Kemarau Senin, Des 22 2008 

Sedjak dari permoelaan Poeasa jang baroe laloe bolehlah dikatakan selaloe sadja panas, hanjalah jang ada memberi bekas hoedjan jang lebat sekali sadja kira2 sepakan atau 8 hari Poeasa sesoedah itoe hanjalah hoedjan2 ketjil sadja tiadalah menggadangkan ajer oleh karena itoe banjaklah rasanja roesak padi orang jang sebelah ka Koto Hilalang Pahambatan dan sebahagian poela sawah negeri kita K.G. jaitoe sawah dari Sikaboe keatas maka akan hal itoe mendoakanlah kita soepaja djanganlah berbahaja hendaknja segala padi2 itoe lain tiada tersebab dari kekoerangan ajer.

Maka akan hal ini amatlah soesah hati sekalian isi negeri karena segala petani tiada dapat toeroen kesawah sebabnja tiada berajer ditengah2 sawah itoe hanjalah kelihatan roempoen2 djerami jang kering sadja, sedangkan roempoet-roempoetan tiadalah jang toemboeh melainkan sebagai ditengah djalan raja sadja dan djika kita mealih pemandangan arah ka Boekit kepanasan tiadalah oebahnja sebagai kita melihat kegoenoeng2 atau rimba2 jang soedah di bakar (di paroen) karena segala roempoet-roempoetan jang ketjil2 itoe soedah mendjadi sirah sebab tiada didatangi hoedjan, apalagi melihat Bandar ajer Katjik ta’ oebahnja sebagai melihat djalan gedang jang baroe ditaboeri pasir atau kerekel, didalam hal ini tentoe ankoe2 jang merantau soedah meingat dan mendatangkan pertanjaan didalam hati bagaimanakah perasajan indoek2 sanak soedara dan anak kemanakannja laki2 perampoean pendoedoek K.G. akan meambil ajer minoem, boeat mandi dan boeat mentjoetji, maka akan hal ini ta’dapatlah kami enerangkan segala hal bermasing2 itoe, melainkan toehan Allah Soebhanawata’ala sadja jang mengatahoeinja, ta’ goenalah ditjeritakan djoega disini; hanjalah dengan sedapat2 akan pergi mendjapoet ajer jang bekal diminoem ka moenggoe kabatang ajer djalan ka tempat dan kebatang ajer di Ngarai dan demikian djoega boeat mandi dan menjasah, melihat segala indoek-indoek pergi mendjapoet ajer itoe berbondong2 memikoel parian mendjendjeng ember dan tjerek, ta’ berhinggakan siang malam tidak soeninja, sebagai orang pergi ka pakan.

Maka akan hal ini sangatlah menaroeh takoet dan ngeri sekaliannja, meingat kalau2 ada nan chilaf dari pada bahaja api; maka ingatan ini mendjadikan soesah hingga setiap-tiap malam tiadalah soeni dari pada roenda boeat mendjagai segala hal itoe serta bermoehoen kepada toehan soepaja terdjaoehlah hendaknja dari pada jang mengerikan itoe.

Maka didalam bersoesah fikiran ini terdengarlah chabar berita jang bahsa pada awal tahoen 1923 pekerdjaan mengerdjakan melaloekan ajer dari lereng Goenoeng Singgalang dekat negeri Koto Toeo telah akan dilansoengkan oleh Gouvernement jaitoe ajer itoe akan dibawa penambah ajer di Kota Boekit Tinggi; melaoei negeri Koto Toeo, Kota Gedang teroes ke Ngarai; chabarnja ajer ini boleh diambil oleh kedoea boeah negeri jang terseboet dengan bajaran jang enteng kepada Gouvernement; segala hal ajer itoe (waterleiding) soedah djoega di perkatakan katika rapat Studiefonds Kota Gedang di boelan hari raja jang baroe laloe dengan pedoeka toean Asisstent Resident Loeak Agam, beliau ada menerangkan dimoeka kerapatan bahasa pekerdjaan itoe maoe di segerakan dan di kerdjakan oleh Gemeente Boekit Tinggi, tentoelah anak negeri di sini boleh meambil ajer itoe dengan bajaran jang seentengnja kira2 7 cent didalam 1 M3.

