DESA KOTO GADANG (Bag. 1)

A.l. Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, Mr. Dr. Nazif, Prof. Dr. Sjaaf, Prof. Dr. Aulia dsb.

OLEH : MARTHIAS D. PANDOE

KOTO GADANG, sebuah desa kecil yang terletak diseberang ngarai Bukittinggi sangat terkenal ke-mana2, lebih2 tempo doeloe.

Dari buku tamu yang terpelihara rapi di kantor Wali Negari (Lurah di Jawa), tercatat banyak pengunjung datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya pelancong (touris), tapi yang lebih berkepentingan adalah guru2 besar, professor dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Tercatat pengunjung2 dari Amerika, Inggeris, Perancis, Jerman, Negeri Belanda, Jepang, Australia dan lain2.

Mereka datang untuk mengetahui sejarah desa ini dulu hingga sekarang. Di sini tamu2 tersebut berdialog langsung dengan penduduknya yang pandai berbahasa Belanda dan sebagian pula berbahasa Inggeris, Perancis dan bahasa Jerman.

Sutan Syahrir, Haji Agus Salim dll

Di desa kecil ini banyak dilahirkan orang2 besar Indonesia yang membuat karirnya di-mana2. Banyak yang sudah jadi Menteri, diplomat, politikus, orang2 pergerakan dan pengusaha/pedagang.

Disinilah asalnya Haji Agus Salim,  Sutan Syahrir,  Mr. Tamzil,  Mr. Razif,  Mr. Karim,  Prof. Dr. Sjaaf (bapaknya Laksamana O.B. Sjaaf yang lahir di Negeri Belanda),  Prof. Dr. Aulia,  Dr. Roemali,  Mr. Dr. Nazif– orang Indonesia yang tertinggi jabatannya jaman pemerintahan Belanda, yakni jadi Gouvernements Secretaris dari Gouverneur General di Jakarta atau semacam Sekretaris Negara sekarang. Jabatan ini dipangkunya sampai ia meninggal dunia dalam usia muda lebih kurang 40 tahun, pada tahun 1942.

Mr. Dr. Nazif adalah teman sekolahnya Dr. Hatta, Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. Sartono, Dr. Soekiman Wirjosandjojo, Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Nazir Datuk Pamuncak dan lain2 di negeri Belanda. Ia ikut aktif dalam pergerakan2 pemuda Indonesia di negeri Belanda waktu itu.

Tahun 1921, Mr. Nazif sudah jadi Hakim di Bukittinggi. Sambil bekerja ia belajar terus dan akhirnya memperoleh promosi dengan menggondol gelar doktor di Sorbonne.

Proefschrift Nazif adalah: ” De val van he Rijk van Merina” atau Kejatuhan Kerajaan Merina (Madagaskar). Ia menghubungkan judul desertasinya dengan sejarah hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Madagaskar.

Anak Demang ini kemudian kembali ke Indonesia dan mendapat pangkat refendaris. Tahun 1936 ia mendapat kenaikan pangkat dengan jabatan penting, yakni Gouvernements Secretaris.

Mr. Dr. Nazif walaupun besar gajinya f 1.100,- (gulden) sebulan,  tetapi ia meninggal dunia tidak mewariskan apa2.  Tidak ada tabungannya pada postpaarbank. gajinya secara diam2 disumbangkannya pada pemuda2 Indonesia yang aktif dalam perjuangan. Bung Hatta sangat mengetahui betapa sumbangan riil Mr. Dr. Nazif untuk gerakan kemerdekaan itu.

Untuk kelanjutan hidup isteri dan anak2nya, Ny. Nazif terpaksa bekerja dan terakhir beliau jadi Sekretaris pada Kedutaan Besar Indonesia di Sweden. Kini ia sudah pensiun.

TIDAK dapat dicatatkan satu-persatu berapa banyaknya cendikiawan dalam bidang hukum, kedokteran, insinyur sampai kepada perwira2 militer yang berasal dari desa kecil ini.

