Salinan soerat kiriman Soetan Marah Alam Selasa, Mei 19 2009 

Salinan soerat kiriman Soetan Marah Alam No. 1

(Dipetik oentoek Sr.K.G. goena tjermin perbandingan)

Weltevreden 1 Januari 1920

Anak’nda Latifah!

Dengan soerat jang setjarik ketjil ini ajahanda mengabarkan pada anak’nda, bahwa soerat2 anak’nda semoeanja tidak ada jang tidak sampai ke tangan ajahanda, begitoepoen jang terkirim baroe2 ini, segala isinja ajahanda soedah ma’loem belaka.

Membatja soerat anak’nda jang paling achir ini, ajahanda makin djadi terperandjat karena anak’nda mengatakan besar pengharapan akan dapat pindah dari sekolah Studiefonds ke sekolah Goebernemen, karena itoe ajahanda hendak menoelis soerat ini dengan lebih pandjang.

Anak’nda, mendengarkan anak’nda tidak dapat pindah ke sekolah Goebernemen itoe,ajahanda amat besar hati ; kebesaran hati ajahanda itoe boekan sebagai doea bagai, karena kaboellah segala tjita-tjita ajahanda serta segala pemoeka bangsa kita.

“Apakah tjita-tjita itoe?” Tanya anak’nda agaknja. Anak’nda dengarlah baik-baik!

Adapoen sekolah Studiefonds jang ada di Balai Tjoemano itoe didirikan dengan Oesaha dan Kapitaal ninik mamak kita, artinja dengan pendapatan jang terbit dari pikiran ninik mamak kita ; pendeknja titik keringat ninik mamak kitalah jang pendirikan sekolah dan perkoempoelan S.K.G

Anak’nda tentoe soedah ma’loem apa goenanja, sekolah S.K.G didirikan, ja’ni tempat menoentoet berbagai2 kepandaian boekan.

Tjoema jang beloem anak’nda ketahoei ja’ni dimana dan apa perloenja orang pandai.

Karena anak’nda soedah ketahoei, tentoelah anak’nda ta’kan bergiat hendak pindah ke sekolah H.I. S. Goebernemen. Dan tiadalah akan ter tjoepoer dari moeloet anak’nda mengatakan: ” Masih besar pengharapan hendak pindah dari sekolah Studiefonds itoe, karena pikiran anak’nda bahwa kepandaian itoe tjoema boleh didapat di dalam sekolah Goebernemen sadja, sedang di sekolah H.I.S kepoenjaan Studiefonds tidak akan dapat.

Sekarang ajahanda hendak mengabarkan pada anak’nda tjoema hal jang penting lebih dahoeloe akan djadi permoelaan kata.

Dahoeloe tatkala orang Belanda baharoe datang di Sumatra Barat, maka orang kitalah jang lebih dahoeloe berdjinak-djinakan dengan dia; djadi orang kitalah jang terboeka mata lebih dahoeloe dari orang lain, karena itoe poelalah orang kita jang diadjar oleh orang Belanda menoelis membatja, sebab itoelah orang kita jang banjak diambil akan mendjalankan kemaoean kompeni dan Goebernemen seperti; djadi goeroe, djadi djoeroetoelis, djaksa, manteri dll, diantaranja ada jang djadi goeroe di Normaal School Boekit Tinggi dan Dokter Djawa.
Setelah Goebernemen memboeka sekolah Belanda, maka banjaklah kanak2 orang kita jang diambil djadi moerid sekolah itoe ja’ni akan diteroeskan masoek sekolah Docter di Betawi; diantaranja banjak jang sampai mendjadi. Kemoedian setelah beberapa lamanja poela, ja’ni sesoedah orang lain menjoekai poela, maka tempat jang terloeang tadi moesti dibagi rata-rata dengan orang2 lain negeri karena orang itoe anak ra’jat Goebernemen djoega akan diadjar seperti orang kita djoega.