Maka mendengar jang pekerdjaan itoe telah akan disegerakan itoe, sekalian isi negeri mendengar dengan berhati girang, oentoeng2 tjepat selesainja pekerdjaan itoe karena ta’ tertanggoeng soesahnja mentjari dan mendjepoet ajer itoe.

Dan lagi karena waktoe sekarang didalam moesim panas teringat oleh pemerintah dan panghoeloe2 isi negeri serta panghoeloe kepala akan membersihkan atau membetoelkan bandar2 sawah sebab biasa djoega selama panas akan hoedjan poela; maka bermoefakatlah ninik mamak panghoeloe-panghoeloe akan mengerdjakan bandar-bandar itoe 2-3 kali didalam sepakan akan dikerdjakan oleh seisi negeri pendoedoek kampoeng serta di atoerkan bekerdjanja dengan dibahagi2 didalam satoe2 loeroesan bandar2 itoe sekira2 10-15 elo seseorang, itoepoen segala pendoedoek kampoeng adalah menerima bahagian itoe dengan segala senang hati sadja tiadalah jang mengatakan keberatan; karena segala marikaitoe mengatahoei dan mengerti benar, sebab di lihat dengan mata kepalanja sendiri jang kesoesahan mendapat ajer djika toeroen kasawah kaloe2 bandar2 tiada dibetoelkan lebih dahoeloe, dari itoelah segala marikaitoe bekerdja atau meambil bahagianja bermasing2; dan djoega ankoe2 pembatja tentoe mengatahaoei jang anak negeri kita kebanjakan tiada pandai beerdja tanah dan ada jang memikirkan dari pada bekerdja mehabiskan tempo separo atau satoe hari didalam bahagian itoe, maka segala toekang amas jang sedang didalam pekerdjaan, dengan seala soeka dan rela meoepahkan jang bahagiannja kepada kawan2nja atau kepada siapa jang soeka mengerdjakan.

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen VII/No.8/Augustus 1922

THE CAMPAN OF KOTTO-GODONG Kamis, Des 11 2008 

At Fort de Koch I alighted at the house of the resident of the Agamer territory, Colonel Van der Hardt, a distinguished officer, who had been engaged in all the wars of sumatra, from 1830 to 1849, and was the first to advance with his regiment into Battaker country as far as the entrance to the valley of Silidong , by the great toba.* I had already become acquainted with this gentlement in Batavia, and he had also accompanied me to Padang. He overwhelmed me with polite attentions of every kind, and immediately made a party to show me what was best worth seeing in the neighborhood, the rich and beautiful campan, Kotto-Godong; which is the most elegant and opulent that I have ever seen, either in Sumatra, Java, or any of the Dutch East Indian possessions.

The style of building in the houses is curios and original: they are of wood, painted in bright colors, and very much longer than they are broad; and each end runs together into a peak, which rises above the central part, so as to give them more the appearance in two or three slopes, each slope being provided with two peaks, and looking very much like a Turkish saddle. The front and side walls are decorated, often quite covered, with finely ang elaborately carved arabesques. The houses stand upon piles; but these are invisible, being covered with bamboos or boards, and the whole effect is very peculiar and pretty.

The interior of these ornamental-looking houses consists of one large apartment, which takes in the whole length and three quarters of the breadth of the house; and at the extremity of it is a small raised compartment that looks as if it had been added after the house was built, which is furnished with mats, carpets, cushions, etc., and is intended as a place of honor for the most distinguished woman present. The back of the house is divided into little rooms for fires and sleeping-places, but which are pitch dark, as the back wall of the house has no windows. Opposite every house stands a miniature one, carved and painted in the same style, which serves for preservation of the store of rice. In each of these houses there only lives a single famly, and not, as among the Dyaks, a whole tribe.

As the Rajah of the campan* had been informed beforehand of our coming, we found him and his family in their richest dresses. The sarangs of the ladies were of heavy silk, richly and elegantly embroidered with gold, and they showed us some that had cost as much as 500 rupees. Their jackets were of blue, red, or green silk, with gold borders; their headkerchiefs so heavy with gold, that they were not tied to, but merely laid on, the head. Some of these cost as much as six guineas apiece. The women weave their sarangs and headkerchiefs themselves; but the velvet, of course, they buy. The Rajah’s ladies wore round their wrists finely-wrought gold bracelets, and on the little finger of the left hand some rings. Many had this finger decorated in still more striking style, namely, by a golden nail two inches long, which is fastened on like a ring, and is admired as a sign of wealth and do-nothingness.