Di sini dilahirkan seorang tokoh wanita yang sekaligus merupakan wartawati Indonesia pertama, Rohana Kudus. Tahun 1920-an, beliau menerbitkan dan memimpin sendiri (Hoofdredactries) surat-kabar harian “Soenting Melajoe” di Padang. Sampai kini Rohana Kudus masih hidup, tinggal didjalan Mangunsarkoro 58 Jakarta dan berusia sekitar 85 tahun. Rohana Kudus adalah kakak perempuan dari Sutan Sjahrir.

“Soenting Melajoe” bermotto “Oentoek Kemadjoean Kaoem Perempoean” dan masih dapat ditemui di Musium Jakarta.

Organisasi wanita pertama di Minangkabu yang dipimpin Rohana Kudus bernama “Amai Setia”. (Amai=Ibu). Bayak hasil karyanya, terutama untuk mendorong kaum wanita tampil di-tengah2 masyarakat. Hasil2 keradjinan tangan “Amai Setia” seperti sulam-menyulam, renda dan sebagainya pernah dipamerkan di Amsterdam, Paris dan New York.

Orang Koto Gadang bangga bahwa Perdana Menteri pertama Indonesia adalah puteranya, Sutan Sjahrir. Adik Sutan Syahrir seorang pengusaha besar, Sutan Syahsyam. Ia punya rumah terindah di Den Haag dan pernah menginvestasikan modalnya untuk perkebunan di Afrika.

Bapak dari Haji Agus Salim, Sutan Mohammad Salim merupakan salah seorang “hervormer” Koto Gadang. Tahun 1889 ia sudah jadi Hoofd Jaksa di Riau. Beliau orang per-tama2 di desanya yang mengerakkan putera2nya untuk mendapatkan didikan Barat. Sama halnya dengan bapak dari Sutan Syahrir, Rasad Maharadjo sutan. Beliau jadi Hoofd Jaksa di Medan.

Orang Koto Gadang bangga bahwa salah seorang dari Panglima Divisi “Siliwangi” adalah puteranya, Brigadir Jenderal (Purn) Daan Yahya, yang sebelumnya penanggung jawab keamanan pertama waktu Ibukota Jakarta kembali ketangan Republik. Ia menjadi Gubernur Militer waktu itu. Kakaknya Loewai Yahya, pada tahun 1912 mendapat titel dokter hewan, Veearts.

Pada generasi sekarang, di-banggakannya pula Prof. Dr. Emil Salim, kemenakan dari Haji Agus Salim. Yang terbaru orang Koto Gadang yang mendapat jabatan diplomat adalah Abdul Muis, sebagai Duta Besar di Cekoslowakia.

Kenapa maju?

PEMUDA-PEMUDI desa ini sejak dulunya sudah banyak menuntut ilmu di Jakarta, Bogor, Surabaja dan bahkan sampai keluar negeri.

Belajar, di AMS, HBS, STOVIA (dokter), Veeartses school (dokter hewan), sekolah guru, sekolah ambtenaar dsb.

Pada tahun 1915 sudah ada putera Koto Gadang yang belajar pada Technische Hoogeschool di Delft.

Paling tidak antara 10-15 orang pemuda dari desa ini setiap tahun melanjutkan sekolahnya ke sekolah2 tersebut tadi. Boleh dikatakan tidak ada yang masuk sekolah militer atau polisi. Keinginan mereka umumnya jadi “ambtenaar”, guru atau jadi orang pergerakan.

Dari orang2 tua Koto Gadang yang masih segar ingatannya diperoleh keterangan bahwa kemajuan desa itu mulanya berpangkal ketika Kompeni Belanda (tahun 1860) menjalankan “cultuurstelsel” yakni tanam paksa pohon kopi yang diperintahkan kepada setiap penduduk, baik ditanam diladang maupun dipekarangan rumah.

Bersambung….

Sumber: Kompas 19 September 1972

Published in: on March 19, 2010 at 9:22 pm  Comments (1)  

DAHOELOE DAN SEKARANG

Kata tjerita orang toea2 soedah semendjak dahoeloe kala banjak benar orang Kota Gedang jang pergi merantau kian kemari karena mentjarikan penghidoepannja dengan bertoekang emas atau berniaga, seperti di Trengganoe, Bengkahoeloe, Padang, Atjeh d.s.b.

Menoeroet adat dizaman itoe tiadalah mereka pergi merantau dengan membawa isteri melainkan dengan kemanakan atau dengan soedaranja jang laki2 sahadja, sebab perampoean pada masa dewasa itoe terlarang benar oleh adat meninggalkan kampoengnja, walau soedah bersoeami sekalipoen.

Berhoeboeng dengan keadaan jang demikian maka banjaklah perkawinan jang dilansoengkan antara toekang2 emas tadi dengan perampoean2 dari negeri jang didiaminja, sehingga berkembang biaklah merekaitoe di tempat perantauannja. (Di Bangkahoeloe kabarnja ada seboeah kampoeng jang semata-mata terdiri dari toeroenan orang2 pandai emas itoe). Tetapi ibarat orang toea2: setinggi-tinggi terbang bangau koembalinja keboemi djoea, sedjaoeh-djaoeh merantau balik kita kekampoeng djoea.

Demikianlah djoea halnja dengan orang orang Kota Gedang jang bertoekang dan berniaga emas itoe. Terlebih-lebih poela sebab oentoek orang Minang dimasa itoe, tidaklah malang jang lebih besar, rasanja kalau mati dirantau orang, kalau ta’ berkoeboer dipandam pekoeboeran sendiri disisi sekalian nenek2 mojangnja.

Djika tiba waktoenja toekang2 emas itoe hendak poelang terasalah baginja betapa sedihnja dalam hati meninggalkan anak dan isteri jang dirantau itoe, anak dan isteri jang ditjintainja dengan ichlas dan toeloes.

Kekampoengnja sendiri ta’ dapat dibawanja sebab keroemah siapa akan dihantarkannja anak dan isterinja itoe? Betoel ada roemah iboenja. Tetapi disitoe tiada ianja berkoeasa, sebab sekarang adik adiknja jang perampoean jang soedah bersoeamilah jang mempoenjai dan mengoeasai roemah2 itoe. Sedang ia sendiri tiada memperoleh tempat lagi diroemah iboenja itoe, dan mesti pergi tinggal ke soerau lagi sekarang kalau tidak hendak dianja dikawinkan dikampoeng keroemah orang jang setiba ia dikampoeng telah mendjempoetnja. Sedang ia sendiri terpaksa karena keadaan mesti kawin poela dikampoeng kalau ta’ soeka ianja membawa’ tikar ketidoerannja ke soerau, betapalah akan dapat ianja membawa’ anak dan isterinja jang dirantau kekampoeng sendiri.

Disitoelah poetoes pertalian antara bapak dengan anak habis kasih soeami pada isteri, karena koeatnja seroean nenek mojang jang telah lama ditingalkan, jang telah lama mati.

Malang benar rasanja oentoek orang Minangkabau di waktoe itoe kalau ianja sampai meninggal dirantau dan djaoeh dari kaoem familienja. Ta’ perloelah rasanja dioeraikan dengan banjak perkataan betapa besar kesedihan jang diderita antara kedoea pehak, antara soeami dan isteri dan antara bapak dan anak.

Lesoe rasanja toelang meingat betapa banjaknja air mata jang bertjoetjoeran pada tiap2 kali seorang bapak jang malang itoe terpaksa meninggalkan anak dan isteri jang ditjintainja, karena deras seoean kampoeng dan karena ianja ta’ sanggoep mengalahkan rasa rindoenja pada kampoeng halamannja.

Oentoenglah sekarang keadaan soedah moelai beroebah, sebab sebagai ichtiar oentoek mangampoengkan anak dan kemenakan dan memperkokoh pertalian bapak dengan anak, telah teringat oleh beberapa orang kita memperboeatkan diatas tanah kemenakan masing2 roemah oentoek anak2nja jang dikampoeng dan jang dirantau.

Rasanja tjonto2 ini akan ditiroe oleh banjak orang jang telah insjaf akan kewadjibannja sebagai bapak dan sebagai manoesia.

Disini perloelah dioetjapkan terima kasih pada beliau2 itoe, sebab ianja telah memperingatkan kepada orang Kota Gedang soepaja mengenal kewadjiban sebagai Bapak.

PLATO

Sumber: Soeara Kemadjoean Tahoen ke I/ No. 1/Januari 1934

Published in: on March 17, 2010 at 8:09 pm  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.