Hingga karena itoelah boeat memasoeki sekolah Belanda pada beberapa tahoen jang telah laloe bertambah lama bertambah soekar, apalagi tempat jang terloeang itoe tidak dilebarkan dari biasanja.

Itoelah pangkal jang pertama sekali makanja ninik mamak kita mendirikan Kinder Vereeniging Julius ja’ni akan pendidik kanak2 jang disediakan oentoek mendjadi moerid disekolah Belanda.

Oleh karena segala kanak2 orang kita amat menjoekai, maka madjoelah perkoempoelan itoe hingga dapat sokongan dari mana2. Lama kelamaan laloe didirikanlah jang lebih besar ja’ni Studiefonds ini jang memakai kapitaal besar.

Kalau anak’nda ada melihat dan memperhatikan ratap tangis seorang iboe ketika anaknja ta’ diterima disekolah Belanda waktoe kira-kira 15 tahoen jang telah laloe, apalagi ketika beberapa moerid sekolah Belanda Boekit Tinggi jang bangsa Melajoe dikeloearkan oleh goeroe sekolah dengan mengatakan bahwa moerid bangsa Melajoe soedah lebih banjak bilangannja dari bangsa Belanda, maka ta’ dapat tiada anak’nda akan menaroeh dendam dalam hati seraja berniat kalau anak’nda soedah djadi besar nanti hendak mendjadi seorang pemoeka ra’jat sebagai toean-toean Hadji Agoes Salim, Tjokroaminoto, Abdul Moeis, Tjipto Mangoen Koesoemo, Soeardi Soerjaningrat dll. Ja’ni akan bekerdja memboekakan pintoe dan djalan jang akan ditempoeh oleh anak kemanakan dan bangsa anak’nda karena anak-anak bangsa kita amat sedikit diberi tempat oentoek meningkat pengetahoean jang lebih landjoet.

Samboengan akan datang

(W.G.) A.L.S. Marah Alam

Sumber: Soeara Kota-Gedang Tahoen ke V/No.15/November 1920

Pendidikan Gadis & Budjang Rabu, Jan 7 2009 

Pendidikan Gadis & Budjang
(KG 50 th yg lalu)

Gadis2 sampai umur kira2 13-14 tahun, hidup bebas dan leluasa dalam segala tindakan dan perdjalananja. Tidak ada jang menghalangi buat mengikutkan ibunja pergi kepasar Bukittinggi, atau pergi ke keperalatan2 dikampung. Sesudah melewati usia itu, sampailah saatnja buat di “kurung”, bukan dengan pengertian ditahan dirumah tutup, tapi menurut adat, tidak dibiarkan lagi kian kemari, dan harus tetap dirawat dirumah sadja. Sedjak waktu itu, pakaianpun dirobah pula. Pakaian bebe’ biasa sekarang diganti dengan baju kurung, satu matjam pakaian tidak ada bangunnja, seperti karung terlepas dengan dua lengan dan berlobang diatas, tempat meloloskan kepala. Bahkan kain badju itu, sekasar2nja. Kain sarungpun dipilih pula jg kasar. Pakaian dilengkapi dengan satu selendang kasar, atau kain tudung kepala. Dilarang keras menggunakan bahan kain halus, seperti sutera, satin dll. Djuga memakai kain sarung halus batik, tidak diperbolehkan. Begitulah nasip sigadis2 itu sehari2an, terpupuk didapur, dan hampir tidak mempunjai waktu peristirahatan. Waktu jang agak tersenggang sedikit, harus digunakan buat mendjahit menjudji, menjulam, kadang2 sampai larut malam dengan penerangan lampu, jang sangat kurang. Tidak heran pulalah kita melihat, bahwa antara mereka banjak jang dihinggapi oleh penjakit mata.