The malay chief priest came in grand state to pay his respects, and certainly he did astonish us with his finery. He wore a long robe of rose-colored silk, and over it another of white gauze, trimmed with three broad flounces. The sleeves were also full trimmed with lace. To complete this costume, which any European lady might have gone to a ball in, this reverend personage had a man’s white waistcoat and a belt, in which were stuck some superb weapons. He also had on a white turban, and over it a large lace vail that fell down and half covered him. Altogether, I never saw such an absurd-looking fellow; and when the lace vail was thrown back, and a young and beardless face appeered, I should certainly, had he not been announced as the high priest, have had considerable doubt whether we had before us a lady or a gentleman.

Besides the house of the Rajah, we visited some where we found the women and the girls occupied with skillful gold-weaving; and then we went to a goldsmith’s, who had really produced some beautiful things, and, to our great astonishment, merely with the help of a small anvil, some hammers, nails, and other trifles. His entire stock of tools could be put into a little box, and carried under his arm; so that, in case of need, he could set up his work-shop any where.

* Every campan in the Ducth settlements has its own Rajah, who receives a small salary and undertakes that the community under his rule shall observe the laws and fullfill the orders of the government.

Source: Ida Pfeiffer. 1856. A Lady’s Second Journey Round the World, New York, Harper & Brothers Publishers, pg 139-141

Jahja Datoek Kajo dan ‘Pemberontakan Bahasa Indonesia’ di Volksraad Kamis, Des 11 2008 

jahja-dt-kajo(1 Agustus 1874 – 9 November 1942)

Pria berkumis melintang itu terpilih menjadi anggota Volksraad mewakili masyarakat Minangkabau selama dua periode (1927-1931 & 1935-1939). Sejak dilantik menjadi anggota Dewan Rakyat itu, Jahja Datoek Kajo (JDK), demikian nama pria itu, telah mengubah sebuah tradisi di salah satu majelis tinggi kolonial itu: ia konsisten menggunakan Bahasa Indonesia (pada waktu itu disebut juga Bahasa Melayu) dalam setiap pidatonya, suatu tindakan yang sebelumnya tabu dilakukan di Volksraad.

JDK—lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, tanggal 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir (ayah) dan Bani (ibu)—adalah salah satu dari delapan wakil masyarakat Minangkabau yang pernah duduk di Volksraad. Ia telah menjabat berbagai posisi dalam jajaran administrasi BB (Binnenlandsch Bestuur) kolonial Belanda di Sumatera Barat sebelum diangkat menjadi anggota Volksraad di Batavia pada bulan Juni 1927 menggantikan Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo.

JDK adalah seorang yang sangat kritis. Sebelum pindah ke Volksraad ia sudah sering bermasalah dengan pejabat-pejabat kolonial Belanda di Sumatera Barat, antara lain dengan Gubernur Whitlau. Ada dua hal yang sering dikritiknya: diskriminasi terhadap pegawai (ambtenar) bumiputra di jajaran BB dan berbagai perlakuan tak manusiawi Rezim Kolonial Belanda (juga melalui kaki tangan pribuminya) terhadap rakyat Minangkabau.

Kekritisan JDK tidak mengendor selama ia berada di Volksraad. Hal itu dapat disimak dalam teks-teks pidatonya yang disalin kembali oleh Azizah Etek dkk. dalam Kelah Sang Demang: Jahja Datoek Kajo; Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939 (Yogyakarta: LKiS, 2008).

Selama menjabat anggota Volksraad JDK banyak memperjuangkan kepentingan rakyat Minangkabau. “Oleh karena saja lahir dan berasal dari Minangkabau tentoelah tidak akan dimoengkiri, kalau lebih dahoeloe saja akan membitjarakan kepentingan di Alam Minangkabau”, katanya dalam pidato pertamanya di Volksraad tanggal 16 Juni 1927—pelajaran yang bagus untuk anggota DPR(D) kita sekarang.

