Sinar jg Hilang dari negri Kita Kota Gedang Kamis, Okt 30 2008 

Z. Sutan Negeri

Telah dinjatakan oleh penulis2 dizaman lampau, bahwa sebelumnja orang Kotogadang mentjampungkan dirinja kedalam bidang kepegawaian, atau jang masih disebutkan pada seperempat abad jang lalu dengan kata2 “golongan Ambtenaar”, maka jang mendjadi sumber ekonomi atau mata pentjaharian bagi anak negeri adalah berdagang, bertani dan bertukang emas atau perak.

Menjangkut dengan pertukangan jaitu kesenian bertukang mas dan perak, memang telah lama sekali dimiliki oleh ninik mojang kita, sehingga kalau kita membatja hikajat2 lama, seperti Tjindua Mato ataupun buku2 pidato2 lama, nistjaja terdapat kalimat2 jag berkenaan dengan ukiran2 emas dan perak: “Buatan Sianok Koto Gadang”.

Kalau di Sulawesi ada Kendari, di Djawa ada Kota Gede (Jogja), maka di Sumatera ada Kotogadang.

Pembuatan dan penjalurannja

Dalam zaman jang lalu itu hasil2 pertukangan perak berupa stelan Rumah2 Minangkabau jang terdiri dari Rumah2 Berandjung (Gadjah Maharam), sebuah Bajan (Lumbung padi berkaki enam), dua buah Rangkiang (Lumbung ketjil berkaki empat), sebuah mesdjid dan sebuah balairung. Djuga dihasilkan tjintjin-tjintjin, leontin2, boboniere (tempat menjuguhkan gula2) dll. Semua ini sangat disukai oleh warga negara2 Barat, lebih2 oleh orang Belanda jang hendak pulang kenegerinja sebagai pegawai jang sedang tjuti, istimewa lagi bagi jang pulang pensiun, buat oleh2 atau kenang2an untuk keluarga mereka.

Jang mendjadi pendjual dan penjalur barang2 ini ialah winkel-winkel mas kita, atau tukang sendiri dan toko barang2 antik. Disamping itu Dinas Landbouw en Nijverheid (Dinas pertanian dan Barang Keradjinan Anak negeri) dapat pula membantu sebagai penjalur utama dari hasil2 keradjinan tsb.

Mari kita tindjau sampai ditaraf mana benarkah kwalitas jg ditjapai dan penilaian jang diperoleh orang kita dalam bidang pertukangan perak ini.

Di Bukittinggi dan Padang

Dahulu, dikala Pemerintah jang lama telah mulai mengadakan petundjukan2 barang Keradjinan (Perusahaan) anak negeri, Winkel Mas B. Joenoes v/h Sutan Soleman jang didjalan Kumidi atau sekarang djalan Minangkabau di Bukittinggi, hampir selalu sadja mendapat Eere Diploma dengan Medalinja (Surat Penghargaan) serta memperoleh Bintang misalnja:

1. Dalam Pertundjukan Besar di Surabaya pada tahun 1900
2.     ”              ”                ”     ”        ”          ”         ”     1908
3.     ”              ”                ”     ”        ”          ”         ”     1914
4.     ”              ”                ”     ”  Semarang  ”         ”     1908
5.     ”              ”                ”     ”       ”           ”         ”     1914
6.     ”              ”                ”     ” Bukittinggi pada tahun 1907
7.     ”              ”                ”     ” Pajakumbuh  ”        ”     1909
8.     ”              ”                ”     ”           ”          ”        ”     1912
9.     ”              ”                ”     ” Arhem (Neg. Belanda) pada tahun 1928

Disamping itu, selain dari winkel mas B. Joenoes jang sekarang dikendalikan oleh anak beliau jang bernama Panor Joenoes itu, di Bukittinggi dahulu ada lagi sebuah Winkel Mas orang awak dengan merek “Bandaharo Kuning” jang kemudian dirubah mendjadi “H. Mohd Sjarif” setelah beliau kembali dari Tanah Sutji. Letak winkel ini berdampingan dg Winkel Mas B. Joenoes.

