Di Gigit andjing Sabtu, Sep 20 2008 

Pada pagi hari Selasa tanggal 23 September 1921 anak2 dari negeri kita K.G. pergi ka sekolah ka Boekit Tinggi, sesampai di atas ngarai (dilapau si Radai dahoeloe) anak2 itoe membeli pisang goreng dilapau2 kebetoelan anak-anak bereboet hendak dahoeloe mendahoeloei sambil bergaloet-galoet djoega. Barangkali andjing hendak mereboet pisang goreng jang dipegang anak-anak itoe, kebetoelan sampai andjing itoe menggigit kapada Joesma anak dari Soetan Malekewi; maka anak ini memintak pertoloengan pada kawan-kawannja. Itoepoen ditolonglah oleh Rasjid anak dari St. Djamaris jang ketika itoe dia ada memegang seboeah botol laloe dipoekoelkannja ka kapala andjing itoe, itoepoen andjing itoe menggigit lagi padanja; maka berani2lah kawan2nja jang lain menolong memperpoekoelkan andjing itoe sampai mati; sedang kedoea anak jang kena gigit andjing itoe kedoeanja moerid pada sekolah HIS Gouvernement di FdK sesampai anak-anak itoe disekolah maka toean goeroe mengirim kedoea anak itoe kepada toean Doctor Hewan soepaja Doctor Hewan dapat memariksa andjing itoe barangkali gila itoepoen toean Doctor Hewan membawa kedoea anak itoe dengan Auto katempat andjing tadi soepaja dapat diperiksa, kebetoelan andjing itoe tidak dapat diperiksa lagi banaknja soedah tjair diperpoekoelkan, lantas toean Doctor Hewan membawa anak-anak itoe keroemah sakit minta diperiksa dan diobati; sesampai disana telah diperiksa dan diobat, tapi ta’ boleh tidak misti dikirim ka Betawi.

Djadi beresok hari tanggal 24 September anak-anak itoe berangkat dari FdK adalah diiringkan oleh familienja dapat vrij ongkos poelang pergi, Joesma diiringkan oleh mama’nja Bibik gl. Soetan Machoedoem, Rasjid diiringkan oleh bapanja Soetan Djamaris.

Sesampai di Betawi teroes berobatlah sekali adalah 17 hari berobat disana baroelah koembali poelang dan sekarang anak2 itoe telah bersekolah koembali, djanganlah hendaknja membahajai kepada kedoea anak-anak itoe adanja.

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen ke VI/No. 12/September 1921

Kiprah Seorang Minang ”Jago Bahasa Indonesia” di Volksraad Sabtu, Sep 20 2008 

Buku ini mempersembahkan kepada kita dokumen penting berupa sumber pertama seputar kiprah seorang wakil Minangkabau yang paling vokal di Volksraad (Dewan Rakyat) di zaman kolonial: Jahja Datoek Kajo (JDK). Ia dua kali terpilih mewakili masyarakat Minangkabau di Volksraad (Dewan Rakyat), yaitu pada periode 1927-1931 dan 1935-1939. Inilah buku kedua dari ketiga penulis di atas; buku pertama mereka, Koto Gadang Masa Kolonial (Yogykarta: LKiS, 2007), juga membicarakan aspek historis Koto Gadang, sebuah nagari Minangkabau yang paling maju berkat sikap kooperatif masyarakatnya dengan Belanda.

Tampaknya para penulis buku ini lebih sebagai peminat dan penikmat sejarah ketimbang sejarawan. Mereka suka mengumpulkan dokumen-dokumen lama walaupun tidak memiliki spesialisasi ilmu sejarah (seperti dapat dikesan dari biodata mereka yang dicantumkan di akhir buku ini).

Buku ini menghimpun naskah-naskah pidato JDK yang disampaikannya dalam sidang-sidang Volksraad. Naskah asli pidato-pidato tersebut kini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta. Naskah pidato-pidato tersebut diketik ulang oleh ketiga penulis menurut ejaan aslinya (Ejaan Van Ophuijsen). Naskah-naskah pidato JDK itu terdapat dalam bagian kedua buku ini (hal. 151-503), sedangkan bagian pertama (Bab1-12; hal. 3-147) berisi biografi singkat JDK dan ekstrak dari pidato-pidatonya itu.