Tetapi ketetapan hati JDK berbahasa Indonesia dalam sidang-sidang resmi Volksraad telah menjadi salah satu tonggak sejarah yang amat berarti dalam peningkatan martabat Bahasa Indonesia dalam pandangan masyarakat kolonial Hindia Belanda pada waktu itu yang pada gilirannya ikut menentukan jalan sejarah Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi negara Indonesia dan bahasa nasional bangsa Indonesia di kemudian hari.

Mengawali pidatonya di Volksraad tanggal 22 Juni 1927, JDK berucap: “Harap Berbahasa Melajoe” dan “Sekiranya diantara toean2 ada jang menjerikati [mengomentari] pembitjaraan saja, dengan hormat saja minta, soepaja dilakoekan dengan bahasa Melajoe”.

Dalam pidatonya yang lain tanggal 21 Oktober 1927, JDK dengan tegas berucap: “Berbahsa Melajoelah! [S]eandainja ada diantara toean-toean jang […] tidak setoejoe dengan pembitjaraan saja ini saja harap toean toean soedi menegornja dalam bahasa Melajoe.”

JDK menganut paham bahwa bahasa menunjukkan bangsa, seperti terefleksi dalam kutipan pidatonya di Volksraad pada 30 Juni 1928: “Pembitjaraan saja didalam sidang madjelis Dewan Ra’jat saja lebih soeka didalam bahasa Indonesia, karena saja sendiri seorang Indonesier. [S]ekalian bangsa dalam doenia ini lebih soeka berbahasa didalam bahasanja sendiri. Sebabnja perasaan Indonsier tinggal diorang Indonesier, perasaan Belanda di [orang] Belanda, jaitoe seboleh-bolehnja orang-orang itoe membitjarakan bahasanja sendiri. Sebab itoe saja lebih soeka berbitjara dalam bahasa Melajoe dalam madjelis persidangan ini, apalagi mana jang saja bitjarakan didalam madjelis ini boekannja perkataan siapa sadja, melainkan jang sebenarnja terbit dihati sanoebari saja….”

Tindakan JDK itu mencerminkan rasa bangganya kepada Bahasa Indonesia, yang kadang-kadang tidak terefleksi dalam diri dan tindakan berbahasa sebagian besar intelektual pribumi pada waktu itu yang lebih suka berbahasa Belanda karena dianggap lebih bergengsi daripada berbahasa Indonesia.

Dari kutipan pidatonya di atas juga dapat dikesan bahwa JDK mulai mengajuk dan mengaduk perasaan dan emosi wakil-wakil Belanda di Volksraad dengan menggunakan istilah ‘Bahasa Melayu’ dan ‘Bahasa Indonesia’ secara berganti-ganti. Istilah ‘Bahasa Indonesia’ tentu mengandung semangat nasionalisme.

Rupanya orang Belanda terpengaruh juga, seperti terefleksi dalam pertanyaan Leunussen, salah seorang wakil mereka di Volksraad, ketika JDK berpidato tanggal 11 Juli 1938: Leunussen bertanya: “Apa itoe bahasa Indonesia?”

Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa JDK telah mengibarkan dan mengobarkan nasionalisme Bahasa Indonesia di Volksraad, lembaga terhormat yang didominasi orang Belanda itu, sebuah sikap yang merefleksikan penentangannya terhadap segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi bahasa.

JDK telah mencetuskan semangat nasionalisme bahasa Indonesia di Volksraad sebelum terjadinya Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Solo yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Secara simbolis, melalui jalur resmi dan terhormat JDK menghadang superioritas bahasa Belanda di Indonesia, yang selama beratus tahun dijaga dengan kekuasaan dan senjata. Pidato-pidatonya dalam sidang Volksraad yang disampaikan dalam Bahasa Melayu/Indonesia sangat berapi-api dan kaya dengan petatah-petitih Minangkabau.

Apa yang dilakukan JDK cukup membawa hasil: jawaban terhadap pidatonya yang terdahulu disampaikan oleh ketua (voozitter) Volksraad dalam Bahasa Melayu. Hal itu membuatnya sangat gembira. “[Karena] jang terhormat toean wakil pemerintah mengoeraikan roendingan itoe dengan berbahasa Melajoe […], perkataan itoe tersisip dihati sanoebari saja”, kata JDK dalam pidatonya tanggal 30 Juni 1927.

