DESA KOTO GADANG (Bag. 1) Friday, Mar 19 2010 

A.l. Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, Mr. Dr. Nazif, Prof. Dr. Sjaaf, Prof. Dr. Aulia dsb.

OLEH : MARTHIAS D. PANDOE

KOTO GADANG, sebuah desa kecil yang terletak diseberang ngarai Bukittinggi sangat terkenal ke-mana2, lebih2 tempo doeloe.

Dari buku tamu yang terpelihara rapi di kantor Wali Negari (Lurah di Jawa), tercatat banyak pengunjung datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya pelancong (touris), tapi yang lebih berkepentingan adalah guru2 besar, professor dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Tercatat pengunjung2 dari Amerika, Inggeris, Perancis, Jerman, Negeri Belanda, Jepang, Australia dan lain2.

Mereka datang untuk mengetahui sejarah desa ini dulu hingga sekarang. Di sini tamu2 tersebut berdialog langsung dengan penduduknya yang pandai berbahasa Belanda dan sebagian pula berbahasa Inggeris, Perancis dan bahasa Jerman.

Sutan Syahrir, Haji Agus Salim dll

Di desa kecil ini banyak dilahirkan orang2 besar Indonesia yang membuat karirnya di-mana2. Banyak yang sudah jadi Menteri, diplomat, politikus, orang2 pergerakan dan pengusaha/pedagang.

Disinilah asalnya Haji Agus Salim,  Sutan Syahrir,  Mr. Tamzil,  Mr. Razif,  Mr. Karim,  Prof. Dr. Sjaaf (bapaknya Laksamana O.B. Sjaaf yang lahir di Negeri Belanda),  Prof. Dr. Aulia,  Dr. Roemali,  Mr. Dr. Nazif– orang Indonesia yang tertinggi jabatannya jaman pemerintahan Belanda, yakni jadi Gouvernements Secretaris dari Gouverneur General di Jakarta atau semacam Sekretaris Negara sekarang. Jabatan ini dipangkunya sampai ia meninggal dunia dalam usia muda lebih kurang 40 tahun, pada tahun 1942.

Mr. Dr. Nazif adalah teman sekolahnya Dr. Hatta, Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. Sartono, Dr. Soekiman Wirjosandjojo, Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Nazir Datuk Pamuncak dan lain2 di negeri Belanda. Ia ikut aktif dalam pergerakan2 pemuda Indonesia di negeri Belanda waktu itu.

Tahun 1921, Mr. Nazif sudah jadi Hakim di Bukittinggi. Sambil bekerja ia belajar terus dan akhirnya memperoleh promosi dengan menggondol gelar doktor di Sorbonne.

Proefschrift Nazif adalah: ” De val van he Rijk van Merina” atau Kejatuhan Kerajaan Merina (Madagaskar). Ia menghubungkan judul desertasinya dengan sejarah hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Madagaskar.

Anak Demang ini kemudian kembali ke Indonesia dan mendapat pangkat refendaris. Tahun 1936 ia mendapat kenaikan pangkat dengan jabatan penting, yakni Gouvernements Secretaris.

Mr. Dr. Nazif walaupun besar gajinya f 1.100,- (gulden) sebulan,  tetapi ia meninggal dunia tidak mewariskan apa2.  Tidak ada tabungannya pada postpaarbank. gajinya secara diam2 disumbangkannya pada pemuda2 Indonesia yang aktif dalam perjuangan. Bung Hatta sangat mengetahui betapa sumbangan riil Mr. Dr. Nazif untuk gerakan kemerdekaan itu.

Untuk kelanjutan hidup isteri dan anak2nya, Ny. Nazif terpaksa bekerja dan terakhir beliau jadi Sekretaris pada Kedutaan Besar Indonesia di Sweden. Kini ia sudah pensiun.

TIDAK dapat dicatatkan satu-persatu berapa banyaknya cendikiawan dalam bidang hukum, kedokteran, insinyur sampai kepada perwira2 militer yang berasal dari desa kecil ini.

Di sini dilahirkan seorang tokoh wanita yang sekaligus merupakan wartawati Indonesia pertama, Rohana Kudus. Tahun 1920-an, beliau menerbitkan dan memimpin sendiri (Hoofdredactries) surat-kabar harian “Soenting Melajoe” di Padang. Sampai kini Rohana Kudus masih hidup, tinggal didjalan Mangunsarkoro 58 Jakarta dan berusia sekitar 85 tahun. Rohana Kudus adalah kakak perempuan dari Sutan Sjahrir.

“Soenting Melajoe” bermotto “Oentoek Kemadjoean Kaoem Perempoean” dan masih dapat ditemui di Musium Jakarta.

Organisasi wanita pertama di Minangkabu yang dipimpin Rohana Kudus bernama “Amai Setia”. (Amai=Ibu). Bayak hasil karyanya, terutama untuk mendorong kaum wanita tampil di-tengah2 masyarakat. Hasil2 keradjinan tangan “Amai Setia” seperti sulam-menyulam, renda dan sebagainya pernah dipamerkan di Amsterdam, Paris dan New York.

Orang Koto Gadang bangga bahwa Perdana Menteri pertama Indonesia adalah puteranya, Sutan Sjahrir. Adik Sutan Syahrir seorang pengusaha besar, Sutan Syahsyam. Ia punya rumah terindah di Den Haag dan pernah menginvestasikan modalnya untuk perkebunan di Afrika.

Bapak dari Haji Agus Salim, Sutan Mohammad Salim merupakan salah seorang “hervormer” Koto Gadang. Tahun 1889 ia sudah jadi Hoofd Jaksa di Riau. Beliau orang per-tama2 di desanya yang mengerakkan putera2nya untuk mendapatkan didikan Barat. Sama halnya dengan bapak dari Sutan Syahrir, Rasad Maharadjo sutan. Beliau jadi Hoofd Jaksa di Medan.