Tidak boleh meninggalkan rumah, dan tak boleh pula kepasar Bukittinggi, atau mengundjungi mamak sudara diperantauan. Betul tidak ditahan dirumah tutup, tetapi keadaan banjak sekali merupakan itu. Sekali2 pergi ke rumah peralatan, tidak sebagai tamu tetapi hanja buat berkubur didapur sadja, atau bersembunji menolong disatu kamar sipangkal dengan pekerdjaan pendjahitan atau hias mehiasi dan sebagainja. Melihat pemuda2 hanja dari djarak jang djauh sekali, dan bertemu muka hanja diperbolehkan dengan pemuda serumah atau sepesukuan sadja.

Peladjaran sekolah hampir tidak ada. Satu2 jang beruntung dapat menempuh sekolah batu atau sekolah rakjat, tapi hal ini adalah sangat luar biasa sekali dan hanja diperoleh oleh anak2 jang bersama2 dalam perantauan dengan orang tuanja dikota2. Jang lainnja dapat djugalah sedikit2 beladjar dirumah bersama saudara2nja, sehingga dapat terhindar dari golongan buta huruf. Sebaliknja peladjaran agama dan mengadji disurau, hampir dilakukan oleh semua gadis2.

Hasaban keras berkurung itu jang kadang2 rupanja tidak mereka rasakan atau atjuhkan, barulah akan berachir pada waktu akan dikawinkan. Segala larangan selama waktu berkurung itu sekarang diperbolehkan melanggarnja, terutama terhadap pakaian. Keluarlah sekarang badju kurung dengan model jang lebih bagus dan terbikin dari bahan beludru, sutera dan matjam2 kain jang halus2, dan keluar pulalah kain sarung batik Pekalongan halus jang selama ini hanjalah merupakan simpanan dilemari sadja. Keluar djuga perhiasan mas, intan dan lain2 berlomba2 memperlihatkan rupanja seakan-akan melepaskan dendam dari hasaban selama berkurung dulu itu. Dalam tiap peralatan kelihatanlah mereka sekarang. Berdjalan keluar kampung dan kundjungan kepada sanak saudara diperantauan pun boleh dilakukan dengan bebas tanpa ada jang menghalangi atau mengkritik, malahan kadang2 pula mereka sendiri terpaksa merantau, mengikutkan suami ketempat kerdjanja.

Terhadap sibudjang segala rintangan itu tidak ada. Mereka dari ketjil sampai dewasa bebas dari larangan2 itu. Djuga terhadap pakaian ia lebih daripada si gadis. Larangan seperi badju kurung dan jang serupa itu sama sekali tidak ada. Sesudah menanggalkan badju monjet digantilah dengan tjelana pendek, badju tjina dan kupiah. Agak besar sedikit lagi diganti pula dengan tjelana pandjang dari bahan jang sama pula, tetapi kini diperlengkapi dengan kain sarung batik kasar. Lama kelamaan kain batik kasar itu diganti pula dengan kain pelekat jang kemudian kadang2 ditukar dengan kain bugis. Djuga tjelana kadang2 dibuat dari bahan kain batik kasar. Umumnja sepatu tidak dipakai. Hanja bagi anak sekolah batu sepatu itu diwadjibkan. Djuga dalam perhelatan dan keramaian sering pula pemuda2 kelihatan bersepatu.

Setelah kawin kelihatan pula perbedaan dari bahan pakaian, dari jang kasar mendjadi jang halus, dan kupiahpun diganti dengan destar saluk. Dengan memandang pakaian seseorang dapatlah dikirakan berapa lama ia telah kawin.