Ketika Fraksi Nasional dibentuk di Volksraad pada Januari 1930 yang dipimpin oleh M.H. Thamrin, JDK langsung bergabung ke dalamnya. Pada bulan Juli 1938—kurang lebih dua minggu setelah Kongres Bahasa Indonesia I usai diadakan di Solo (25-28 Juni), sebagai pengejawantahan dari salah satu ikrar Sumpah Pemuda: “Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”—Fraksi Nasional menyatakan bahwa mereka akan menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap pidato mereka di Volksraad.

Rintisan yang dilakukan JDK akhirnya mendapat sambutan luas di kalangan kaum nasionalis. Pers pribumi menjulukinya “Djago Bahasa Indonesia di Volksraad”. Sebaliknya, pers Belanda yang konservatif menyindir dan mengeritiknya habis-habisan, tak terkecuali pula wakil-wakil mereka di Volksraad, seperti wakil Indische Khatolieke Partij, Piet A. Kerstens, dan Jan Verboom, petinggi Suikersyndicaat di Surabaya dan pengurus Vaderlandsche Club.

Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agutus 1945, Bahasa Indonesia langsung ditetapkan menjadi bahasa nasional dan bahasa resmi negara muda itu. Status itu sungguh tidak datang mendadak. Ada jalan panjang yang sudah dilalui, yang dirintis oleh para intelektual pribumi terhadulu. Salah seorang di antaranya adalah Jahja Datoek Kajo.

Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Faculteit der Letteren Universiteit Leiden, Belanda

*Sumber: Harian Singgalang, Sabtu 24 Oktober 2008

Maling di Kota Gedang Kamis, Des 11 2008 

Semendjak doea boelan ini tiadalah soeni dari pada maling mendatangi setiap tiap kampoeng di negri kita.

1e. di Laboeh gedang diroemah si Lilah djanda dari almarhoem ankoe soetan Palembang, maka dapatlah oleh maling segala kain kain dan kelamboe dan kain kain kasoer jang terkambang di tengah roemah dan didalam bilik kosong.

2e. di Tjatjang di roemah soedara Dt. Tan Mangedan ketjoerian kain kain dan badjoe2 anak2 jang terdjemoer di tengah roemah.

3e. di roemah tinggi soedah 3 kali maling datang meambil ajam dan itik didalam kandang dan didapoer, ada satoe kali pada 26/4′19 maling hendak mendoega masoek roemah jang lenggek dibawah memboeka pintoe djandjang dengan kekarasan tapi beroetoenglah toean roemah lekas tahoe tiadalah djadi simaling beroleh rezki dan oronglah perboeatannja itoe, pada semalam itoe hanjalah jang diperolehnja ijalah barang barang perkakas dapoer sadja.

4e. di Lapau Soetan Sarif maling maoe memboeka pintoe dengan menggali tanah oentoeng lekas ketahoean jang poenja; tidak sampai masoek.

5e. di roemah boenda A. Morad gl. Datoe’ Pangeran maling memindahkan djandjang roemah itoe kadjandela maksoed hendak masoek tapi lantas ketahoean jang poenja roemah. Demikian djoega ada 3-4 boeah roemah dikampoeng2 lain jang djoega hendak memasoekinja. Akan hal ini dipoehoenkan pada jang berhak akan menjelidikinja soepaja negeri senang.

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen ke IV/No.8/15 April 1919

Kedatangan Zijne Excellentie (Z.E.) Gouverneur Genaraal di Kota Gedang Jumat, Des 5 2008 

Pada hari jang telah ditentoekan menoeroet programma perdjalanan Z.E. pada hari Isnajan 16 Augustus ‘20 njatalah soedah pada hari jang terseboet Z.E. akan datang di Kota Gedang mengoendjoengi roemah sekolah renda Keradjinan Amai Setia, itoepoen soedah kira2 15 hari lebih dahoeloe soedah di ansoer2 meoeroeskan segala kebersihan kampoeng2 jang boleh dikatakan setiap2 hari Kota Gedang di datangi Kapala Pemerintah boeat meatoerkan kebersihan kampoeng2 dan sekolah2 sebagai soedah diseboet djoega di Sr.K.G jang telah laloe.