Usaha ketiga kompilator ini untuk mengumpulkan naskah-naskah pidato JDK tersebut patut diacungi jempol. Para peneliti selanjutnya, khususnya yang tertarik kepada sejarah politik kolonial di Indonesia, tentu dapat menggunakan bahan-bahan tersebut tanpa harus susah payah lagi mencari naskah aslinya di PNRI atau perpustakaan-perpustakaan di Belanda.

JDK adalah salah satu dari delapan wakil masyarakat Minangkabau yang pernah duduk di Volksraad. Ia dilahirkan di Koto Gadang pada tanggal 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir (ayah; suku Sikumbang) dan Bani (ibu; suku Piliang). Masa remaja JDK dihabiskan dengan ikut mamaknya, Lanjadin Khatib Besar gelar Datoek Kajo, yang pernah menjabat sebagai kepala gudang kopi di Baso.

JDK belajar magang di kantor Residen Padang Darat di Fort de Kock (Bukittinggi) pada 1888. Kemudian, pada 1892-1895 ia magang sebagai leerlingschrijver (juru tulis magang) di Kantor Kontrolir Agam Tua. Tanggal 11 Mei 1895, dalam usia 20 tahun 9 bulan, Jahja menerima gelar “Datoek Kajo” dari kaumnya dan diangkat menjadi Tuanku Laras IV Koto (hal. 3). Jabatan itu jelas memberi peluang kepadanya untuk meningkatkan karir politiknya dalam jaringan birokrasi Pemerintahan Kolonial Belanda.

Beberapa jabatan penting yang pernah dipegang JDK sebelum menjadi anggota Volksraad adalah: Kepala Laras Banuhampu (1913); Demang Bukittinggi (1914); Demang Payakumbuh (1915-1918); dan Demang Padang Panjang (1919-1928).

Selama menduduki jabatan-jabatan itu JDK sering berkonflik dengan atasan Belandanya, antara lain dengan Asisten Residen James (1915) dan Residen Sumatra’s Weskust, Whitlauw (1923). JDK tidak suka dengan beberapa kebijakan politik dan ekonomi Pemerintahan Kolonial Belanda di Sumatera Barat yang menyusahkan rakyat Minangkabau (hal.5).

Seperti dapat dikesan dari teks-teks pidato JDK yang disalin ulang dalam buku ini, kritisismenya terhadap Pemerintah Kolonial Belanda tidak berkurang, meskipun ia sudah ‘dipindahkan’ ke Volksraad di Batavia. Ia terus membela rakyat Minangkabau yang diwakilinya. JDK menpertanyakan dan mendiskusikan berbagai aspek yang terkait dengan kehidupan rakyat pribumi dengan Belanda, seperti penangkapan para pemimpin Minangkabau oleh Belanda, gaji kepala nagari, reserse Belanda yang over acting, dan penolakan orang Minang terhadap buku teks bahasa Minangkabau karya M.G. Emeis. Banyak lagi aspek lain yang diperjuangkan oleh JDK untuk rakyat Minangkabau selama dua periode masa jabatannya di Volksraad.

Satu hal yang membuat nama JDK terkenal pada masanya adalah keberaniannya berpidato dalam bahasa Indonesia (sering juga disebut ‘bahasa Melajoe’) di Volksraad, mengibarkan dan mengobarkan nasionalisme bahasa Indonesia dalam sidang-sidang lembaga terhormat yang didominasi orang Belanda itu. Ini bukan karena ia tidak pandai berbahasa Belanda, tapi lebih karena keyakinannya bahwa bahasa menunjukkan bangsa, seperti dapat dikesan dalam bagian pidatonya di Volksraad pada 30 Juni 1928:

“Toean Voorzitter. Pembitjaraan saja didalam sidang madjelis Dewan Ra’jat saja soeka didalam bahasa Indonesia, karena saja sendiri seorang Indonesier. Toean tentoe mema’lumi, bahwa sekalian bangsa dalam doenia ini lebih soeka berbahasa didalam bahasanja sendiri. Sebabnja perasaan Indonsier tinggal diorang Indonesier, perasaan Belanda diBelanda, jaitoe seboleh-bolehnja orang-orang itoe membitjarakan bahasanja sendiri. Sebab itoe saja lebih soeka berbitjara dalam bahasa Melajoe dalam madjelis persidangan ini, apalagi mana jang saja bitjarakan didalam madjelis ini boekannja perkataan siapa sadja, melainkan jang sebenarnja terbit dihati sanoebari saja, toean Vorzitter.” (hal. 305).

Jadi, sebelum Kongres Pemuda, 28 Oktober 1928 diadakan, JDK sudah mencetuskan nasionalisme bahasa Indonesia di Volksraad, suatu penentangan terhadap suprioritas bahasa Belanda di Indonesia, yang selama beratus tahun dijaga dengan kekuasaan dan senjata. Ketika Fraksi Nasional dibentuk di Volksraad pada Januari 1930 yang dipimpin oleh M.H. Thamrin, JDK langsung bergabung ke dalamnya.

Pidato-pidato JDK dalam sidang-sidang Volksraad sangat berapi-api dan kaya dengan petatah-petitih Minangkabau yang dibahasa melayu tinggikan (lihat Bab 12, hal.129-47). Pers pribumi menjuluki JDK “Djago Bahasa Indonesia di Volksraad” (lihat Pedoman Masjarakat, 23-2-1938:160).

Selepas menjabat anggota Volksraad, JDK, yang berkumis melintang dan kelihatan tegas dalam saluak kebesarannya –fotonya yang disajikan di sini semula dimuat dalam Volksalmanak Melajoe Serie no.770, tahoen ke-10, 1928 (menghadap hal.191) –masih terpilih menjadi anggota Minangkabau Raad pada 1939 (lihat Soeleiman 1939). Namun, tiga tahun kemudian, JDK meninggal pada tanggal 9 November 1942 di kampung halamannya di Koto Gadang. Keluarga yang ditinggalkannya tetap kritis kepada Belanda. Saya pernah membaca laporan koran Sinar Sumatra – sayang saya lupa mencatat tanggalnya – bahwa salah seorang anak lelaki JDK diadili di Padang di tahun 1940-an karena terpijak ranjau pers (pers delict) yang dipasang Belanda.

Buku ini penting dibaca oleh para mahasiswa, khususnya mahasiswa sejarah, dan masyarakat Minangkabau dan Indonesia pada umumnya yang ingin mengetahui kiprah seorang wakil golongan pribumi dalam sistem pemerintahan Kolonial Belanda di zaman lampau.

Lebih dari itu, tentu tak ada salahnya jika buku ini juga dibaca oleh anggota DPR(D) kita, yang pada hari ini citranya lebih identik dengan kemewahan dan gelimang uang (korupsi) ketimbang kritisisme dengan pikiran jernih untuk membela raykat yang diwakilinya.

(Suryadi, dosen dan peneliti Dept. of Langueages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Leiden University, Belanda)

Sumber: Padang Ekspres Minggu 31 Agustus 2008

Kotogadang Dukung Rang Sumbar Baralek Gadang Sabtu, Sep 20 2008 

Agam, Padek– Alek Akbar Rang Sumbar Baralek Gadang yang rencananya akan dilaksanakan 19 Desember mendatang secara terpusat di Kotogadang IV Koto Agam, mendapat respons dan dukungan dari masyarakat maupun perantau di kenagarian tersebut. Bahkan iven ini akan diusung dan dibicarakan secara khusus pada musyawarah perantau Kotogadang di Jakarta, tentang bentuk dukungan masyarakat dan perantau terhadap alek tersebut.

Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Kotogadang yang juga salah seorang tokoh adat di Nagari Kotogadang, Prof Dr dr Nuzirwan Acang Datuak Tumangguang, saat rapat Bamus Rabu (17/9) menegaskan, baik secara kelembagaan Bamus dan pribadi sangat mendukung digelarnya seluruh rangkaian acara tadi. Apalagi di dalamnya terdapat beberapa agenda yang sangat kental muatan budaya lokal Kotogadang, seperti memasak gulai itiak lado mudo sebanyak 1001 tungku di Kotogadang.