Winkel Mas ini tidak kurang2nja pula mendapat Surat Penghargaan serta Bintangnja, dimana sadja Pertundjukan Besar diadakan oleh Pemerintah dewasa itu seperti Pasar Gambir (Djakarta), Pasar Malam di Semarang, Jaar Markt di Surabaja. Jaarbeurs di Bandung dan sebagainja.

Pendeknja asal Winkel Mas kita jang dua ini ikut serta dalam pertunjukan2 Besar itu, pastilah dia mengondol Surat Penghargaan serta Medalinja pulang.

Adapun di padang, dimana orang kita banjak pula berbengkel mas seoerti Winkel Mas (Tempat Bergarak Emas) dengan merek “A. Malik St. Mangkuto” jang kemudian bernama “Maratjat”, dan kemudian lagi dengan merek “Zubir”. Sungguhpun orang kita banjak djadi pegawai atau tukangnja, tetapi kerdja mereka bukanlah disertai dengan membuat barang-barang perak, hanja melulu barang emas sadja. Demikian djuga diperwakilan almarhum M. Rasjid St. Maruhum, jaitu tempat bergarak e. Djohan St. Madjo Indo (Bagindo Besar).

Di Kotogadang sendiri

Djangan pula dilupakan, sebagai perorangan, almarhum Marzuki gelar Radjo Mudo (diwaktu mudanja bergelar Sutam Palangai, adik dari Almarhum A. Malik tadi) sebagai pengusaha jang tidak berwinkel dikota, pernah pula mendapat surat2 penghargaan dengan bintang2nja dimana sadja beliau turut mempertundjukan keradjinan perak Kotogadang.

Seorang pribadi jang besar djasanja dalam pengendalian Kota Gedang Filigraan werk tahun 1937/1938 (barang perak halus) adalah Almarhum ajahanda Mirin gelar Datuk Radjo Bandaharo (Sikumbang Tapi). Beliau ini pernah memimpin pembuatan barang2 kado jang akan dihadiahkan oleh Sultan Asahan kepada keradjaan Belanda jaitu stelan Dulang Perak (Baki dan selengkapnja). Diakui oleh seluruh para Tukang Mas dan Perak kita bahwa beliau ini tidaklah dianggap sebagai Tukang biasa, tetapi adalah seorang ahli dan boleh disebut Guru Besar dinegeri kita dalam bidang pertukangan mas dan perak.

Keadaanja dewasa ini

Setelah orang kita begitu meresap kedalam djantungnja dan ketagihan ingin djadi pegawai atau hidup makan gadji, mereka semua baik dari kalangan jang telah djadi pegawai ataupun dari kalangan tukang mas perak, sama menjerahkan anak kemenakan mereka kesekolah untuk kemudian mendjadi ambtenaar atau pegawai pula, dan lebih diinginkan lagi sampai mendapat titel hendaknja. Dengan demikian mau tak mau, disadari atau tidak, lapangan kesenian mas dan perak kian lama kian tidak mendapat pasaran lagi dalam djiwa angkatan baru; pendeknja generasi baru tidak ada lagi jang mempeladjari kesenian tersebut. Ja, boleh dikata tidak ada lagi jang mempunyai hasrat buat melandjutkan usaha pertukangan perak atau mas jang diwariskan oleh ninik mojang kita dahulu itu.

Tetapi pula, manakala kita tilik dari segi ekonomi, maka chusus kesenian perak jang halus2 seperti jang kita bitjarakan diatas tadi, rasa2nja memang tidak dapat didjadikan sumber rezeki lagi, karena selain dari memuatnja memerlukan ketekunan jang sangat, muara tempat mengalirkannja semendjak zaman pendudukan Djepang hingga kini tak ada lagi, ketjuali sesekali dengan datangnja para turis atau pariwisatawan2 Luar negeri, dan inipun tidak dapat didjadikan djaminan untuk penjaluran barang perak manakala terus menerus diusahakan sebagai mata pentjaharian.

dalam tjatatan kita, dua tiga pengusaha barang perak jang masih ada sekarang boleh dikatakan sudah tidak tetap kebagian kerdja lagi.