Orang Koto Gadang bangga bahwa salah seorang dari Panglima Divisi “Siliwangi” adalah puteranya, Brigadir Jenderal (Purn) Daan Yahya, yang sebelumnya penanggung jawab keamanan pertama waktu Ibukota Jakarta kembali ketangan Republik. Ia menjadi Gubernur Militer waktu itu. Kakaknya Loewai Yahya, pada tahun 1912 mendapat titel dokter hewan, Veearts.

Pada generasi sekarang, di-banggakannya pula Prof. Dr. Emil Salim, kemenakan dari Haji Agus Salim. Yang terbaru orang Koto Gadang yang mendapat jabatan diplomat adalah Abdul Muis, sebagai Duta Besar di Cekoslowakia.

Kenapa maju?

PEMUDA-PEMUDI desa ini sejak dulunya sudah banyak menuntut ilmu di Jakarta, Bogor, Surabaja dan bahkan sampai keluar negeri.

Belajar, di AMS, HBS, STOVIA (dokter), Veeartses school (dokter hewan), sekolah guru, sekolah ambtenaar dsb.

Pada tahun 1915 sudah ada putera Koto Gadang yang belajar pada Technische Hoogeschool di Delft.

Paling tidak antara 10-15 orang pemuda dari desa ini setiap tahun melanjutkan sekolahnya ke sekolah2 tersebut tadi. Boleh dikatakan tidak ada yang masuk sekolah militer atau polisi. Keinginan mereka umumnya jadi “ambtenaar”, guru atau jadi orang pergerakan.

Dari orang2 tua Koto Gadang yang masih segar ingatannya diperoleh keterangan bahwa kemajuan desa itu mulanya berpangkal ketika Kompeni Belanda (tahun 1860) menjalankan “cultuurstelsel” yakni tanam paksa pohon kopi yang diperintahkan kepada setiap penduduk, baik ditanam diladang maupun dipekarangan rumah.

Bersambung….

Sumber: Kompas 19 September 1972

DAHOELOE DAN SEKARANG Wednesday, Mar 17 2010 

Kata tjerita orang toea2 soedah semendjak dahoeloe kala banjak benar orang Kota Gedang jang pergi merantau kian kemari karena mentjarikan penghidoepannja dengan bertoekang emas atau berniaga, seperti di Trengganoe, Bengkahoeloe, Padang, Atjeh d.s.b.

Menoeroet adat dizaman itoe tiadalah mereka pergi merantau dengan membawa isteri melainkan dengan kemanakan atau dengan soedaranja jang laki2 sahadja, sebab perampoean pada masa dewasa itoe terlarang benar oleh adat meninggalkan kampoengnja, walau soedah bersoeami sekalipoen.

Berhoeboeng dengan keadaan jang demikian maka banjaklah perkawinan jang dilansoengkan antara toekang2 emas tadi dengan perampoean2 dari negeri jang didiaminja, sehingga berkembang biaklah merekaitoe di tempat perantauannja. (Di Bangkahoeloe kabarnja ada seboeah kampoeng jang semata-mata terdiri dari toeroenan orang2 pandai emas itoe). Tetapi ibarat orang toea2: setinggi-tinggi terbang bangau koembalinja keboemi djoea, sedjaoeh-djaoeh merantau balik kita kekampoeng djoea.

Demikianlah djoea halnja dengan orang orang Kota Gedang jang bertoekang dan berniaga emas itoe. Terlebih-lebih poela sebab oentoek orang Minang dimasa itoe, tidaklah malang jang lebih besar, rasanja kalau mati dirantau orang, kalau ta’ berkoeboer dipandam pekoeboeran sendiri disisi sekalian nenek2 mojangnja.

Djika tiba waktoenja toekang2 emas itoe hendak poelang terasalah baginja betapa sedihnja dalam hati meninggalkan anak dan isteri jang dirantau itoe, anak dan isteri jang ditjintainja dengan ichlas dan toeloes.

Kekampoengnja sendiri ta’ dapat dibawanja sebab keroemah siapa akan dihantarkannja anak dan isterinja itoe? Betoel ada roemah iboenja. Tetapi disitoe tiada ianja berkoeasa, sebab sekarang adik adiknja jang perampoean jang soedah bersoeamilah jang mempoenjai dan mengoeasai roemah2 itoe. Sedang ia sendiri tiada memperoleh tempat lagi diroemah iboenja itoe, dan mesti pergi tinggal ke soerau lagi sekarang kalau tidak hendak dianja dikawinkan dikampoeng keroemah orang jang setiba ia dikampoeng telah mendjempoetnja. Sedang ia sendiri terpaksa karena keadaan mesti kawin poela dikampoeng kalau ta’ soeka ianja membawa’ tikar ketidoerannja ke soerau, betapalah akan dapat ianja membawa’ anak dan isterinja jang dirantau kekampoeng sendiri.

Disitoelah poetoes pertalian antara bapak dengan anak habis kasih soeami pada isteri, karena koeatnja seroean nenek mojang jang telah lama ditingalkan, jang telah lama mati.

Malang benar rasanja oentoek orang Minangkabau di waktoe itoe kalau ianja sampai meninggal dirantau dan djaoeh dari kaoem familienja. Ta’ perloelah rasanja dioeraikan dengan banjak perkataan betapa besar kesedihan jang diderita antara kedoea pehak, antara soeami dan isteri dan antara bapak dan anak.

Lesoe rasanja toelang meingat betapa banjaknja air mata jang bertjoetjoeran pada tiap2 kali seorang bapak jang malang itoe terpaksa meninggalkan anak dan isteri jang ditjintainja, karena deras seoean kampoeng dan karena ianja ta’ sanggoep mengalahkan rasa rindoenja pada kampoeng halamannja.

Oentoenglah sekarang keadaan soedah moelai beroebah, sebab sebagai ichtiar oentoek mangampoengkan anak dan kemenakan dan memperkokoh pertalian bapak dengan anak, telah teringat oleh beberapa orang kita memperboeatkan diatas tanah kemenakan masing2 roemah oentoek anak2nja jang dikampoeng dan jang dirantau.

Rasanja tjonto2 ini akan ditiroe oleh banjak orang jang telah insjaf akan kewadjibannja sebagai bapak dan sebagai manoesia.