”Iven tersebut selain mengangkat muatan lokal tradisi Kotogadang, dampaknya juga akan sangat besar terhadap ekonomi warga, karena butuh lebih 1.000 ekor itik beserta peralatan dan bumbu untuk memasaknya. Jika memasaknya memakai tungku, maka batu tungku tersebut kalau dikumpulkan dapat membangun pondasi rumah,” kata Nuzirwan Acang.

Bahkan rapat Bamus Kotgadang juga sempat memberikan usul, jika tungku batu ditukar dengan bata merah, sehingga apabila kegiatan ini selesai maka dapat membantu pembangunan Masjid Nurul Iman Tapi nagari Kotogadang yang saat ini sedang dibangun akibat runtuh dihoyak gempa bumi awal 2007 silam. Belum lagi sejumlah iven lainnya yang juga akan mempromosikan seluruh potensi daerah, karena menurut rencana juga akan dikunjungi mahasiswa berbagai perguruan tinggi yang mengikuti pameran.

Dikatakannya, iven tersebut adalah iven besar. Setidaknya, secara bersamaan juga bisa sebagai ajang promosi bagi pengembangan potensi Kotogadang, khususnya pengembangan hasil kerajinan tangan maupun makanan tradisional khas Kotogadang. Dan salah satu yang terkenal adalah masakan gulai itiak lado mudo.

”Secara kelembagaan ninik mamak Nagari Kotogadang, saya juga akan menyampaikan hal ini kepada forum rapat yang akan digelar di Jakarta dalam waktu dekat. Kita sangat optimis, apa yang dirancang panitia acara Rang Minang Baralek Gadang ini, akan disambut baik oleh Kerapatan Ninik Mamak Nan XXIV Nagari Kotogadang,” ujar Nuzirwan.

Selain iven memasak 1001 ekor itik gulai lado mudo, juga bakal digelar tradisi makan bajamba yang akan diikuti oleh sejumlah pejabat tinggi. Diharapkan makan bajamba ini akan menjadi rekor makan bajamba terbesar yang pernah digelar di Sumbar. Sehingga melihat dari segi pengembangan pariwisata maupun dampak langsung kepada masyarakat, acara ini mendapat dukungan masyarakat nagari intelektual tersebut. (ari)

Sumber: Padang Ekspres Online 20 September 2008

Toewaian notitieboek Pemandangan kampoeng Selasa, Sep 9 2008 

Sebagai ankoe2 pembatja soeara soedah sama tahoe dalam Soeara jang laloe soedah di chabarkan hal keadaan djalan2 kampoeng di Kota Gedang boeroek benar. Maka pada hari raja jang lepas soedah diadakan rapat membitjarakan pandjang lebar hal keadaan kampoeng djalan2 itoe, jaitoe djalan jang tiada dikerdjakan dengan wang oepah rodi jang ditetapkan kapala pamarintah, dalam rapat itoe ankoe2 jang makan gadji pada Gouvernement meminta soepaja Ambtenaar Gouvernement sadja menanggoeng pekerdjaan itoe, karena nan tidak ambtenaar soedah di kenakan rodi membajar pada Gouvernements f 4.40 setahoen jaitoe pengerdjakan djalan besar dari Koto Toeo melaloei Koto Gadang ka ngarai dan teroes ka Fort de Kock dan jang teroes ka Sianok.