Kesimpulan

Dengan lenjapnja hasrat bertukang perak dan mas dari kalbu orang kita, maka sinar gemilang dan kemasjhuran negeri kita dalam bidang pertukangan ini dari zaman kezaman berangsur2 pudar, kabur dan hilang sama sekali. Tinggalah semua itu dalam tjatatan sedjarah sadja lagi.
Mungkinkah kemsjhuran ini kembali lagi walaupun agak sebentar?

Kotogadang 6-9-66

Sumber: Tjanang Tahun IV/No.16/Djanuari-Februari 1967

Lebaran di Kampung Kamis, Okt 2 2008 

Pada hari raja ini kelihatan kesibukan besar disekeliling Tapi. dari sedjak pagi betul orang saling hilir mudik melalui Tapi ini mengundjungi rumah2 jang patut dituruti. Agak tinggi hari sedikit, datanglah orang berkumpul2 ke Tapi. Nampak pula beberapa orang ber”tarewai”, jaitu orang jang baru sadja kawin atau baru satu tahun mendjadi penganten semua memakai pakaian “enteng” jakni pakaian penganten jang sudah dipermudah sedikit. Dengan pemakaian selendang bersudji dan dihiasi benang2 emas, berlapis2 dari satu sampai tudjuh helai. Dari djumlah lapisan itu dapat mengira2 sudah berapa lama sipemakai mendjadi penganten.

Tidak lama Tapipun sudah penuh dengan orang banjak, tua muda besar ketjil. Djuga sekumpulan pemain musik jang terdiri atas beberapa biola, gitar dan tambur besar maupun ketjil telah bersiap pula. Sekarang arak2an pergi mendjemput engku kepala kampung kerumah beliau untuk bersama2 mendjelang ke rumah Tuanku Laras. Arak2an mulai melangkah, tetapi untuk sampai kerumah engku kepala tersebut, tidaklah diambil djalan sependek2nja, melainkan diambil djalan jang berliku2 melalui beberapa bagian kampung.

Sesampai dirumah engku kepala, dimana beliau sudah siap menerima orang banjak itu, dimulailah pidato pandjang pendek. Achirnja beliau bersama rombongan besar itu berangkat menudju rumah Tuanku Laras. Sepandjang djalan musik hampir tak hentinja membunjikan lagu2 dengan meriahnja, teristimewa bunji tambur jang terus menerus terdengar dengan lantangnja.

Pada tiap melaui rumah2 jang banjak itu, terus kelihatan walaupun tidak dengan terang, dibelakang2 pintu atau djendela beberapa gadis2 mengintip arak2an ini dengan tentu tidak melupakan pula melajangkan pandangannja kearah pemuda2 jang mengikuti arak2an ini. Pemuda2 ini mengetahui pula hal ini dan bermatjam2 sikap mereka ambil terhadap sipengintip. Ada jang menerima intipan ini dengan kelakar dan tertawa-tawa, ada jg dengan diam2 membalas pula dengan lajangan pandangan jang tadjam dengan diam2 kearah sipengintip itu dan ada pula jang berdjalan terus dengan gagah dan kaku seperti tidak ada kedjadian apa jang harus dapat perhatian. Tetapi tudjuan dari semua ragam tindakan itu, lain tidak ialah buat menatik perhatian belaka.

Sekarang tibalah rombongan itu dirumah Tuanku Laras. Disini mereka diterima dengan segala kehormatan oleh sipangkal (tuan rumah atau wakilnja). Setelah berulang2 pidato menurut adat kebiasaan, pandjang lebar, maka rombongan besar ini dipersilahkan naik kerumah gedang.

