(Beberapa nama2 akan didjelaskan diachir tjerita ini)
Pada achir bulan mei 1904, seorang pemuda Koto Gadang jang pertama (mungkin pula jang pertama diseluruh Pulau Andalas) dengan selamat telah tamat di Sekolah tinggi di Betawi dg memperoleh idjazah. Dengan senang gembira lekas dia mengundjungi orang tuanja di Tg. Pinang, jang sudah beberapa tahun saling berpisahan. Dizaman itu, berhubung dengan kesulitan keuangan, siswa-siswa tidak sanggup tiap tjuti tahunan menemui orang tua, ketjuali siswa2 Sekolah dokter Stovia, jang memperoleh tikket kapal dengan gratis.
Lama djuga dapat melepaskan hati bergaul dengan ibu bapak dan adik2. Sedang ber-senang2 itu tiba2 isteri seorang saudara sepupu di dekat itu meninggal dengan meninggalkan seorang baji ketjil. Lama diperbintjangkan hal itu. Achirnja diambillah keputusan menjuruh pemuda itu berusaha membawa baji itu ke pamili di kampung. Lekas pula dikundjungi saudara itu; lama berunding, dilihat dari beberapa sudut. Mula2 saudara itu berkeberatan; baru sadja ditinggalkan isteri dan sekarang akan ditinggalkan lagi oleh anak, tapi achirnja terpaksa djuga menjetudjui. Lekas pula pemuda itu berangkat.
Bagaimana perdjalanan dari Sumatera Timur ke Sumatera Barat itu akan dilakukan? Kapal terbang dan oto taxi belum ada. Kadang2 dapat menompang sebuah sampan, atau di pedati kerbau. Kereta api tidak ada pula dan sebagian besar harus dilalui dengan berdjalan kaki sadja, sambil menggendong seorang baji. Pendjelasan jang terang tak dapat diberikan. Kita hanja dapat memikir-mikirkan sadja tjara bagaimana akan mengatasi segala kesulitan2 perdjalanan itu. Entah beberapa hari memakan waktu, tapi achirnya sampai djugalah ke Pajakumbuh. Lekas menudju ke rumah injik Hadji. Dua hari pemuda itu berhenti melepaskan pajah. Pada hari ketiga perdjalanan dilandjutkan lagi. Kesulitan-kesulitan jang lampau itu, banjak dapat dihindarkan. Perhubungan kereta api Pajakumbuh-Padang, sudah ada.
Tjepat naik kereta api. Di Bukittinggi tidak singgah kerumah pamili. Pindah kereta api, djalan diteruskan dan di Padang Luar meninggalkan kereta api. Lekas pula menjewa bendi dan kira2 dua djam kemudian, selamat sampai ke kampung tudjuan. Pemuda itu tidak singgah kerumah pamili, melainkan terus menudju rumah pamili si baji itu. Bukam main terheran dan terkedjut pamili itu menjambut kedatangan si tjutju ketjil, jang sama sekali tidak ada di-sangka2 itu. Mereka mengutjapkan se-banjak2nja terima kasih kepada pemuda jang dengan rela hati menjumbangkan tenaganja jang sangat luar biasa itu. Pertanjaan2 lekas pula dikemukakan jang dengan sederhana dan ringkas sadja didjawab oleh pemuda itu. Pokok jang pertama, ialah sudah selamat sampai ke kampung; itu sudah lebih dari tjukup memuaskan pemuda itu.
Sekarang sedikit landjutan kisah pemuda itu. Lama pula dapat bergaul dengan pamili2, djuga dengan Tuanku Lareh. Kami banjak kali bersama2 tidur di Gaduang bawah, jaitu rumah Tuanku Lareh. Banjak membitjarakan beberapa hal dan ketika itu pulalah tertanam bibit2 perusahaan tanah, pendidikan anak2, persekolahan, pembangunan sekolah dan lain2, jang belakangan dilandjutkan pula oleh adik perempuannja dengan mengadjarkan bahasa Belanda jang sangat digemari, kepada pemuda2 dan pemudi2.
Sajang tidak bisa lama pula tinggal di kampung, karena pemuda itu telah menerima surat dari Pemerintah, bahwa dia sudah diangkat mendjadi Wakil Duta di Djeddah. Waktu itu pula dia naik Hadji dan mempeladjari bahasa Arab dengan lantjar.
Nama pemuda: H. Agus Salim
” Ajahnja: Sutan Salim Sutan Muhamad Salim (Bekas Hoofdjaksa Tg Pinang Riouw)
” adiknja: Noni Salim (Jang boleh dianggap sbg pelopor mamadjukan pemuda-pemudi KG di bidang pendidikan dan persekolahan)
” Saudara sepupu: Sangkak St. Seri Alam
” baji: Tumah; nikah dengan e. Bazar
” Stovia: School tot opleiding van Inlandsche Artsen
” Sekola tinggi: HBS (Hoogere burgerschool), Gymnasium Willem III, bukan sekolah Universitas, jang diwaktu itu belum ada.
” Injik Hadji: Abdul Gani Radjo Mangkuto
” Tuanku Lareh: Jahja Dt. Kajo
Tamat
R. M. Wazar
Sumber: Canang Tahun VIII/no. 42/ Djuli-Agustus 1971