Disini perloelah dioetjapkan terima kasih pada beliau2 itoe, sebab ianja telah memperingatkan kepada orang Kota Gedang soepaja mengenal kewadjiban sebagai Bapak.

PLATO

Sumber: Soeara Kemadjoean Tahoen ke I/ No. 1/Januari 1934

Salinan soerat kiriman Soetan Marah Alam Thursday, Jun 4 2009 

(Dipetik oentoek Sr.K.G. goena tjermin perbandingan)

Samboengan Sr.K.G. no. 15

Hal itoe insja’allah hendak ajahanda hoeboeng dan tjeriterakan lebih pandjang. Sekarang hanjalah ajahanda hendak terangkan pada anak’nda jaitoe sebab2 jang boleh anak’nda ketahoei sadja; tetapi soenggoehpoen begitoe kalau perloe akan ajahanda kabarkan djoega betapa haloean pemerintah tentangan pengadjaran jang terdahap bagi ra’jat boemi poetera, bagi bangsa Belanda peranakan, dan bagi Belanda totok di Hindia ini. Asal anak’nda dapat menjimpan betoel-betoel dalam hati anak’nda, dan kemoedian kalau anak’nda soedah besar nanti bolehlah anak’nda pergoenakan djadi pedoman jang akan dipakai dipadang politiek, hingga moedah sadjalah bagi anak’nda akan meoelas goendjai jang terentang itoe.

Sesoedah dipadoe moefakat dan dikoempoelkan oeang riboe dan ratoes oleh ninik mamak kita itoe, laloe dikirimlah doea orang anak moeda kenegeri Belanda akan beladjar oentoek mengadjar basa Belanda disekolah S.K.G. jang terseboet. Dengan pertolongan Allah tamatlah pengadjaran jang seorang dengan beroleh soerat idjazah (diploma) jaitoe Kahar Masjhoer, tetapi jang seorang lagi mendapat sakit, dan meninggalkan doenia di Kota Gedang (Roestam).

Ketika Kahar Masjhoer sampai di Kota Gedang ia ada meminta pada pengetoeha Studiefonds soepaja ia djangan mengadjar disekolah Studiefonds karena ia akan djadi goeroe di sekolah Goebernemen di Solok; tetapi hal itoe tidak di izinkan oleh pengetoeha S.K.G. dalam pada itoe ia terpaksa meneroeskan mengadjar di sekolah S.K.G.

Tetapi meskipoen demikian Kahar Masjhoer tadi dari boelan keboelan dan dari tahoen kelain tahoen selaloe memindahkan moerid2 sekolah S.K.G. ke sekolah Goebernemen Boekit Tinggi, Pajakoemboeh, Solok, Padang, hingga moerid2 jang bermoela waktoe memboeka sekolah kira2 200 orang banjaknja, maka dalam tahoen ’15 moerid tadi tinggal 50 orang lagi. Oleh sebab itoe diangkatlah toean G. de Waal van Ancheveen mendjadi goeroe kepala di sekolah Studiefonds, dan goeroe2 dilarang memindahkan moerid sekolah S.K.G. ke sekolah Goebernemen; soedah itoe baroe moelai koerang moerid2 jang pindah, tetapi masih ada djoega seorang seorang sampai pada tahoen ’17; kemoedian Kahar Masjhoer poen laloe meminta berhentilah.

Oleh karena dari tahoen kelain tahoen banjak kanak kanak jang pindah begitoe maka moerid jang tinggal dikelas tinggi tidak berapa orang lagi dan jang tinggal poen koerang tjakap poela sebab jang mendadi seri (pati) di kelas itoe soedah mendjadi moerid di sekolah H.I.S. Goebernemen sampai ia diambil oleh Goebernemen mendjadi pegawai negeri karena mereka kelihatan pandai dan tjakap dalam sekolah; hingga karena itoelah sadja agaknja anak’nda hendak berniat hendak pindah kesekolah Goebernemen sebab kanak-kanak (moerid sekolah S.K.G.) jang melaloei H.I.S. Goebernemen banjak lebih pandai dari moerid S.K.G.; hingga anak’nda soedah mendjadi beringin poela hendak meninggalkan sekolah S.K.G. masoek sekolah Goebernemen dengan pengharapan soepaja djadi pandai poela seperti moerid S.K.G. jang telah terdahoeloe itoe.

Oleh karena itoelah sadja agaknja anak’nda djadi tergila-gila hendak pindah kesekolah Goebernemen, djadi pekerdjaan itoe tjoema meniroe-niroe pekerdjaan orang jang terdahoeloe, atau soedah mendjadi “biasa” sadja alias hoeroe-hoeroe. Apa perloenja anak’nda hendak pindah kesekolah Goebernemen? apakah matjam dan boekoe peladjaran jang dipakai disekolah S.K.G. itoe tidak sama?

Ataukah moeird-moerid disekolah Studiefonds itoe tidak boleh mentjapai kepandaian jang lebih landjoet? atau bagaimana? ataukah disekolah Goebernemen sadja orang boleh djadi pandai? Heranlah ajahanda memikirkan hal itoe, karena kemaoean anak’nda itoe tjoema karena meniroe-niroe sadja, alias tidak dipikirkan melarat dan moefa’atnja lebih dahoeloe, sebagai pantoen orang:

Kambing bakala djawi tidak
batjamat laloe kemalako
awal dikenal achir tidak
alamat badan binaso

Lain perkara kalau pindah ke sekolah jang lebih tinggi seperti Kweekschool, Cultuur dan landbouwschool dll.

Pada pikiran ajahanda ada hendak menoelis jang lebih pandjang; tetapi oleh karena Post akan ditoetoep terpaksalah ajahanda memendekkan; insjallah lain hari ajahanda hendak menerangkan tentang baiknja bersekolah di S.K.G., sekarang tidak ada waktoe lagi sebab katerangan itoe haroes memakai dalil jang pandjang soepaja anak’nda boleh dapat memahamkan.