Maka pada hari jang terseboet telah siap sekaliannja Gaba-gaba, merawa Penghoeloe2 dan mandera tiga warna boeat perhijasi kampoeng2 dan djalan2 jang akan di laloei Z.E. maka kira-kira poekoel 9 1/2 pagi telah datang toean Controleur Agam beserta njonja sesampai di Tapi padoeka toean Controleur toeroenlah dari atas auto membitjarakan kapada panghoeloe2 jang sekatika itoe beloem seberapa jang hadir dan meatoerkan bagaimana hendaknja perdirian menanti menjamboet Z.E. itoepoen padoeka atoerkanlah soesoen latakja dan teroes djoegalah ka hilir dimoeka roemah sekolah Studiefonds pedoeka atoerkan poelalah kapada goeroe2 bagaimana anak2 sekolah itoe menjamboet dan bernjanji dan teroes djoegalah ke roemah sekolah K.A.S disana padoeka toean Controleur dan njonja melihat soesoen latak segala barang-barang dan perhiasan adalah menjenangkan hati padoeka toean dan njonja apalagi ada seboeah medja dihijasi barang2 anoegerah jang diberikan Gouv: kepada almarhoem ankoe Datoe di Negeri Orang Kaja Besar Hoofd Djaksa Padang jang pensioen jaitoe ajah dari ankoe Soetan Mohamad Salim Hoofd Djaksa Riauw jang soedah pensioen poela seboeah bintang mas besar pakai rantai pandjang dan seboeah baki terboeat dari perak dan beberapa soerat2 tanda terima kasih kapada almarhoem ankoe Hadji Abdoel Gani Radja Mangkoeta dari Minister van Colonien dan Prins van Oranje poetera mahkota Radja di negeri Belanda tetakala beliau pergi ke negeri Belanda dan soerat2 itoe bertarich di dalam tahoen 1871 dan 1875 melihat keadaan ini sangat menjenangkan hati padoeka. Dan bertanja siapa almarhoem itoe maka ketika itoe anak dari almarhoem jaitoe ankoe Soetan Mohamad Arif mantri O.R. Sawahloento jang pensioen ada hadir maka baliau terangkanlah dengan setjoekoep2nja karena kalau2 Z.E. bertanjakan nanti.

Didalam roemah sekolah itoe di atoerkanlah moerid-moerid satoe-satoe klasnja dan dibelakang ada tersedia lagi seboeah Loods tempat bertenoen. Dan diatoer djoega orang jang akan memakai pekajan marapoelai sampai 3-4 ketoeroenan pekajan; boeat memakai pekajan marapoelai laki-laki pentjarian ninik mamak dan anak negeri,

1e. Baas (tahoe bahasa Belanda) memakai pekajan berdestar gedang mas, roki dari beloedroe memakai terapang dan panding sebagai nan dibiasakan tiap-tiap orang berkahwin berlarak.
2e. Sjarif memakai badjoe gadang sawara bertjoekir dan memakai destar bersaloek
3e. Adjis memakai kain tarewai
4e. Mintjen idem

dan boeat memakai pekajan merapoelai perampoean.

1e. Mainar (tahoe bahasa Belanda) memakai Badjoe Beramas, kain samboeran bergelang gadang, bertalakoeng enz. enz.
2e. Moezoena memakai Badjoe Soetra Salindang dan sapoetangan enz. enz.
3e. Goem memakai Badjoe hitam betarawang enz. enz.
4e. Sabaa memakai Badjoe Tjela soetra enz. enz.

Jang memakai pakajan marapoelai laki-laki sebelah kanan dari pintoe masoek di Gang tengah. Jang memakai pekajan marapoelai perampoean di sebelah kiri pintoe di dekat medja barang-barang anoegerah Gouv. tadi. Dan kira-kira poekoel 10 datang lagi ankoe Demang Bt. Tinggi baliau poen toeroenlah di Tapi poen adalah bersenang hati melihat segala Penghoeloe2 dan anak negeri memakai pekajan jang sepatoetnja; gadang ketjil toea moeda kaloear semoeanja laki laki perampoean; bersenang hatilah segala anak-anak sambil berkata oleh karena pada ini tahoen tiada meadakan keramaijan penoetoep hari raja tersebab anak negeri ditimpa bahaja kelaparan dengan keramaijan inilah diganti jang barangkali 3 kali lipat raminja, apalagi adalah poela di datangi penghoeloe-penghoeloe dan orang moedanja di iringkan mantjak dan tari poepoet dan saloeng dari Sianok, Goegoe’ dan Koto Toea serta kepala-kepala negeri jang terseboet memakai pakajan adat, maka ankoe Demang moendar-mandir sadja berdjalan kian kemari membantoe peratoeran pendirian penghoeloe-penghoeloe.

