Z. Sutan Negeri
Telah dinjatakan oleh penulis2 dizaman lampau, bahwa sebelumnja orang Kotogadang mentjampungkan dirinja kedalam bidang kepegawaian, atau jang masih disebutkan pada seperempat abad jang lalu dengan kata2 “golongan Ambtenaar”, maka jang mendjadi sumber ekonomi atau mata pentjaharian bagi anak negeri adalah berdagang, bertani dan bertukang emas atau perak.
Menjangkut dengan pertukangan jaitu kesenian bertukang mas dan perak, memang telah lama sekali dimiliki oleh ninik mojang kita, sehingga kalau kita membatja hikajat2 lama, seperti Tjindua Mato ataupun buku2 pidato2 lama, nistjaja terdapat kalimat2 jag berkenaan dengan ukiran2 emas dan perak: “Buatan Sianok Koto Gadang”.
Kalau di Sulawesi ada Kendari, di Djawa ada Kota Gede (Jogja), maka di Sumatera ada Kotogadang.
Pembuatan dan penjalurannja
Dalam zaman jang lalu itu hasil2 pertukangan perak berupa stelan Rumah2 Minangkabau jang terdiri dari Rumah2 Berandjung (Gadjah Maharam), sebuah Bajan (Lumbung padi berkaki enam), dua buah Rangkiang (Lumbung ketjil berkaki empat), sebuah mesdjid dan sebuah balairung. Djuga dihasilkan tjintjin-tjintjin, leontin2, boboniere (tempat menjuguhkan gula2) dll. Semua ini sangat disukai oleh warga negara2 Barat, lebih2 oleh orang Belanda jang hendak pulang kenegerinja sebagai pegawai jang sedang tjuti, istimewa lagi bagi jang pulang pensiun, buat oleh2 atau kenang2an untuk keluarga mereka.
Jang mendjadi pendjual dan penjalur barang2 ini ialah winkel-winkel mas kita, atau tukang sendiri dan toko barang2 antik. Disamping itu Dinas Landbouw en Nijverheid (Dinas pertanian dan Barang Keradjinan Anak negeri) dapat pula membantu sebagai penjalur utama dari hasil2 keradjinan tsb.
Mari kita tindjau sampai ditaraf mana benarkah kwalitas jg ditjapai dan penilaian jang diperoleh orang kita dalam bidang pertukangan perak ini.
Di Bukittinggi dan Padang
Dahulu, dikala Pemerintah jang lama telah mulai mengadakan petundjukan2 barang Keradjinan (Perusahaan) anak negeri, Winkel Mas B. Joenoes v/h Sutan Soleman jang didjalan Kumidi atau sekarang djalan Minangkabau di Bukittinggi, hampir selalu sadja mendapat Eere Diploma dengan Medalinja (Surat Penghargaan) serta memperoleh Bintang misalnja:
1. Dalam Pertundjukan Besar di Surabaya pada tahun 1900
2. ” ” ” ” ” ” ” 1908
3. ” ” ” ” ” ” ” 1914
4. ” ” ” ” Semarang ” ” 1908
5. ” ” ” ” ” ” ” 1914
6. ” ” ” ” Bukittinggi pada tahun 1907
7. ” ” ” ” Pajakumbuh ” ” 1909
8. ” ” ” ” ” ” ” 1912
9. ” ” ” ” Arhem (Neg. Belanda) pada tahun 1928
Disamping itu, selain dari winkel mas B. Joenoes jang sekarang dikendalikan oleh anak beliau jang bernama Panor Joenoes itu, di Bukittinggi dahulu ada lagi sebuah Winkel Mas orang awak dengan merek “Bandaharo Kuning” jang kemudian dirubah mendjadi “H. Mohd Sjarif” setelah beliau kembali dari Tanah Sutji. Letak winkel ini berdampingan dg Winkel Mas B. Joenoes.
Winkel Mas ini tidak kurang2nja pula mendapat Surat Penghargaan serta Bintangnja, dimana sadja Pertundjukan Besar diadakan oleh Pemerintah dewasa itu seperti Pasar Gambir (Djakarta), Pasar Malam di Semarang, Jaar Markt di Surabaja. Jaarbeurs di Bandung dan sebagainja.