Lain chabar baik sadja.

dari ajahanda

(W.G.) A.L.S. Marah Alam

Sumber: Soeara Kota-Gedang Tahoen ke V/November 1920/No.16

Salinan soerat kiriman Soetan Marah Alam Tuesday, May 19 2009 

Salinan soerat kiriman Soetan Marah Alam No. 1

(Dipetik oentoek Sr.K.G. goena tjermin perbandingan)

Weltevreden 1 Januari 1920

Anak’nda Latifah!

Dengan soerat jang setjarik ketjil ini ajahanda mengabarkan pada anak’nda, bahwa soerat2 anak’nda semoeanja tidak ada jang tidak sampai ke tangan ajahanda, begitoepoen jang terkirim baroe2 ini, segala isinja ajahanda soedah ma’loem belaka.

Membatja soerat anak’nda jang paling achir ini, ajahanda makin djadi terperandjat karena anak’nda mengatakan besar pengharapan akan dapat pindah dari sekolah Studiefonds ke sekolah Goebernemen, karena itoe ajahanda hendak menoelis soerat ini dengan lebih pandjang.

Anak’nda, mendengarkan anak’nda tidak dapat pindah ke sekolah Goebernemen itoe,ajahanda amat besar hati ; kebesaran hati ajahanda itoe boekan sebagai doea bagai, karena kaboellah segala tjita-tjita ajahanda serta segala pemoeka bangsa kita.

“Apakah tjita-tjita itoe?” Tanya anak’nda agaknja. Anak’nda dengarlah baik-baik!

Adapoen sekolah Studiefonds jang ada di Balai Tjoemano itoe didirikan dengan Oesaha dan Kapitaal ninik mamak kita, artinja dengan pendapatan jang terbit dari pikiran ninik mamak kita ; pendeknja titik keringat ninik mamak kitalah jang pendirikan sekolah dan perkoempoelan S.K.G

Anak’nda tentoe soedah ma’loem apa goenanja, sekolah S.K.G didirikan, ja’ni tempat menoentoet berbagai2 kepandaian boekan.

Tjoema jang beloem anak’nda ketahoei ja’ni dimana dan apa perloenja orang pandai.

Karena anak’nda soedah ketahoei, tentoelah anak’nda ta’kan bergiat hendak pindah ke sekolah H.I. S. Goebernemen. Dan tiadalah akan ter tjoepoer dari moeloet anak’nda mengatakan: ” Masih besar pengharapan hendak pindah dari sekolah Studiefonds itoe, karena pikiran anak’nda bahwa kepandaian itoe tjoema boleh didapat di dalam sekolah Goebernemen sadja, sedang di sekolah H.I.S kepoenjaan Studiefonds tidak akan dapat.

Sekarang ajahanda hendak mengabarkan pada anak’nda tjoema hal jang penting lebih dahoeloe akan djadi permoelaan kata.

Dahoeloe tatkala orang Belanda baharoe datang di Sumatra Barat, maka orang kitalah jang lebih dahoeloe berdjinak-djinakan dengan dia; djadi orang kitalah jang terboeka mata lebih dahoeloe dari orang lain, karena itoe poelalah orang kita jang diadjar oleh orang Belanda menoelis membatja, sebab itoelah orang kita jang banjak diambil akan mendjalankan kemaoean kompeni dan Goebernemen seperti; djadi goeroe, djadi djoeroetoelis, djaksa, manteri dll, diantaranja ada jang djadi goeroe di Normaal School Boekit Tinggi dan Dokter Djawa.
Setelah Goebernemen memboeka sekolah Belanda, maka banjaklah kanak2 orang kita jang diambil djadi moerid sekolah itoe ja’ni akan diteroeskan masoek sekolah Docter di Betawi; diantaranja banjak jang sampai mendjadi. Kemoedian setelah beberapa lamanja poela, ja’ni sesoedah orang lain menjoekai poela, maka tempat jang terloeang tadi moesti dibagi rata-rata dengan orang2 lain negeri karena orang itoe anak ra’jat Goebernemen djoega akan diadjar seperti orang kita djoega.

Hingga karena itoelah boeat memasoeki sekolah Belanda pada beberapa tahoen jang telah laloe bertambah lama bertambah soekar, apalagi tempat jang terloeang itoe tidak dilebarkan dari biasanja.

Itoelah pangkal jang pertama sekali makanja ninik mamak kita mendirikan Kinder Vereeniging Julius ja’ni akan pendidik kanak2 jang disediakan oentoek mendjadi moerid disekolah Belanda.

Oleh karena segala kanak2 orang kita amat menjoekai, maka madjoelah perkoempoelan itoe hingga dapat sokongan dari mana2. Lama kelamaan laloe didirikanlah jang lebih besar ja’ni Studiefonds ini jang memakai kapitaal besar.

Kalau anak’nda ada melihat dan memperhatikan ratap tangis seorang iboe ketika anaknja ta’ diterima disekolah Belanda waktoe kira-kira 15 tahoen jang telah laloe, apalagi ketika beberapa moerid sekolah Belanda Boekit Tinggi jang bangsa Melajoe dikeloearkan oleh goeroe sekolah dengan mengatakan bahwa moerid bangsa Melajoe soedah lebih banjak bilangannja dari bangsa Belanda, maka ta’ dapat tiada anak’nda akan menaroeh dendam dalam hati seraja berniat kalau anak’nda soedah djadi besar nanti hendak mendjadi seorang pemoeka ra’jat sebagai toean-toean Hadji Agoes Salim, Tjokroaminoto, Abdul Moeis, Tjipto Mangoen Koesoemo, Soeardi Soerjaningrat dll. Ja’ni akan bekerdja memboekakan pintoe dan djalan jang akan ditempoeh oleh anak kemanakan dan bangsa anak’nda karena anak-anak bangsa kita amat sedikit diberi tempat oentoek meningkat pengetahoean jang lebih landjoet.

Samboengan akan datang

(W.G.) A.L.S. Marah Alam

Sumber: Soeara Kota-Gedang Tahoen ke V/No.15/November 1920

Een Groote Ramp op Kota Gedang Monday, Apr 27 2009 

Bahaja kebakaran jang hebat dinegeri kita.