Rapat hari raja itoe menetapkan ambtenaar Gouvernement dan orang makan gadji particulier di kenakan wang ijoeran setahoen, sebentar itoe djoega soedah ada terkoempoel wang ijoeran f 51 jaitoe dari ankoe:

1. J. Dt. Kajo Demang Padang Pandjang
2. Dt. Radja Malintang Ass. Demang Sarik
3. T. St. Pamoentjak keurmeester F.d.K.
4. St. Di Atas Ass. Demang Tjandoeng
5. B. St. Maroehoem Goeroe di Kerambil
6. Rasjid gl. St. Bagindo Kajo Goeroe Loeboek Aloeng
7. St. Malenggang Goeroe di Padang
8. St. Maharadja Kassier F.d.K
9. M. B. St. Pamoentjak Goeroe di Balai Tangah
10. Roeskan St. Saripado Goeroe bantoe Koto Toeo
11. Radjo Bagindo Adj Djaksa Selong
12. Marzoeki Inl. Arts Sawahloento
13. St. Malano Goeroe di Siloengkang
14. Soetan Sinaro Goeroe di manindjau
15. St. Saripado Goeroe di F.d.K.
16. Iljas Adj. Gouv Veearts F.d.K
17. Radja Boedjang Districthoofd Sidanau

Serta ditanam Comite jang akan meoeroeskan pekerdjaan jaitoe:

1. ankoe Datoe’ Moeda
2.     ”     Datoe’ Tan Mangedan
3.     ”     Soetan Batoeah
4.     ”     Soetan Bandharo

Baliau jang berampat orang itoelah nan akan meoeroeskan hal keadaan djalan kampoeng itoe.

Itoepoen semantara menanti wang dari ankoe ambtenaar2 jang tinggal djaoeh, Comite itoe telah bekerdja dengan tenaganja masing2 meoeroeskan pekerdjaan dengan berdikit2 membelandjakan wang jang f 51,- itoe. Itoepoen baloem berapa hari dioesahakan soedah kelihatan faedahnja jaitoe djalan:

1e. dari dekat soerau Hilir sampai ka simpang
2e. dari lakoe’ ka pisang
3e.   ”       ”     ka kampoeng koto
4e.   ”   Tapi ka moedik
5e.   ”   moedik ka simpang
6e.   ”   simpang ka sikoembang
7e.   ”   pisang ka tjatjang
8e.   ”   Lb. Gadang ka Djirek dll

soedah dikerdjakan semoeanja adalah di betoelkan benar soedah seperti masa dahoeloe boesoeng di tengah berbandar kiri kanan.

Itoepoen pada 8 Juli 1920 datanglah toean Controleur Agam bersama ankoe Demang Boekit Tinggi dan ankoe Ass. Demang Sarik (Banjak orang tanja bertanja dimana ankoe Ass. Demang IV Koto? djawab setengah ka malalak) kadatangan ini adalah memberi tahoe lebih dahoeloe. Itoepoen adalah dinanti oleh penghoeloe2. Toean itoe bertanja hal keadaan dan kebersihan Kampoeng djawab penghoeloe2 sedang dikerdjakan. Toean itoe beserta ankoe2 itoe membawa penghoeloe akan mempersaksikan dengan mata kapala sendiri maka berdjalanlah Toean itoe beserta ankoe2 dan penghoeloe2 keliling kampoeng melihat hal itoe.

Sesoedah beliau2 meedari kampoeng Kota Gedang , Toean Controleur bertanja pada penghoeloe2 bagaimanakah fikiran penghoeloe2 adakah soeka sekiranja Toean besar G.G. (Gouverneur Generaal) akan datang termasa ka Kota Gedang. Djawab penghoeloe2 kami lebih soeka benar, djika sekiranja boleh kami panggil tentoelah dengan segala soeka hati kami anak negri memanggil seri padoeka toean besar G.G. akan datang ka Kota Gedang, melihat hal keadaan kampoeng kami jang didiami oleh kebanjakan jang bersetia pada daulat Gouvernements.

Djawab toean Controleur kalau sekiranja penghoeloe2 ada soeka menerima kedatangan seri padoeka ka Kota Gedang baiklah dinanti menoeroet adat lama poesaka zaman jaitoe:1e. penghoeloe2 berpakajan adat lama. 2e. Diadakan pakajan anak dara dan marapoelainja. 3e. anak mantjak dan tari dengan pakajannja serta medan dan simpang2 djalan diadakan gaba2 merawa2 dan boenga2 tanda kehormatan sepandjang adat.