Sebelum makan minum diadakan dahulu beberapa pidato jang dapat kita bagi atas dua bagian. Pertama pidato sambut menjambut antara sipangkal dan tamu. Pidato ini biasa sadja, tetapi tak djarang pula kita melihat seorang tamu jang gemetar dan putjat kalu suatu saat terdengar pidato jang ditudjukan kepada dirinja. Orang jang pintar dan lantjar berbitjara diluar dengan teman2nja, kelihatan disini gemetar dan gugup mendjawab pidato itu. Pidato kedua ialah pidato seorang, jang berdiri, memperdengarkan uraian sedjarah alam minangkabau umumnja dan adat chususnja, dengan lantjar dan lantang. Pidato ini dilagukan dengan suara turun naik menurut tjaranja tersendiri. Sesudah selesai pulaini, jang kadang2 mengambil waktu beberapa djam, maka dipersilahkanlah makan dan minum.

Selesai makan dilandjutkan pula pidato2 dari tamu kepada tuan rumah. pidato2 ini sering diiringi dengan kelakar, tetapi pembitjara harus berhati2 mengeluarkan perkataannja karena djangan dapat sesalan dari sipendjawab. Maklumlah perkataan2 sering dapat diartikan lebih dari satu matjam. Karena hal ini mungkin terdjadi perdebatan sengit antara kedua tukang pidato jang mendapat perhatian besar dari semua jang hadir. Disini pulalah dapat kita melihat siapa jang unggul dan siapa jang kurang lantjar berpidato.

Sudah selesai semua barulah orang banjak mengangkat selo (siap berdiri) dan pulang ke tempat masing2. Kundjung mengundjungpun terus dilandjutkan sehari2an dan kadang2 besok harinja diulangi lagi.

Sore harinja berkumpul pulalah orang kampung dengan seluruh ninik mamak nan 24 ditanah lapang Balik Tjumano di Hilir. Disini beberapa soal dan masalah kampung dan adat2 jang diadatkan dibitjarakan dan perubahan2 untuk jang akan datang diumumkan. Semua keputusan diambil dengan suara bulat, dari seluruh pengundjung rapat. Perajaan pada hari raja diachiri sampai disini dengan bagian resminja. Tinggal lagi kundjung mengundjung jang memakan waktu k.l seminggu.

Didalam minggu ini, diadakan dibeberapa rumah, alek mudo, artinja ialah peralatan djamuan jang diadakan dirumah orang jg baru naik nobat atau jang agak lama sedikit mendjadi penganten. Untuk peringankan ongkos negeri untuk upatjara penutupan hari raja di Tapi, maka ditiap rumah alek mudo itu diadakan sematjam lotery tombola. Pengeluaran ongkos untuk mentjari uang itu boleh dikatakan hampir tidak ada, karena semua pekerdjaan dilakukan dengan kerelaan hati para penolong sadja. Keuntungan bersih dari lotery ini diserahkan kekas Medan Muda Setia.

Achirnja tibalah penutupan hari raja. Di Tapi diadakan permainan untuk anak2, diantaranja ialah memandjat batang pinang jang terlebih dahulu diperlitjin dan diperlengkapi diatasnja dengan barang hadiah. Kegembiraan terlihat diwadjah semua jang menjaksikan, terutama anak2. Malamnja diadakan pertundjukan sandiwara dipanggung jang sudah dihiasi dan berganti rupa mendjadi rumah kumidi. Biasanja tjerita diambil dari dongeng2 kuno dan semua pemain terdiri dari pemuda2. Pada waktu malam itu, penuh sesaklah sekeliling panggung dengan penonto jang menjaksikan pertundjukan itu dengan segala kegembiraan.

Dengan berachirnja sandiwara ini berachir pulalah perajaan hari raja dikampung.

(Dipetik dari kumpulan karangan R.M. Wazar:”Kotogadang dan Tjerita Pendek”)

Sumber: Tjanang Tahun II/No.5/Pebruari 1965