Tiga roemah besar dan rangkiang jang penoeh berisi padi mendjadi aboe. Enam djiwa mendjadi korbannja dan seorang loeka parah.

Sedjak bermoela poeasa di Boekit Tinggi oedara kering, sang matahari memantjarkan sinarnja dengan tidak terhingga. Sampai 8 hari poeasa demikian halnja, ketika akan masoek kesembilan hari poeasa, maka moelailah toeroen hoedjan. Itoepoen tiada berapa lebat poela. Selama panas hati anak negeri selaloe berdebar-debar, berdebar karena takoet akan bahaja api.

Bagaimana djoega orang kampoeng berhati hati dengan api, roepanja beloem tjoekoep lagi, karena selama poeasa dibahagian Agam ta’ koerang dari 3 bahaja kebakaran, seperti di Tarok, di Garegeh dan jang ketiga atau jang maha besar dan maha hebat sekali soedah terdjadi di kampoeng Kota Gedang dinegeri kita.

Bagaimana tjeritanja, adalah sebagai dibawah ini:

Pada petang Arbaa malam chamis atau tanggal 20 masoek 21 Januari 32, telah terdjadi bahaja api di Kota Gedang pada kira kira djam 12.

Pada ketika itoe Boekit Tinggi, karena hari dalam poeasa malamnja soenji sadja, sebab orang soedah berboeka, barang tentoe masih tinggal lagi diroemahnja akan melepaskan lelahnja, sebab soedah kekenjangan; tambahan lagi sedjak soedah berboeka hoedjan toeroen sebentar sebentar membasahi boemi menambah malasnja hati hamba Allah akan meninggalkan roemahnja. Tetapi ketika poekoel 12 sedang orang akan masoek tidoer setengahnja sedang njenjak tidoer, tiba tiba terdengar boenji lontjeng berbalas balasan.

Orang berhamboeran menoedjoe djalan besar, serta bertanjaan kepada orang nan laloe dimana gerangan bahaja itoe? Sekalian melihat arah kesebelah barat dan tampaklah langit, walaupoen dilipoeti awan dan kaboet jang tebal, asap naik ke oedara dan langit merah, dan boenga api beterbangan. Melihat hal ini njatalah kebakaran itoe tak djaoeh dari Boekit Tinggi dan sebentar lagi berlarianlah orang mengeloearkan pompa. Pompa mesin gemeente keloearlah serta dilarikan oleh auto menoedjoe ketempat perhentian auto, dekat djam gedang, disana dapatlah keterangan, bahasa api itoe di Koto Gedang, hari pk 12.15.

Anak pompa, serta politie semoeanja menoedjoe Kota Gedang. Sampai disana njatalah, bahwa anak negeri telah berkeroemoen pada tempat jang berbahaja itoe. Kampoeng jang selama ini kelam sadja, sebab kebesaran api telah terang tjoetja, seperti disinari lampoe zoeklicht jang besar.

Anak negeri jang tiada berapa bilangannja itoe telah bekerdja mati matian menolong menolak bahaja jang besar itoe. Tetapi bagaimana djoega mereka itoe bekerdja, bahaja jang besar itoe ta’lah moedah disingkirkannja. Api itoe makin bersimaharadjalela djoea. Sehingga dalam sedikit tempoh sadja, tempat itoe soedah mendjadi laoetan api.

Dimana benar gerangan api memakan?

Ja, soepaja pembatja djangan lama betoel mentjahari dan menerka, marilah pen. bawa pembatja sekalian ketempat jang berbahaja itoe. Pitjing dan pedjamkanlah mata e.e. sebentar, dan kita berdjalan dengan pikiran kita arah ke Hilir. kalau kita dari Tapi berdjalan, sampai disoerau Hilir, masoek kita kedalam, dan tiba kita disimpang tiga. Sesimpang ke parak tinggal dan sesimpang lagi ke Laboeh Gadang dan kita toeroetkan djalan ini, kita mengelok dekat laboeh itoe dan teroes kita berdjalan menoedjoe djalan ke Tjatjang. Sampai disini ta’ oesah kita berdjalan lagi karena perdjalanan kita telah sampai kepada tempat bala itoe. Dekat roemah perempoean si Rohana, sebelah kirinja berdirilah seboeah roemah pandjang jang tak koerang dari 9 roeang pandjangnja. Inilah roemah dari perempoean Raha isteri dari Dt. Maharadjo atau roemah perempoean Lilah perempoean St. Malenggang atau roemah orang toea dari engkoe Palin Soetan Alamsjah, Assistent Wedana Pajakoemboeh. Disinilah api itoe bermoela, jang meniwaskan 6 djiwa manoesia dan seorang loeka parah dan 3 roemah serta seboeah rangkiang mendjadi aboe, mendjadi oempan api.

Jang tinggal didalam roemah ketika bahaja itoe terdjadi, adalah terdiri dari perempoean Lilah serta soeaminja, dan perempoean Raha, serta anaknja Fatimah dengan soeaminja Sahar, serta empat orang anaknja jang masih ketjil ketjil seperti Hanifah, Junidar, Sjahriza dan Ishak.

Chabarnja konon pada djam setengah doea belas engkoe Sahar soeami dari Fatimah baroe sadja kembali dari soerau, tetapi tiada berapa lama antaranja, maka memekiklah orang dari dalam roemah itoe meminta tolong serta meneriakkan…,api !!..api !!

Pekik ini roepanja kedengaranlah oleh orang jang berdjaoehan, sehingga dengan sekedjap sadja berhamboeranlah orang keloear roemahnja dan dilihat langit telah merah. Semoeanja berlarian menoedjoe tempat itoe. Dan ketika orang sampai keroemah terseboet, roemah itoe soedah merah oleh tjahaja api. Api boekan main besarnja, sehingga oentoek menolong roemah itoe ta’ dapat lagi dipikirkan. Kata si penglihat api moela moela memakan loteng roemah itoe. Boleh dikatakan sepandjang boeboengan atap itoe telah dihinggapi api. Dan dari atas api itoe toeroen kebawah. Orang jang poenja roepanja ta’ dapat lagi berkemas karena dalam sekedjap sadja api itoe telah mendjadi besar dengan boekan boeatannja. Sehingga keloear sadja soesahlah bagi jang empoenja. Kata orang engkoe Soetan Malenggang dapat djoega keloear dari djendela dengan djalan melontjat, dan isterinja Lilah sampai kepintoe djendjang, tetapi badannja telah ditoeroeti oleh api, dan pakaian jang lekat dibadannja telah menjala,  sehingga dengan pertolongan menantoenja Sahar jang telah lebih dahoeloe keloear dari djendela biliknja, didoekoengnjalah mertoeanja keloear djendjang karena api jang dibadannja amat panas, terpaksa poela ia melepaskan kembali. Kemoedian datanglah orang banjak, dengan bersama sama ditolonglah biai Lilah tahadi. Api dibadannja telah memakan segala kain jang lekat padanja. Orang membawanjalah ketempat jang sedjoek dan dingin, serta diselimoeti dengan kain saroeng.

Soeaminja jang melompat dari djendela itoe ta’ koerang poela dapat serangan dari api itoe, tangan dan kakinja habis terbakar, serta moekanja merah, sebab kena singa api. Setiba dibawah ta’ dapat ia bergerak lagi.

Sehingga dengan pertolongan orang datang dibawa oranglah dia ketempat jang dingin. Kemoedian ia dibawa keroemah saudaranja di Pisang, disana di baroet oranglah ia dengan minjak.

Engkoe Sahar jang melontjat dari djendela oentoenglah tiada apa-apa sesampai ia dibawah dapat djoega ia menjamboet anaknja jang laki-laki nama Ishak dan dibawanja ketempat jang aman.

Ketika ia hendak naik kembali, bertemoelah ia dengan biai Lilah, dan ditolongnja poelalah. Tetapi akan masoek sekali lagi ta’ dapat ia lagi, karena api telah memakan lantai serta dinding roemah.

Orang bertambah ramailah ditempat itoe, semoeanja orang kita belaka baroe serta 3 orang veldpolitie jang baroe kembali ronda dari Sianok. Karena roemah itoe ta’ moengkin ditolong lagi, hanja roemah jang sebelah lagi jang akan didjaga, maka semoeanja bekerdjalah menebang batang pisang serta mempersandar2kannja pada roemah sebelah menjebelah. Seperti sebelah ke Tjatjang jaitoe berdiri roemah biai Dingin dan dimoekanja roemah perempoean Rohana.

Sebagaimana dapat ditolonglah menjiramnja dengan air diember.

Api semangkin besar djoea sehingga meroeak keroemah jang sebelah bawah jaitoe roemah perempoean Tinoen, saudara dari goeroe Jasin di Simpang Tonang. Roemah mana masih baroe lagi, dan beloem soedah benar, toekangnja masih boleh bekerdja djoega lagi, dapat poela disambar api.

Orang jang beroemah pada keliling tempat itoe berkemaslah, serta membawa hartanja, mana jang dapat didjindjing  dan mana jang dapat dikepit dikepit, keloear roemah. Sebab takoet, kalu kalau api meroesak kekiri atau kekanan poela.

Dalam pada itoe jang berwadjib soedah habis datang seperti toean Controleur, san beberapa toean Commissaris lengkap dengan politieopziener dan veldpolitie. Begitoe djoega dari pihak Inl. Ambtenaar, seperti engkoe Onderdistrictshoofd telah lebih dahoeloe berada ditempat kebakaran itoe serta beberapa engkoe engkoe lain jang mengoeroes pompa poen telah ada.

Tetapi karena api maha besar dan hebat meroeak kesebelah kiri keroemah perempoean Bainsjah. Dan dalam beberapa minit sadja roemah itoe soedah sama datar dengan tanah.

Ketika api memakan roemah jang pertama dapat poela ia mendjilat loemboeng padi besar, kepoenjaan biai Raha dan Lilah, jang berdiri dimoeka roemahnja dan seleret dengan roemah Rohana.

Orang kita melihat hal keadaan itoe bersama2lah mendjoekangkan loemboeng terseboet kearah roemah jang hangoes dengan djalan demikian terhindarlah api keroemah perempoean Rohana.

Dalam tempoh koerang lebih 15 menit 3 roemah dan satoe loemboeng telah sama datar dengan tanah. Pompa hanja mendapati api telah memakan dibawah sadja lagi. Roemah jang berdekatan, seperti disebelah atas roemah biai Dingin adalah ta’ sebagai djoea. Dimoekanja roemah per. Rohana demikian djoega. Roemah Rapiah dimoeka roemah si Tinoen djoega ta’ disentoeh api, begitoe poela dengan roemah si Sitti jang berdiri dimoeka roemah si Bainsjah, sjoekoerlah semoeanja terhindar dari malapetaka itoe.

Itoe semoeanja atas pertolongan Illahi djoea dan atas oesaha orang2 jang menolong, sebab dengan tidak bertoelang lemah telah sama2 beroesaha menghindarkan bahaja itoe.

Engkoe Sahar hilir moedik berdjalan mentjahari anaknja jang bertiga dan isterinja dan mertoeanja karena kelima orang ini beloem nampak2nja olehnja lagi sedjak ia toeroen dari roemah. Orang banjak toeroet poelalah mentjahari keroesoek kebelakang roemah terseboet, kalu2 merekaitoe lari karena ketakoetan, ta’ keroean lagi jang ditoedjoenja. Keroemah kaoem kerabatnja jang berdjaoehan dan berdekatan ditanjakan dan disiasat kalau2 kelima orang itoe ada datang keroemahnja melarikan diri. tetapi segala2nja itoe sia2 belaka.

Mendengar sekian orang ta’ bertemoe maka jang berwadjib memerintahkan akan memoedoeri api pada tempat ketjilakaan itoe semati-matinja benar, akan melihat benarkah orang itoe hilang atau terbakar.

Pada djam setengah doea kedoea orang jang loeka2 karena terbakar itoe dikirimlah oleh jang berwadjib keroemah sakit Militair Boekittinggi dengan diantar kaoemnja berangkatlah kedoeanja dengan vracht-auto.