Sementara itu, si budjang dari ketjilnja disuruh masuk sekolah. Sesudah tamat dari sekolah rendah diictiarkan pula buat melandjutkan peladjaran itu disekolah jang lebih tinggi. Orang tua tidak segan pula mengirimkan anak2nja kapulau Djawa atau bila perlu kebenua lain. Karena semua peladjaran diluar kampung selalu memakan ongkos jang banjak, jang kadang2 tidak terpikul oleh orang tuanja, maka ditjarilah sekolah jang tidak berongkos terutama sekolah radja di Bukittinggi dan sekolah dokter djawa di Betawi. Kedua sekolah ini tidak sedikit djua memberatkan orang tuanja, malahan kadang kadang dikelas jang tinggi murid2 itu sudah sanggup pula memperlengkapi dirinja dengan pakaian dan wang sekolahnja sendiri dengan uang jang diberi pemerintah. Sekali2 bagi orang jang agak berada, dapatlah mereka mengirim anaknja kesekolah jang memakan ongkos banjak seperti H.B.S atau K.W.S. Untunglah sekolah2 ini hanja memakan waktu 3-5 tahun sadja dan sesudah mendapat surat idjazah dengan mudah sekarang dapat memulangkan segala ongkos2 jang dikeluarkan dulu dalam waktu jang tak terlampau lama. Buat meringankan orang tuanja, maka jang sudah bekerdja sekarang itu sanggup pula memadjukan adik2 dan kemenakannja.

Beginilah tjara jang selalu dilakukan oleh putera Kotogadang jang mengakibatkan berlipatgandanja djumlah warga negeri jang berpendidikan tinggi. Mudah2an seterusnja begitu djugalah hendaknja.

dikutip dari naskah R. M. Wazar; “Kotogadang dan Tjerita2 Pendek”

Sumber: Tjanang Tahun V/No.23/Mart-April 1968

THE CAMPAN OF KOTTO-GODONG Kamis, Des 11 2008 

At Fort de Koch I alighted at the house of the resident of the Agamer territory, Colonel Van der Hardt, a distinguished officer, who had been engaged in all the wars of sumatra, from 1830 to 1849, and was the first to advance with his regiment into Battaker country as far as the entrance to the valley of Silidong , by the great toba.* I had already become acquainted with this gentlement in Batavia, and he had also accompanied me to Padang. He overwhelmed me with polite attentions of every kind, and immediately made a party to show me what was best worth seeing in the neighborhood, the rich and beautiful campan, Kotto-Godong; which is the most elegant and opulent that I have ever seen, either in Sumatra, Java, or any of the Dutch East Indian possessions.

The style of building in the houses is curios and original: they are of wood, painted in bright colors, and very much longer than they are broad; and each end runs together into a peak, which rises above the central part, so as to give them more the appearance in two or three slopes, each slope being provided with two peaks, and looking very much like a Turkish saddle. The front and side walls are decorated, often quite covered, with finely ang elaborately carved arabesques. The houses stand upon piles; but these are invisible, being covered with bamboos or boards, and the whole effect is very peculiar and pretty.

The interior of these ornamental-looking houses consists of one large apartment, which takes in the whole length and three quarters of the breadth of the house; and at the extremity of it is a small raised compartment that looks as if it had been added after the house was built, which is furnished with mats, carpets, cushions, etc., and is intended as a place of honor for the most distinguished woman present. The back of the house is divided into little rooms for fires and sleeping-places, but which are pitch dark, as the back wall of the house has no windows. Opposite every house stands a miniature one, carved and painted in the same style, which serves for preservation of the store of rice. In each of these houses there only lives a single famly, and not, as among the Dyaks, a whole tribe.

As the Rajah of the campan* had been informed beforehand of our coming, we found him and his family in their richest dresses. The sarangs of the ladies were of heavy silk, richly and elegantly embroidered with gold, and they showed us some that had cost as much as 500 rupees. Their jackets were of blue, red, or green silk, with gold borders; their headkerchiefs so heavy with gold, that they were not tied to, but merely laid on, the head. Some of these cost as much as six guineas apiece. The women weave their sarangs and headkerchiefs themselves; but the velvet, of course, they buy. The Rajah’s ladies wore round their wrists finely-wrought gold bracelets, and on the little finger of the left hand some rings. Many had this finger decorated in still more striking style, namely, by a golden nail two inches long, which is fastened on like a ring, and is admired as a sign of wealth and do-nothingness.