Seripadoeka akan datang kira2 pada 14-16 Augustus ‘20. Persembahan penghoeloe pada Toean Controleur fatsal itoe meskipoen tidak toean soeroehkan kami tentoe akan adakan djoega menoeroet adat kami.

Dalam hal itoe penghoeloe menerangkan pada Toean Controleur bagaimana kerapatan Inl. Ambtenaar anak negeri Kota Gedang beroesaha meoeroeskan djalan kampoeng itoe, itoepoen baliau adalah memoedji akan perboeatan itoe, penghoeloe mengatakan dan memperbandingkan antara gemeente kampoeng dan gemeente jang dioeroes dengan rodi, kata Toean Controleur hal ini maoe di lehaskan tetapi sajang tidak ada koeli, kata baliau lagi soedah pajah Ass. Demang IV Koto mentjari koeli 2 orang boeat pembersihkan djalan-djalan itoe dan akan memboeatkan djalan poetar auto di kota katjiak, karena terbilang poeloeh agaknja auto datang mengiringkan toean besar G.G. serta maoelah sekali memberikan wang atau boleh djoega dipakai wang rodi jang soedah diterima Penghoeloe Kapala dan air katjik perloe poela dibersihkan. Melihat keadaan kampoeng adalah toean Controleur bersenang hati mana-mana jang kotor pekarangan soedah dibersihkan mana roemah jang patoet dikapoer soedah dikapoeri dll. Toean controleur meminta mana jang beloem dikerdjakan dengan semporna soepaja disempornakan serta meminta Ass. Demang Sarik meoelangi dan meatoerkan hal itoe. Roepanja toean Controleur soedah mengatahoei bahasa semasa Ass. Demang Sarik djadi Penghoeloe Kapala Kota Gedang negeri ada teratoer; maling tjoeri tidak seperti sekarang, berapalah baiknja kalu Toean Besar memindahkan Ass. Demang Sarik ka IV Koto.

Sesoedah itoe Toean Controleur serta ankoe Demang koembali ka Fort de Kock.

Sepeninggal Toean Controleur itoe maka berkoempoelah penghoeloe-penghoeloe mehitoeng belandja-belandja segala jang memakai onkos boeat penjediakan penanti seri padoeka Toean Besar G.G. itoe. pemboeat gaba-gaba, merawa dan boenga-boenga maka dihitoenglah akan diambil wang negeri f 50,- batoeng. Akan diadakan penghoeloe-penghoeloe gaba-gaba 1e. di Tapi, 2e. di moeka roemah sekolah S.K.G dan 3e. dimoeka roemah sekolah K.A.S pinggir djalan dan tiap2 simpang djalan dari Tapi ka roemah sekolah K.A.S diberi berboenga-boenga dan anak negeri berdjanji akan bekerdja membersihkan bandar air katjik.

Rendo-rendo perboeatan tangan K.A.S. akan disoeroeh sediakan karena akan dilihat seri padoeka toean Besar G.G. bagimana hal kemadjoean tangan anak-anak perempoean.

Roemah sekola S.K.G. akan dibersihkan dan moerid-moerid akan diadjar mendjanji menjamboet kedatangan seri padoeka soepaja boleh dipersaksikan seripadoeka bagaimana poela hal kekerasan hati anak negeri menoentoet pengadjaran barat itoe, meskipoen beloem ada dapat pertoeloengan Gouvernement, toch pekerdjaan itoe mendjadi djoega dengan setjara ketjilnja, betapa lagi kalau Gouvernement kelak membantoe.

Itoepoen Bestuur S.K.G. akan berpakajan poela tjara minangkabau dan berdestar saloek.

Sumber: Soeara Kota Gedang Tahoen ke V/No.9/Augustus 1920

Gempa 1926 Bag. 4 Selasa, Sep 9 2008 

Notulen

Karena bahaja besar oleh gempa jang terdjadi pada 28 Juni 1926 , hingga mesdjid Kota Gedang jang sekoekoeh itoe djoega djadi roesak, diadakanlah rapat pada 18 Juli j.l dihadiri oleh beberapa ninik mamak, ankoe2, toeankoe2 imam chatib dan nan moedo2.

Kira2 poekoel 10 rapat diboeka oleh ankoe Dt. Toemanggoeng kepala negeri K.G. Kemoedian disamboeng dengan pandjang lebar oleh toeankoe Demang Dt. Kajo, memperkatakan mesdjid jang roesak oleh gempa itoe.

Oleh karena kesedihan itoe memang soedah sama terasa, dengan sebentar sadja dapatlah kata moefakat.

1. Setelah memperhatikan keadaan mesdjid sekarang, sebahagian dindingnja soedah roeboeh, dan bahagian jang lain meskipoen masih berdiri djoega tetapi soedah rengkah2 jang boleh mendatangkan bahaja, sekata rapat mesdjid haroes diboeka.

2. Karena mesdjid hilir djoega roesak, djadi ta’ adalah soeatoe tempat jang patoet di K.G. tempat berdjoemaat, sebab itoe wadjib dengan selekas-lekasnja diboeat gantinja.

3. a. Beloem dapat ditentoekan daripada apa mesdjid itoe akan diboeat (dari kajoe atau batoe?). Tentang itoe akan dilihat perhitoengannja dahoeloe.
b. Perhitoengan (begrooting) dan bangoennja (gambarnja) mesdjid akan diminta pertoeloengan kepada ankoe2 opzichter jang mengetahoei tentang keadaan bangoen-bangoenan.
c. Gedangnja mesdjid 15 M pandjang dan 15 M lebar (mesdjid jang roesak 20 M pandjang dan 20 M lebar).

4. Soepaja mesdjid dapat diboeat, tentoe perloe ada wang. Wang itoe akan dikoempoelkannja:
a. dari padi zakat tiap2 tahoen sekoerang2nja 5 tahoen (lihat nomor 6).
b. wang sedekah atau derma dan wakaf.
c. Seberapa ada wang negeri dari orang2 jang nikah
d. Seberapa ada wang negeri diloemboeng pitih

5. Ditetapkan kerdja negeri sekali sepakan tiap-tiap hari minggoe.

6. Setelah diperkatakan dengan setjoekoepnja dengan orang2 ahli tentangan agama, ditetapkanlah akan memindjam wang f 2000 (doea riboe roepiah) atas nama empat orang, jaitoe e. Datoek Kajo, e. Soetan Pamoentjak, e. Soetan Maharadjo dan e. Kari Moedo. Oetang itoe akan dibajar dengan padi zakat anak negeri.

7. Akan mengoeroes pekerdjaan itoe, diadakan soeatoe Comite terdiri dari 8 orang, jaitoe:
President e. Dt. Kajo
Vice President e. Dt. Toemanggoeng
Sec. Peningm. e. Rasjid St. Bagindo Kajo
2e. Secretaris e. St. Saripado
Commissarisse e. St. Maharadjo
”               e. Kari Moedo
”               e. St. Pamoentjak
”               e. St. Batoeah

8. Boeat penoetoep; dimintak kepada segala anak negeri K.G. baik jang dirantau akan menjokong bersama-sama pendirian comite ini dengan tenaga terlebih-lebih dengan wang (sedekah), soepaja jang dimaksoed itoe dapat tertjapai dengan lekas. Diminta poela pada negeri2 jang dipandang patoet akan mendirikan tjabang, soepaja wang moedah terkoempoel.

Kiriman wang di adreskan kepada peningmeester
Rasjid, onderwijzer
Padang Pandjang

Wang jang diterima akan diterangkan dalam Soeara K.G. Kalau dikehendaki kwitantie boleh djoega.

poekoel 1 rapat ditoetoep.

t. Comite

N.B. Pada djam jang berikoet sesoedah rapat itoe, terkoempoellah wang sedekah f 180 bersih.
Lebih landjoet silakan membatja karang-karangan jang berhoeboeng denan gempa itoe dalam Soeara K.G. soepaja dapat diketahoei benar bagaimana keadaan dan perasaan anak negeri kita waktoe sekarang

Sumber: Soera Kota Gedang Tahoen X/No.8/Augustus 1926