Dalam pada itoe diketoeklah telefoon ke Pajakoemboeh manjoeroeh engkoe Palin poelang.

Tempat ketjelakaan itoe penoehlah dengan orang. Banjak orang datang menolong, dan tentoe ta’ koerang poela jang datang dengan niatan jang boeroek, tetapi pendjagaan politie amat rapi, sehingga ta’ mengchoeatirkan lagi.

Djoega dari tempat bahaja itoe, disini sana beronggok2lah barang2 jang dapat dilarikan dari roemah jang berdekatan serta dikelilingi jang empoenja, dan ditemani oleh karib baid jang datang melihat. Semoeanja menangis mengoengoe2, karena takoet akan bahaja, takoet akan keroegian.

Pada roemah pertama atau roemahnja biai Raha dan Lilah, tidaklah sebagai djoega jang dapat tertolong semoeanja hangoes mendjadi bara. Pada roemah jang kedoea atau roemah si Tinoen, hanja jang keloear kain dibadan sadja, demikian benarlah tjepatnja api berpindah, pada roemah jang ketiga atau roemah si Bainsjah adalah djoega sedikit keloear barang tentoe jang dapat dibawa lari dan diangkat, jang berat soedah tentoe soedah mendjadi oempamanja api.

Kedoea perindoean jang kemoedian ini menangislah tersedoe2, melihat roemah tangganja, harta bendanja jang dikoempoelkannja selama ini dari sedikit kesedikit dengan sesoesah pajahnja poela, dilihatnja dengan sekedjab, mata menghilang dari padanja, hilang mendjadi bara. Bagaimana sedihnja barang dapatlah e.e. menerka. Kedoea familie itoe kehilangan tempat diam, betoel ada familinja, tempat menompang, barang tentoe kedoeanja akan berniat hendak hidoep diroemahnja sendiri poela kelak.

Sedjak semoela api makan, hari oentoenglah tiada berangin, karena kalau berangin poela tak tentoelah berapa besarnja bahaja jang akan menimpa Kota Gedang. Dan sebentar2 toeroenlah hoedjan. Pada djam 2 moelailah hoedjan itoe lebat sedikit, kemoedian tedoeh poela kembali.

Pompa jang menolong doea boeah, jang pertama dibawa oleh pandoe2 H.W dan El Hilal, dan kemoedian oleh anak pompa sendiri. Sejak setengah doea dimoelai menjiram tempat itoe. Air bergoena bagi pompa itoe moela2 diambil dari loeboek kemoedian dari air katjik. Setengah empat selesailah pekerdjaan itoe. Dan orang banjak moelailah oesai, karena bahaja tidak begitoe mentjemaskan lagi. Tambahan lagi waktoe oentoek makan poeasa soedah tiba poela.

Pompa jang seboeah baliklah ke Boekittinggi. Dan pada siang harinja njatalah bahasa orang jang tiada bertemoe itoe telah terbakar hidoep-hidoep. Didalam api didapatnja kematiannja. Chabarnja kelima lima majat itoe mati berdakatan didalam bilik, dibawah tempat tidoer. Majat ta’ dapat kita katakan lagi, karena jang tinggal ialah toelang2 kerangkanja lagi. Tetapi semoeanja itoe masih dapat dikenal lagi pada barang emas jang didapat pada majat itoe seperti gelang, rantai leher, soebang2 mas serta peniti jang didapat disana. Setengahnja soedah hantjoer setengahnja masih baik lagi.

Dihadapan jang berwadjib setelah majat itoe dikenal semoeanja, maka disoesoenlah didjadikan doea oesoengan serta dikapani sekali, dan dibawa kesoerau hilir.

Orang meneroeskan mentjari barang jang ta’ dapat dikeloearkan, karena banjak barangnja jang berharga jang mendjadi aboe. Segala jang moedah dimakan api tentoe aboenjalah jang akan tinggal. Dan barang mas dan perak tentoe akan tinggal djoega. Sebab itoe hanja orang berkepentingan sadjalah jang diizinkan menempoeh dan mentjahari barang terseboet pada peroemahan tadi. Kerdja ini diteroeskan sampai tengah hari.

Engkoe Palin pada djam 4 sampailah di Kota Gedang, bagaimana perasaan hatinja ketika ia melihat roemahnja dan kaoemnja tiada berdjiwa lagi, barang tentoe akan dapat engkoe2 rasakan.

Pada djam 6 dapatlah chabar dari roemah sakit bahasa biai Lilah telah meninggal lagi pada djam 5 pagi disana karena loeka2nja sebab terpanggang itoe. Keloearganja jang perempoean berlarian poelalah keroemah sakit, dengan maksoed akan membawa poelang.

Orang2 kita jang berada di Boekittinggi baik laki2 dan perempoean datanglah melihat keroemah sakit. Kemoedian atas sepakatnja kaoem familienja, diselesaikanlah biai Lilah di Boekittinggi. Djadi dimandikan dikapani dan disembahjangkanlah sekali, kemoedian poekoel setengah sebelas dibawaklah dengan auto poelang, serta diboedjoerlah disoerau hilir bersama2 dengan jang meninggal diroemah.

Pada malam itoe dan paginja hari chamis petjahlah chabar dan berita bahaja dan bentjana apalah jang telah terdjadi di Kota Gedang. Semoeanja datang ke Kota Gedang akan melihat akan menentoei, bagaimana besarnja bahaja itoe. Setengahnja datang mendjangoek, setengahnja datang menoendjoekkan doekatjitanja kepada familie jang telah ditimpa kemalangan itoe.

Orang kita jang berhampiran seperti Pajakoemboeh, Padangpandjang, Batoesangkar dll, poelang belaka.

Hari itoe dan besoknja berbojong2 dan berdoejoen2 orang datang kenegeri kita ta’ oebahnja dengan orang pergi kepekan satoe roepanja.