The malay chief priest came in grand state to pay his respects, and certainly he did astonish us with his finery. He wore a long robe of rose-colored silk, and over it another of white gauze, trimmed with three broad flounces. The sleeves were also full trimmed with lace. To complete this costume, which any European lady might have gone to a ball in, this reverend personage had a man’s white waistcoat and a belt, in which were stuck some superb weapons. He also had on a white turban, and over it a large lace vail that fell down and half covered him. Altogether, I never saw such an absurd-looking fellow; and when the lace vail was thrown back, and a young and beardless face appeered, I should certainly, had he not been announced as the high priest, have had considerable doubt whether we had before us a lady or a gentleman.

Besides the house of the Rajah, we visited some where we found the women and the girls occupied with skillful gold-weaving; and then we went to a goldsmith’s, who had really produced some beautiful things, and, to our great astonishment, merely with the help of a small anvil, some hammers, nails, and other trifles. His entire stock of tools could be put into a little box, and carried under his arm; so that, in case of need, he could set up his work-shop any where.

* Every campan in the Ducth settlements has its own Rajah, who receives a small salary and undertakes that the community under his rule shall observe the laws and fullfill the orders of the government.

Source: Ida Pfeiffer. 1856. A Lady’s Second Journey Round the World, New York, Harper & Brothers Publishers, pg 139-141

Jahja Datoek Kajo dan ‘Pemberontakan Bahasa Indonesia’ di Volksraad Kamis, Des 11 2008 

jahja-dt-kajo(1 Agustus 1874 – 9 November 1942)

Pria berkumis melintang itu terpilih menjadi anggota Volksraad mewakili masyarakat Minangkabau selama dua periode (1927-1931 & 1935-1939). Sejak dilantik menjadi anggota Dewan Rakyat itu, Jahja Datoek Kajo (JDK), demikian nama pria itu, telah mengubah sebuah tradisi di salah satu majelis tinggi kolonial itu: ia konsisten menggunakan Bahasa Indonesia (pada waktu itu disebut juga Bahasa Melayu) dalam setiap pidatonya, suatu tindakan yang sebelumnya tabu dilakukan di Volksraad.

JDK—lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, tanggal 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir (ayah) dan Bani (ibu)—adalah salah satu dari delapan wakil masyarakat Minangkabau yang pernah duduk di Volksraad. Ia telah menjabat berbagai posisi dalam jajaran administrasi BB (Binnenlandsch Bestuur) kolonial Belanda di Sumatera Barat sebelum diangkat menjadi anggota Volksraad di Batavia pada bulan Juni 1927 menggantikan Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo.

JDK adalah seorang yang sangat kritis. Sebelum pindah ke Volksraad ia sudah sering bermasalah dengan pejabat-pejabat kolonial Belanda di Sumatera Barat, antara lain dengan Gubernur Whitlau. Ada dua hal yang sering dikritiknya: diskriminasi terhadap pegawai (ambtenar) bumiputra di jajaran BB dan berbagai perlakuan tak manusiawi Rezim Kolonial Belanda (juga melalui kaki tangan pribuminya) terhadap rakyat Minangkabau.

Kekritisan JDK tidak mengendor selama ia berada di Volksraad. Hal itu dapat disimak dalam teks-teks pidatonya yang disalin kembali oleh Azizah Etek dkk. dalam Kelah Sang Demang: Jahja Datoek Kajo; Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939 (Yogyakarta: LKiS, 2008).

Selama menjabat anggota Volksraad JDK banyak memperjuangkan kepentingan rakyat Minangkabau. “Oleh karena saja lahir dan berasal dari Minangkabau tentoelah tidak akan dimoengkiri, kalau lebih dahoeloe saja akan membitjarakan kepentingan di Alam Minangkabau”, katanya dalam pidato pertamanya di Volksraad tanggal 16 Juni 1927—pelajaran yang bagus untuk anggota DPR(D) kita sekarang.

Tetapi ketetapan hati JDK berbahasa Indonesia dalam sidang-sidang resmi Volksraad telah menjadi salah satu tonggak sejarah yang amat berarti dalam peningkatan martabat Bahasa Indonesia dalam pandangan masyarakat kolonial Hindia Belanda pada waktu itu yang pada gilirannya ikut menentukan jalan sejarah Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi negara Indonesia dan bahasa nasional bangsa Indonesia di kemudian hari.

Mengawali pidatonya di Volksraad tanggal 22 Juni 1927, JDK berucap: “Harap Berbahasa Melajoe” dan “Sekiranya diantara toean2 ada jang menjerikati [mengomentari] pembitjaraan saja, dengan hormat saja minta, soepaja dilakoekan dengan bahasa Melajoe”.

Dalam pidatonya yang lain tanggal 21 Oktober 1927, JDK dengan tegas berucap: “Berbahsa Melajoelah! [S]eandainja ada diantara toean-toean jang […] tidak setoejoe dengan pembitjaraan saja ini saja harap toean toean soedi menegornja dalam bahasa Melajoe.”

JDK menganut paham bahwa bahasa menunjukkan bangsa, seperti terefleksi dalam kutipan pidatonya di Volksraad pada 30 Juni 1928: “Pembitjaraan saja didalam sidang madjelis Dewan Ra’jat saja lebih soeka didalam bahasa Indonesia, karena saja sendiri seorang Indonesier. [S]ekalian bangsa dalam doenia ini lebih soeka berbahasa didalam bahasanja sendiri. Sebabnja perasaan Indonsier tinggal diorang Indonesier, perasaan Belanda di [orang] Belanda, jaitoe seboleh-bolehnja orang-orang itoe membitjarakan bahasanja sendiri. Sebab itoe saja lebih soeka berbitjara dalam bahasa Melajoe dalam madjelis persidangan ini, apalagi mana jang saja bitjarakan didalam madjelis ini boekannja perkataan siapa sadja, melainkan jang sebenarnja terbit dihati sanoebari saja….”

Tindakan JDK itu mencerminkan rasa bangganya kepada Bahasa Indonesia, yang kadang-kadang tidak terefleksi dalam diri dan tindakan berbahasa sebagian besar intelektual pribumi pada waktu itu yang lebih suka berbahasa Belanda karena dianggap lebih bergengsi daripada berbahasa Indonesia.

Dari kutipan pidatonya di atas juga dapat dikesan bahwa JDK mulai mengajuk dan mengaduk perasaan dan emosi wakil-wakil Belanda di Volksraad dengan menggunakan istilah ‘Bahasa Melayu’ dan ‘Bahasa Indonesia’ secara berganti-ganti. Istilah ‘Bahasa Indonesia’ tentu mengandung semangat nasionalisme.

Rupanya orang Belanda terpengaruh juga, seperti terefleksi dalam pertanyaan Leunussen, salah seorang wakil mereka di Volksraad, ketika JDK berpidato tanggal 11 Juli 1938: Leunussen bertanya: “Apa itoe bahasa Indonesia?”

Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa JDK telah mengibarkan dan mengobarkan nasionalisme Bahasa Indonesia di Volksraad, lembaga terhormat yang didominasi orang Belanda itu, sebuah sikap yang merefleksikan penentangannya terhadap segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi bahasa.

JDK telah mencetuskan semangat nasionalisme bahasa Indonesia di Volksraad sebelum terjadinya Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Solo yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Secara simbolis, melalui jalur resmi dan terhormat JDK menghadang superioritas bahasa Belanda di Indonesia, yang selama beratus tahun dijaga dengan kekuasaan dan senjata. Pidato-pidatonya dalam sidang Volksraad yang disampaikan dalam Bahasa Melayu/Indonesia sangat berapi-api dan kaya dengan petatah-petitih Minangkabau.

Apa yang dilakukan JDK cukup membawa hasil: jawaban terhadap pidatonya yang terdahulu disampaikan oleh ketua (voozitter) Volksraad dalam Bahasa Melayu. Hal itu membuatnya sangat gembira. “[Karena] jang terhormat toean wakil pemerintah mengoeraikan roendingan itoe dengan berbahasa Melajoe […], perkataan itoe tersisip dihati sanoebari saja”, kata JDK dalam pidatonya tanggal 30 Juni 1927.

