sidang madjelis Dewan Ra’jat saja lebih soeka didalam bahasa Indonesia, karena saja sendiri seorang Indonesier. [S]ekalian bangsa dalam doenia ini lebih soeka berbahasa didalam bahasanja sendiri. Sebabnja perasaan Indonsier tinggal diorang Indonesier, perasaan Belanda di [orang] Belanda, jaitoe seboleh-bolehnja orang-orang itoe membitjarakan bahasanja sendiri. Sebab itoe saja lebih soeka berbitjara dalam bahasa Melajoe dalam madjelis persidangan ini, apalagi mana jang saja bitjarakan didalam madjelis ini boekannja perkataan siapa sadja, melainkan jang sebenarnja terbit dihati sanoebari saja….”

Tindakan JDK itu mencerminkan rasa bangganya kepada Bahasa Indonesia, yang kadang-kadang tidak terefleksi dalam diri dan tindakan berbahasa sebagian besar intelektual pribumi pada waktu itu yang lebih suka berbahasa Belanda karena dianggap lebih bergengsi daripada berbahasa Indonesia.

Dari kutipan pidatonya di atas juga dapat dikesan bahwa JDK mulai mengajuk dan mengaduk perasaan dan emosi wakil-wakil Belanda di Volksraad dengan menggunakan istilah ‘Bahasa Melayu’ dan ‘Bahasa Indonesia’ secara berganti-ganti. Istilah ‘Bahasa Indonesia’ tentu mengandung semangat nasionalisme.

Rupanya orang Belanda terpengaruh juga, seperti terefleksi dalam pertanyaan Leunussen, salah seorang wakil mereka di Volksraad, ketika JDK berpidato tanggal 11 Juli 1938: Leunussen bertanya: “Apa itoe bahasa Indonesia?”

Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa JDK telah mengibarkan dan mengobarkan nasionalisme Bahasa Indonesia di Volksraad, lembaga terhormat yang didominasi orang Belanda itu, sebuah sikap yang merefleksikan penentangannya terhadap segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi bahasa.

JDK telah mencetuskan semangat nasionalisme bahasa Indonesia di Volksraad sebelum terjadinya Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Solo yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Secara simbolis, melalui jalur resmi dan terhormat JDK menghadang superioritas bahasa Belanda di Indonesia, yang selama beratus tahun dijaga dengan kekuasaan dan senjata. Pidato-pidatonya dalam sidang Volksraad yang disampaikan dalam Bahasa Melayu/Indonesia sangat berapi-api dan kaya dengan petatah-petitih Minangkabau.

Apa yang dilakukan JDK cukup membawa hasil: jawaban terhadap pidatonya yang terdahulu disampaikan oleh ketua (voozitter) Volksraad dalam Bahasa Melayu. Hal itu membuatnya sangat gembira. “[Karena] jang terhormat toean wakil pemerintah mengoeraikan roendingan itoe dengan berbahasa Melajoe […], perkataan itoe tersisip dihati sanoebari saja”, kata JDK dalam pidatonya tanggal 30 Juni 1927.

Ketika Fraksi Nasional dibentuk di Volksraad pada Januari 1930 yang dipimpin oleh M.H. Thamrin, JDK langsung bergabung ke dalamnya. Pada bulan Juli 1938—kurang lebih dua minggu setelah Kongres Bahasa Indonesia I usai diadakan di Solo (25-28 Juni), sebagai pengejawantahan dari salah satu ikrar Sumpah Pemuda: “Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”—Fraksi Nasional menyatakan bahwa mereka akan menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap pidato mereka di Volksraad.

Rintisan yang dilakukan JDK akhirnya mendapat sambutan luas di kalangan kaum nasionalis. Pers pribumi menjulukinya “Djago Bahasa Indonesia di Volksraad”. Sebaliknya, pers Belanda yang konservatif menyindir dan mengeritiknya habis-habisan, tak terkecuali pula wakil-wakil mereka di Volksraad, seperti wakil Indische Khatolieke Partij, Piet A. Kerstens, dan Jan Verboom, petinggi Suikersyndicaat di Surabaya dan pengurus Vaderlandsche Club.

Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agutus 1945, Bahasa Indonesia langsung ditetapkan menjadi bahasa nasional dan bahasa resmi negara muda itu. Status itu sungguh tidak datang mendadak. Ada jalan panjang yang sudah dilalui, yang dirintis oleh para intelektual pribumi terhadulu. Salah seorang di antaranya adalah Jahja Datoek Kajo.

Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Faculteit der Letteren Universiteit Leiden, Belanda

*Sumber: Harian Singgalang, Sabtu 24 Oktober 2008

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »