Soerau Batoe di Hilir Kamis, Jan 15 2009 

Semendjak berdirinja soerau ini, soedah kira2 45 tahoen, entah apa2 jang mendjadikan halangannja tiadalah koendjoeng soedah2nja; sepandjang chabar boekan sedikit oeang boeat pengerdjakan soerau itoe soedah berbilang riboe roepiah; tapi pekerdjaannja tidak djoega sempornanja; boleh di kata setiap2 tahoen orang2 jang maoe bekerdja mehiraukan dan meichtiarkannja djoega, sebagai pada tahoen dahoeloe dengan ichtiar dan soesah pajah ankoe Hadji Abdul Chalik toeankoe Imam mendjalankan lijst peminta derma boeat pengganti hatap Idjoek dengan hatap zink karena soerau itoe banjak botjor dan tiris hatapnja, jang mana segala pekajoean seperti kasau, lahe, paran dan lain2 soedah lapoe’2: maka sekarang berkat oesahanja ankoe Datoe’ Bagindo Kajo pensioen, telah soeka poela memboeat soesah dan pajah pada diri baliau beichtiar mentjari akal serta memboeat banjak ketje’ [propaganda] dengan isi negeri berija2 hendak malepoh dinding soerau itoe karena beliau ada merasa maloe besar benar melihat jang sedemikian itoe sebab soedah berbilang poeloeh tahoen poela soerau itoe ta’ soedah2nja; setelah semoefakat dengan densanak2 beliau ninik mamak panghoeloe nan doea poeloeh ampat berpergianlah beliau kian kemari disekoeliling negeri dalam daerah Soematra Barat ini; itoepoen dapatlah oeang derma banjak sedikitnja boeat pengerdjakan pekerdjaan itoe, soenggoehpoen pada nan djaoeh2 jang ta’ sanggoep beliau koendjoengi sebagai katanah2 sebarang laoet adalah poela soerat beliau lajangkan akan ganti badan diri beliau moga2 tergerak poela hati segala sanak soedara jang djaoeh2 itoe mengirim oeang derma itoe, akan tetapi sampai pada dewasa ini beloemlah ada kiriman jang dari djaoeh2 perantawan itoe (jang ta’ dapat beroending dengan beliau) barangkali aga’nja segala ankoe2 itoe hendak menantikan pekerdjaan itoe dimoelai, dan djika soedah terdengar oleh beliau jang merantau itoe bahasa pekerdjaan malepoh itoe soedah dimoelai tentoelah aga’nja dengan segala soeka dan rela poela beliau2 mengirim dermanja; sekalipoen ta’ sampai soerat2 lijst itoe, kepada beliau2 karena kebanjakan djoega orang2 jang merantau aga’ djaoeh itoe berfikir hendak mendengar dan melihatkan pekerdjaan itoe telah dimoelai baroelah berkira2 hendak mengirim sedekahnja banjak sedikitnja maka berdoalah kami jang pendoedoek dikampoeng kita moedah-moedahan digerakan toehan hati segala sanak soedara dan ankoe-ankoe jang tinggal dirantau itoe soeka apalah kiranja hati ankoe-ankoe mengirimi soepaja semporna pekerdjaan soerau itoe karena soedah maloe benar rasanja kita kepada orang-orang jang berkoeliling, jang soerau itoe ta’koendjoeng soedah2nja djoega.

Maka sekarang pekerdjaan malepoh itoe soedah di lansoengkan dan hampir selasai hanjalah sedikit lagi jang bahagian disebelah loear jang beloem semporna akan tetapi oleh karena oeang derma tiada tjoekoep boeat pengganti pintoe2, djandela2 dan peloteng soerau itoe, lain tiada harapan kami menadahkan tangan arah kelangit mendoakan soepaja tergerak hati ankoe2 dan sanak soedara akan soedi memberi dermaboeat penjampaikan maksoed kami itoe seboleh2nja disegirakan poela pekerdjaan ini hendaknja karena djika dilihat dari koear djaoeh benarnja timpangnja sebab dinding soedah bersih dan netjis akan tetapi segala pintoe-pintoe dan djandela2nja soedah lapoek dari itoelah pengharapan kami pada ankoe-ankoe djoea soepaja semporna pekerdjaan orang-orang toea kita dahoeloe itoe sebagai meoelas goendjai jang orang-orang toea kita dahoeloe itoe telah rantangkan; sebab itoe berharap benarlah kami atas rahim dan pemoerahnja segala ankoe-ankoe dan segala sanak soedara memberi derma pelansoengkan pekerdjaan jang terseboet demikianlah kami poehoenkan.

Salam daripada kami

Pehoeni kampoeng

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen ke VI/No.2/Januari 1921

Pendidikan Gadis & Budjang Rabu, Jan 7 2009 

Pendidikan Gadis & Budjang
(KG 50 th yg lalu)

Gadis2 sampai umur kira2 13-14 tahun, hidup bebas dan leluasa dalam segala tindakan dan perdjalananja. Tidak ada jang menghalangi buat mengikutkan ibunja pergi kepasar Bukittinggi, atau pergi ke keperalatan2 dikampung. Sesudah melewati usia itu, sampailah saatnja buat di “kurung”, bukan dengan pengertian ditahan dirumah tutup, tapi menurut adat, tidak dibiarkan lagi kian kemari, dan harus tetap dirawat dirumah sadja. Sedjak waktu itu, pakaianpun dirobah pula. Pakaian bebe’ biasa sekarang diganti dengan baju kurung, satu matjam pakaian tidak ada bangunnja, seperti karung terlepas dengan dua lengan dan berlobang diatas, tempat meloloskan kepala. Bahkan kain badju itu, sekasar2nja. Kain sarungpun dipilih pula jg kasar. Pakaian dilengkapi dengan satu selendang kasar, atau kain tudung kepala. Dilarang keras menggunakan bahan kain halus, seperti sutera, satin dll. Djuga memakai kain sarung halus batik, tidak diperbolehkan. Begitulah nasip sigadis2 itu sehari2an, terpupuk didapur, dan hampir tidak mempunjai waktu peristirahatan. Waktu jang agak tersenggang sedikit, harus digunakan buat mendjahit menjudji, menjulam, kadang2 sampai larut malam dengan penerangan lampu, jang sangat kurang. Tidak heran pulalah kita melihat, bahwa antara mereka banjak jang dihinggapi oleh penjakit mata.

Tidak boleh meninggalkan rumah, dan tak boleh pula kepasar Bukittinggi, atau mengundjungi mamak sudara diperantauan. Betul tidak ditahan dirumah tutup, tetapi keadaan banjak sekali merupakan itu. Sekali2 pergi ke rumah peralatan, tidak sebagai tamu tetapi hanja buat berkubur didapur sadja, atau bersembunji menolong disatu kamar sipangkal dengan pekerdjaan pendjahitan atau hias mehiasi dan sebagainja. Melihat pemuda2 hanja dari djarak jang djauh sekali, dan bertemu muka hanja diperbolehkan dengan pemuda serumah atau sepesukuan sadja.

Peladjaran sekolah hampir tidak ada. Satu2 jang beruntung dapat menempuh sekolah batu atau sekolah rakjat, tapi hal ini adalah sangat luar biasa sekali dan hanja diperoleh oleh anak2 jang bersama2 dalam perantauan dengan orang tuanja dikota2. Jang lainnja dapat djugalah sedikit2 beladjar dirumah bersama saudara2nja, sehingga dapat terhindar dari golongan buta huruf. Sebaliknja peladjaran agama dan mengadji disurau, hampir dilakukan oleh semua gadis2.