Maka semantara menanti kedatangan Z.E. berbagailah boeni saloeng dan poepoet jang di iringi dengan njanji oleh Bagindo Kajo Koto Toea bersoeka rajalah segala marika.

Maka pada poekoel 1 betoel kelihatan seboeah Auto, itoepoen merikaitoe rioehlah pada bersoesoen sebagaimana jang diatoerkan, sekiranja Auto itoe dinaiki oleh doea orang toean toekang gambar Z.E. sambil toean itoe mengatakan ta’ berapa lagi Z.E. akan sampai disini ijalah toean ini sebagai pengendjoer djalan, karena selaloe toean-toean itoe toeroet djoega kamana-mana Z.E. berdjalan. sekiranja 10 menut lagi nampaklah Auto jang dinaiki Z.E. jang memakai bandera ke angkatan Z.E. jang berkibar-kibar di amboes angin maka bersedialah segala jang hadir sesampai Z.E. di dekat Soerau Tinggi diboenikanlah satoe poetjoek mariam alamat menjamboet kedatangan Z.E. dan taboeh nebderoelah serta gong dan gandang bertioep poela, Auto Z.E. akan masoek pintoe Gerbang (gaba-gaba) jang di Tapi berdjalan lambat dan di sonsonglah sepandjang adat dengan sirih ditjarano basahok dengan kain koening, itoepoen ankoe Dt. Mage’ Labih meoendjoekan tjarano itoe kepada Z. E. dan njonja besar serta toean Loehak Agam jang sama2 diatas Auto itoe, maka Z.E. menjemboet sirih itoe dengan sanjoem simpoel demikian djoega dengan njonja besar, maka teroes djoegalah Auto kenaikan Z.E. ka roemah sekolah K.A.S. dimoeka roemah sekolah Studiefonds disamboetlah dengan njanjian anak-anak sekolah dan sampai di roemah sekolah K.A.S. menderoe poelalah Gaoeng dan Gandang.

Maka dibelakang Auto kenaikan Z.E. bertoeroet2lah 10 boeah Auto jang dinaiki oleh beberapa toean2 jang berpangkat2 tinggi, toean2 pengiring Z.E. dan toean besar Soematera Barat.

Maka toeroenlah Z.E. dan njonja besar dari Auto dan teroes naiklah ke sekolah K.A.S. moela2 masoek Z.E. melihat sekali keatas medja jang berisi Bintang dan Baki serta soerat-soerat itoe serta membatjanja dan bertanjakan dengan bahasa Belanda siapa orang ini jang ketika itoe Mainar ada berdiri; itoepoen Mainar mendjawab dengan bahasa Belanda mengatakan jang orang toea itoe ninik dari soeaminja Dr. Mohd. Sjaaf jang sekarang melandjoetkan peladjaran di negeri Belanda. Z.E. bertitah peladjaran apa.

Djawab Mainar, obat mata karena disini orang banjak sakit mata tersebab ajer koerang baik, Z.E. bertitah mengapa tidak ambil ajer hoedjan.

Djawab Mainar ada tapi kaloe soedah panas tida ada lagi.

Titah Z.E. Ajer dari mana diambil oleh anak negeri.

Djawab Mainar Ajer dari sawah2 sadja.

Maka Z.E. roepanja sebagai memberi isjarat kepada pengiring Z.E. jang dengan sebentar itoe meambil notes dan menoeliskan (segala marika jang melihat menadahkan tangan ke arah langit; tergeraklah hati orang besar ini akan memberi pertoeloengan waterleiding).

Dan bertitah lagi pada Mainar kamoe apa maoe pergi djoega ka negeri Belanda? Ija dalam boelan September soedah dapat tempat beloem dapat chabar tapi soedah diminta.