Pendeknja asal Winkel Mas kita jang dua ini ikut serta dalam pertunjukan2 Besar itu, pastilah dia mengondol Surat Penghargaan serta Medalinja pulang.
Adapun di padang, dimana orang kita banjak pula berbengkel mas seoerti Winkel Mas (Tempat Bergarak Emas) dengan merek “A. Malik St. Mangkuto” jang kemudian bernama “Maratjat”, dan kemudian lagi dengan merek “Zubir”. Sungguhpun orang kita banjak djadi pegawai atau tukangnja, tetapi kerdja mereka bukanlah disertai dengan membuat barang-barang perak, hanja melulu barang emas sadja. Demikian djuga diperwakilan almarhum M. Rasjid St. Maruhum, jaitu tempat bergarak e. Djohan St. Madjo Indo (Bagindo Besar).
Di Kotogadang sendiri
Djangan pula dilupakan, sebagai perorangan, almarhum Marzuki gelar Radjo Mudo (diwaktu mudanja bergelar Sutam Palangai, adik dari Almarhum A. Malik tadi) sebagai pengusaha jang tidak berwinkel dikota, pernah pula mendapat surat2 penghargaan dengan bintang2nja dimana sadja beliau turut mempertundjukan keradjinan perak Kotogadang.
Seorang pribadi jang besar djasanja dalam pengendalian Kota Gedang Filigraan werk tahun 1937/1938 (barang perak halus) adalah Almarhum ajahanda Mirin gelar Datuk Radjo Bandaharo (Sikumbang Tapi). Beliau ini pernah memimpin pembuatan barang2 kado jang akan dihadiahkan oleh Sultan Asahan kepada keradjaan Belanda jaitu stelan Dulang Perak (Baki dan selengkapnja). Diakui oleh seluruh para Tukang Mas dan Perak kita bahwa beliau ini tidaklah dianggap sebagai Tukang biasa, tetapi adalah seorang ahli dan boleh disebut Guru Besar dinegeri kita dalam bidang pertukangan mas dan perak.
Keadaanja dewasa ini
Setelah orang kita begitu meresap kedalam djantungnja dan ketagihan ingin djadi pegawai atau hidup makan gadji, mereka semua baik dari kalangan jang telah djadi pegawai ataupun dari kalangan tukang mas perak, sama menjerahkan anak kemenakan mereka kesekolah untuk kemudian mendjadi ambtenaar atau pegawai pula, dan lebih diinginkan lagi sampai mendapat titel hendaknja. Dengan demikian mau tak mau, disadari atau tidak, lapangan kesenian mas dan perak kian lama kian tidak mendapat pasaran lagi dalam djiwa angkatan baru; pendeknja generasi baru tidak ada lagi jang mempeladjari kesenian tersebut. Ja, boleh dikata tidak ada lagi jang mempunyai hasrat buat melandjutkan usaha pertukangan perak atau mas jang diwariskan oleh ninik mojang kita dahulu itu.
Tetapi pula, manakala kita tilik dari segi ekonomi, maka chusus kesenian perak jang halus2 seperti jang kita bitjarakan diatas tadi, rasa2nja memang tidak dapat didjadikan sumber rezeki lagi, karena selain dari memuatnja memerlukan ketekunan jang sangat, muara tempat mengalirkannja semendjak zaman pendudukan Djepang hingga kini tak ada lagi, ketjuali sesekali dengan datangnja para turis atau pariwisatawan2 Luar negeri, dan inipun tidak dapat didjadikan djaminan untuk penjaluran barang perak manakala terus menerus diusahakan sebagai mata pentjaharian.
dalam tjatatan kita, dua tiga pengusaha barang perak jang masih ada sekarang boleh dikatakan sudah tidak tetap kebagian kerdja lagi.
Kesimpulan
Dengan lenjapnja hasrat bertukang perak dan mas dari kalbu orang kita, maka sinar gemilang dan kemasjhuran negeri kita dalam bidang pertukangan ini dari zaman kezaman berangsur2 pudar, kabur dan hilang sama sekali. Tinggalah semua itu dalam tjatatan sedjarah sadja lagi.
Mungkinkah kemsjhuran ini kembali lagi walaupun agak sebentar?
Kotogadang 6-9-66
Sumber: Tjanang Tahun IV/No.16/Djanuari-Februari 1967