Hasaban keras berkurung itu jang kadang2 rupanja tidak mereka rasakan atau atjuhkan, barulah akan berachir pada waktu akan dikawinkan. Segala larangan selama waktu berkurung itu sekarang diperbolehkan melanggarnja, terutama terhadap pakaian. Keluarlah sekarang badju kurung dengan model jang lebih bagus dan terbikin dari bahan beludru, sutera dan matjam2 kain jang halus2, dan keluar pulalah kain sarung batik Pekalongan halus jang selama ini hanjalah merupakan simpanan dilemari sadja. Keluar djuga perhiasan mas, intan dan lain2 berlomba2 memperlihatkan rupanja seakan-akan melepaskan dendam dari hasaban selama berkurung dulu itu. Dalam tiap peralatan kelihatanlah mereka sekarang. Berdjalan keluar kampung dan kundjungan kepada sanak saudara diperantauan pun boleh dilakukan dengan bebas tanpa ada jang menghalangi atau mengkritik, malahan kadang2 pula mereka sendiri terpaksa merantau, mengikutkan suami ketempat kerdjanja.

Terhadap sibudjang segala rintangan itu tidak ada. Mereka dari ketjil sampai dewasa bebas dari larangan2 itu. Djuga terhadap pakaian ia lebih daripada si gadis. Larangan seperi badju kurung dan jang serupa itu sama sekali tidak ada. Sesudah menanggalkan badju monjet digantilah dengan tjelana pendek, badju tjina dan kupiah. Agak besar sedikit lagi diganti pula dengan tjelana pandjang dari bahan jang sama pula, tetapi kini diperlengkapi dengan kain sarung batik kasar. Lama kelamaan kain batik kasar itu diganti pula dengan kain pelekat jang kemudian kadang2 ditukar dengan kain bugis. Djuga tjelana kadang2 dibuat dari bahan kain batik kasar. Umumnja sepatu tidak dipakai. Hanja bagi anak sekolah batu sepatu itu diwadjibkan. Djuga dalam perhelatan dan keramaian sering pula pemuda2 kelihatan bersepatu.

Setelah kawin kelihatan pula perbedaan dari bahan pakaian, dari jang kasar mendjadi jang halus, dan kupiahpun diganti dengan destar saluk. Dengan memandang pakaian seseorang dapatlah dikirakan berapa lama ia telah kawin.

Sementara itu, si budjang dari ketjilnja disuruh masuk sekolah. Sesudah tamat dari sekolah rendah diictiarkan pula buat melandjutkan peladjaran itu disekolah jang lebih tinggi. Orang tua tidak segan pula mengirimkan anak2nja kapulau Djawa atau bila perlu kebenua lain. Karena semua peladjaran diluar kampung selalu memakan ongkos jang banjak, jang kadang2 tidak terpikul oleh orang tuanja, maka ditjarilah sekolah jang tidak berongkos terutama sekolah radja di Bukittinggi dan sekolah dokter djawa di Betawi. Kedua sekolah ini tidak sedikit djua memberatkan orang tuanja, malahan kadang kadang dikelas jang tinggi murid2 itu sudah sanggup pula memperlengkapi dirinja dengan pakaian dan wang sekolahnja sendiri dengan uang jang diberi pemerintah. Sekali2 bagi orang jang agak berada, dapatlah mereka mengirim anaknja kesekolah jang memakan ongkos banjak seperti H.B.S atau K.W.S. Untunglah sekolah2 ini hanja memakan waktu 3-5 tahun sadja dan sesudah mendapat surat idjazah dengan mudah sekarang dapat memulangkan segala ongkos2 jang dikeluarkan dulu dalam waktu jang tak terlampau lama. Buat meringankan orang tuanja, maka jang sudah bekerdja sekarang itu sanggup pula memadjukan adik2 dan kemenakannja.

Beginilah tjara jang selalu dilakukan oleh putera Kotogadang jang mengakibatkan berlipatgandanja djumlah warga negeri jang berpendidikan tinggi. Mudah2an seterusnja begitu djugalah hendaknja.

dikutip dari naskah R. M. Wazar; “Kotogadang dan Tjerita2 Pendek”

Sumber: Tjanang Tahun V/No.23/Mart-April 1968