Setelah Z.E. selasai bitjara dengan Mainar maka berdjalanlah Z.E. melihat sebelah kanan tempat pakajan marapoelai laki-laki, bertanja poela dalam bahasa Belanda kepada Baas kamoe siapa? Djawab goeroe sekolah S.K.G. soedah berbini? soedah; dan soedah ada anak, soedah ada 1 dan bertanjakan lagi bagaimana atoeran ini pakajan; maka Baas menerangkan dengan sedjalas-djalasnja satoe persatoe atoeran pekajan itoe.

Maka baroelah Z.E. melihat perboeatan tangan anak-anak dan renda-renda itoe setiap-tiap kelasnja serta bertanja. Apalagi njonja besar bertanja dengan senjoem simpoel dan melihat orang bertanoen serta soeroeh menjoedahkan dengan segira doea pasang moeka slof dan naik koembali ka gang ditangah.

Maka sepeninggal Z.E. dan njonja besar melihat di lain-lain klas berganti-gantilah toean-toean itoe datang bertanja pada Mainar dan Baas, roepanja banjak menaroeh heran karena melihat Mainar mendjawab segala segala apa apa pertanjaan dengan hati jang tetap dan sabar serta teratoer dengan ringkas perkataan jang banjak mengandoeng isinja jang berarti.

Sebentar berdiri maka datanglah Directerise (Hadisah) bersama Bestuures dari K.A.S. menjambahkan karangan boenga beserta 2 boeah bantalan terboeat daripada soetra koening jang memakai renda-renda Palembang perboeatan tangan moerid2 K.A.S. (1e. boeat bantal doedoek di Auto, 2e. boeat bantal penoetoeb teko thee) menjambahkan dengan segala hormat boeat njonja basar; maka njonja besar menerima dengan segala soeka hati serta meminta’ banjak terima kasih.

Sekoetika lagi madjoe poela ankoe Datoe’ Maharadja menjambahkan dengan segala kehormatan serta menarangkan jang bahasa segala panghoeloe2 dan segala anak boeah di K.G. memberi 1 bingkisan persembahan boeat njonja besar 1 halai kamboet perboeatan tangan anak negeri Koto Gedang dan menerangkan oleh karena Z.E. telah soedi datang di negeri kami ini moedah-moedahan Allah mendatangkan sitawar dan sidingin bagi kami saisi negeri akan kedatangan Z.E. itoe; mendengar persambahan ankoe Dt. Maharadja ini Z.E. menerima dengan soeka hati poela serta bertanja panghoeloe apa djadi kapala dari panghoeloe nan lain-lain djawab ankoe Dt. Maharadja perhamba dioetoes dengan kata semoefakat oleh penghoeloe2 dan anak boeah Kota Gedang menjambahkan persambahan ini itoepoen Z.E. meminta’ terima kasih banjak; serta memboeka sekali bingkisan itoe, dan setelah njata isinja meoelang lagi mengatakan terima kasih dan akan menjimpan dimana tempat jang baik.

Adalah kira-kira setengah djam betoel Z.E. di roemah sekolah K.A.S. memperhatikan apa-apanja. Setelah selasai Z.E. dan njonja besar berangkat toeroen dan teroes naik Auto berdjalan ke Boekit Tinggi demikian poelalah toean2 jang lain, setelah sekalian Auto2 itoe melaloei Tapi maka di tioep lagi sepoetjoek mariam alamat memberi selamat djalan. Dan oleh toean toekang2 gambar semoanja moerid sekolah renda jang sedang bekerdja didalam tiap2 klasnja dan orang jang memakai pakajan merapoelai laki2 perampoean dipotret poela. Demikian djoega panghoeloe2 dan ankoe2 dan segala orang2 moeda jang hadir serta berdjanji akan mengirim tiap2 potret itoe sehelai boeat sekolah.

Selasai daripada ini kira2 poekoel 2 berangkat poelanglah segala marikaitoe dan berbondong2lah ketje’ mangetje’ ma’aloemlah ankoe2 pembatja lebih2 beronggok2 doedoek di Tapi memperkatakan ini dan itoe (tentoe lebih beringin hati sanak soedara jang dirantau jang pendoedoek ka Tapi katika poelang boekan?)

Salam kami

Orang di Kampoeng

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen ke V/No. 10/ September 1920