Engkoe2 ambtenaar ta’ koerang poela jang datang mendjangoek engkoe Palin seperti toeankoe Demang, Onderdistricthoofd, Djaksa dll dari Boekittinggi, dan dari loear, semoenja menoendjoekan kesedihannja akan orang jang ditimpa mara bahaja itoe.

Pada djam setengah doea atas 3 oesoengan dikoeboerkanlah djenazah itoe kepandam pekoeboerannja dibalik kota serta diiringkan oleh beratoes2 handai tolan dan sahabat kaoem nan meninggal.

Pada malam kebakaran itoe terdjadi segala orang kita nan dikota Boekittinggi habis poelang mengedjari negeri dan kampoeng kita, ada jang berauto dan ada poela jan berdjalan, sebabnja semoeanja menaroeh tjemas belaka, karena roemah dinegeri kita kebanjakan ta’ beroeni djadi kalau kita ta’ sama2 poelang barang tentoe akan besar poela bahaja nan akan terdjadi, sebab laki2 kita nan dikampoeng kebanjakan soedah oezoer, ta’ koeat lagi berdjalan malam.

Melihat bahaja nan diatas itoe kalau kita taksir kasar sadja harga roemah serta perkakas jang ta’ ketolongan tak koerang 20,000. Bilangan itoe kalau diselidiki benar, akan lebih dari itoe, sebab berapa barang nan hangoes sadja. Berapa koffer dan peti kain nan mahal2 dan haloes nan mendjadi aboe, berapa banjaknja nan mendjadi handtjoer seperti tjawan pinggan koersi medja, almari dengan isinja jang mahal2. Seloemboeng besar padi dan beras. Pendeknja kalau diseboet akan pandjang djadi kita taksirlah sendiri2. kekajaan jang sekian banjak ta’ lah pekerdjaan sehari atau doea ta’ dapat dikoempoelkan dalam seboelan atau doea melainkan bertahoen dan bermasa lamanja maka djadi. Sekarang dengan sekedjap sadja hilang, kalau orang2 itoe koerang iman barang tentoe akan hilang ‘akalnja, sesat ingatannja. Tetapi marilah kita sama do’akan moedah2an dalam pertjobaan jang besar ini akan tegoeh dan tebal imannja. dan akan djadi batoe oedjian djoealah baginja bahaja ini sehingga menetapkan kepertjajaan dan kejakinannja kepada Allah.

Bahwa didoenia ini tiada jang tetap dan kekal, semoeanja kepoenjaanNja, dan pada ketika Ia hendak mengambil diambilnja demikianlah, pada kita tinggal oesaha dan ichtiar djoea.

Karena anak negeri kita ini serasa dan sesakit, sakit dan keloeh jang satoe ta’ hendak dilihatkannja sadja. Sebab diantara jang kebakaran itoe ada jang berada dan ada poela dengan kebakaran itoe segala jang dipoenjainja habis belaka. Dengan roemah itoe hangoes poelalah kekajaannja jang sedikit itoe.

Orang kita jang boediman dan dermawan telah meadakan Comite Penolong kebakaran Laboeh Gedang ini. Comite terseboet akan beroesaha bekerdja dengan djalan jang halal akan mengoempoelkan wang bagi kaoem jang kebakaran itoe, sehingga mereka itoe akan dapat memboeat pondok atau dangau tempat mereka itoe akan berlindoeng ketika panas dan bertedoeh ketika hoedjan.

Voorwaarts dat is een goede daatd! Sekarang terserah lagi kepada pembatja jang boediman lebih-lebih kepada orang Kota Gedang jang dermawan, djika lijst derma itoe datang boekakanlah banjak-banjak, soepaja kesoekaran jang diderita kaoem terseboet akan berobat hendaknja.

Sebab kalau tidak kita jang menbantoenja, kepada siapa lagi mereka itoe akan minta tolong.

Berita Kota Gedang dengan segala senang hati membantoe pekerdjaan ini dan djoega soeka menjampaikan segala matjam derma, besar ketjilnja kepada Comite terseboet.

Dan Comite inilah nanti jang akan meoeroes dan memboeatkan mereaka jang perloe di tolong itoe, roemah atau pondok dengan kekoeatan wang didapatnja dan dikoempoelkannja.

Pihak nan perempoean jang dinegeri kita soedah dimoelainja mengoempoelkan berasnja ketika melihat orang jang kebakaran ini.

Dan kaoem lelaki nan diroemah poen telah poela bederma besar ketjilnja agar berobat djoega hati jang loeka itoe.

Sekarang tinggal lagi kepada engkoe engkoe jang dirantau, soepaja sama-sama menjertai pekerdjaan jang moelia ini, agar berhasil baik.

Sekali lagi kita toeliskan siapa-siapa jang meninggal disini jaitoe biai Raha isteri dari Datoek Mahardja, dan sekarang beliau berada di Medan. Fatimah anaknja isteri dari Sahar, dan 3 orang anaknja jang perempoean Hanifah, Junidar dan Sjahrizar. dan biai Lilah meninggal diroemah sakit. Sampai kini engkoe M. Soetan Malenggang masih diroemah sakit lagi, menoeroet keterangan dokter loekanja tiadalah berbahaja benar.

Politie sedang bekerdja keras benar sekarang mentjahari asal-asal api itoe. Dan hasil pemeriksaan ini kelak akan kami kabarkan djoea dalam B.K.G.

Demikianlah bahaja jang telah menimpa kampoeng halaman kita. Berapa besarnja dapatlah kita terka, karena beloem pernah terdjadi hal jang sengeri ini; baik dimana sekalipoen.

Segala kaoem kerabat jang keroesakan ini, pada hari Djoemat malam poekoel 10 22/1-32, jang dari Medan soedah sampai diroemah.

Engkoe M. Soetan Malenggang jang sedjak hari Chamis di pelihara dan di rawat diroemah sakit militair, telah meinggal poela oleh sebab loeka-loekanja brandwonden padi hari Sabtoe pagi poekoel 11 23/1-32. Dan Djenazahnja dibawa dengan auto keroemah familinja poelang.

Sumber: Berita Kota Gedang Tahoen ke IV/No.1/Januari 1932

Next Page »