Ketika Fraksi Nasional dibentuk di Volksraad pada Januari 1930 yang dipimpin oleh M.H. Thamrin, JDK langsung bergabung ke dalamnya. Pada bulan Juli 1938—kurang lebih dua minggu setelah Kongres Bahasa Indonesia I usai diadakan di Solo (25-28 Juni), sebagai pengejawantahan dari salah satu ikrar Sumpah Pemuda: “Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”—Fraksi Nasional menyatakan bahwa mereka akan menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap pidato mereka di Volksraad.

Rintisan yang dilakukan JDK akhirnya mendapat sambutan luas di kalangan kaum nasionalis. Pers pribumi menjulukinya “Djago Bahasa Indonesia di Volksraad”. Sebaliknya, pers Belanda yang konservatif menyindir dan mengeritiknya habis-habisan, tak terkecuali pula wakil-wakil mereka di Volksraad, seperti wakil Indische Khatolieke Partij, Piet A. Kerstens, dan Jan Verboom, petinggi Suikersyndicaat di Surabaya dan pengurus Vaderlandsche Club.

Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agutus 1945, Bahasa Indonesia langsung ditetapkan menjadi bahasa nasional dan bahasa resmi negara muda itu. Status itu sungguh tidak datang mendadak. Ada jalan panjang yang sudah dilalui, yang dirintis oleh para intelektual pribumi terhadulu. Salah seorang di antaranya adalah Jahja Datoek Kajo.

Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Faculteit der Letteren Universiteit Leiden, Belanda

*Sumber: Harian Singgalang, Sabtu 24 Oktober 2008

Docter Zakir dan Roetap Jumat, Nov 21 2008 

Baharoe baharoe ini soedah poelang ka Koto Gedang, engkoe Docter Zakir dan Roetap bersama anak isteri baliau; baliau tinggal di Koto Gedang boeat seboelan lamanja.

Engkoe Docter Zakir tinggal makan gadji pada onderneming getah di Kisaran (Soematra Timoer) gadji beliau f 600 seboelan, dan engkoe Docter Roetap mendjadi Docter pada Maatschappij minjak tanah di Perlak (Atjeh). Maksoed kedoea engkoe itoe verlof ka tanah airnja, ialah akan bertemoe dengan kaoem keloearga dan tanah airnja.

Bolehlah dikata kedoea baliau ini adalah sangat tjinta kepada kaoem keloearga dan tanah airnja.

Selama baliau tinggal dikampoeng, boleh dikata banjak poela oeroesan baliau menolong orang-orang kampoeng setiap hari kelihatan baliau meronda tiap-tiap roemah orang jang sakit, asal sadja orang datang memberi tahoe dan minta datang baliau, adalah dengan soeka hati dan memberi petoendjoek dan obat goena si sakit itoe ta’ oebah rasanja seperti baliau bekerdja pada Polikliniek: mana jang sakit bahagian dari Tapi ke Moedik tanggoengan Docter Zakir dan mana jang sakit dari Tapi ka Hilir tanggoengan Docter Roetap memereksa d.l.l.

Sajang benar baliau kedoea tjoema sedikit hari sadja tinggal dikampoeng.

Orang berharap diwaktoe poeasa, tentoelah engkoe Maksoes akan madjoe dalam examen Docter tentoelah baliau akan soeka poela memboeka kliniek di Koto Gedang sebagai djoega tempo Docter Mochtar, Zakir, Roetap, Chaidir dan Aznam moelai madjoe pada examen penghabisan Inl. Arts karena semoenja masing masing menoendjoekan kepada bangsanja, inilah nilajannja boeah kemadjoean jang diperolehnja.

Sumber: Soeara Kemadjoean Kota Gedang Tahoen 1/No.13/Juni 1916

Halaman Berikutnya »